agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Anak Majikan Yang Masih Perawan Kukentot
Anak Majikan Yang Masih Perawan Kukentot

Anak Majikan Yang Masih Perawan Kukentot

CERITA DEWASA – Dodi, seseorang pribumi bertubuh kekar dengan muka ramahnya menyongsong seseorang gadis cantik bermata sipit yang keluar dari pintu gerbang sekolah. dengan ramah Mang Dodi membukakan pintu mobil mempersilahkan gadis cantik itu duduk didalam. Dengan hati-hati ia tutup pintu kembali, kemudian ia duduk di belakang kemudi.

“bagaimana sekolahnya non?? ” Mang Dodi ajukan pertanyaan sembari menyalakan mobil.

“uhh sebel deh mang Dod, cape, tadi saya.. dan lain-lain dstt dsttt”

Nidya sharing pada sopir kepercayaannya yang menengok kebelakang. dengarkan sharing dari Nidya. Memanglah telah lama mang Dodi bekerja di keluarga Nidya, sejak Nidya masihlah duduk di kelas TK kecil, mang Dodi telah mengantar jemputnya dari rumah ke sekolah serta dari sekolah ke rumah. Mata Mang Dodi melirik lihat paha mulus yang tersembul, harus sebagai lelaki normal mang Dodi menelan ludah yang membanjir lihat kemulusan paha putih yang mengkilap.

“pokoknya hari ini saya sebeeeeelll banget mang Dod, bete deh.. ” Nidya mengakhiri keluhannya.

“ya telah.. betenya janganlah lama-lama non, tidak baik…”

Mang Dodi menghadap ke depan serta mulai mencapai gas. Dengan mobil pajero sport mang Dodi mengantar Nidya pulang ke rumah dengan selamat. Seseorang jongos yang berjaga membukakan pintu besi yang berdiri dengan kokoh serta yang seseorang lagi repot berkiri kiri serta berkanan-kanan memandu mobil elegan itu. Nidya turun dari mobil lalu mengangguk ramah pada dua orang jongos yang menegur, Mang Dodi mengekori dari belakang ikuti Nidya masuk kedalam rumah elegan yang sepi dari yang namanya “keluarga”. Mata Mang Dodi nikmati goyangan pinggul Nidya. Masihlah terbayang waktu Nidya masihlah TK dahulu, ia kerap duduk di pangkuannya serta Nidya tertawa waktu mang Dodi menggelitiki serta mencubit hidungnya yang mancung. Masihlah teringat dengan terang waktu Nidya keluar telanjang buat dari dalam kamar mandi, Nidya kecil lari kepangkuannya serta menangis sembari berulang-kali tunjukkan bebek karetnya

Anak Majikan Yang Masih Perawan Kukentot

“mang Dod, bek mati.. hu hu hu”, mata mang Dodi melotot bukanlah ke arah bebek karet yang menciut tetapi melotot ke arah selangkangan Nidya kecil. jarinya akan menyentuh bibir vagina Nidya yang masihlah begitu suci. Mendadak seseorang wanita tua menerobos masuk membawa belanjaan.

“Ehh-um Ehemmmmmm” Mang Dodi salah tingkah lantaran Mbak Ijah nampak mendadak.

“Dodi kenapa non Nidya menangis?? anda apakan hah!! ” Mbok Ijah menyapa Dodi, matanya memandang berprasangka buruk.

“MBOKKKKKK… Bek matiiiiii….. ” Nidya lari kearah Mbok Ijah.

“Ohhhh, bebek.. mana sini, agar simbok liat…” Mbok Ijah meniup bebek karet yang menciut, Nidya tersenyum suka.

“Mang.. Mang Dod, mang Dod!! MANGGG!!! ” Nidya berteriak keras.

“Uhhh.. e- ehh iya non mengapa?? ada apa”

Masa lalu saat lantas Mang Dodi buyar saat itu juga, ia menguber ke arah kolam renang, agak keheranan mang Dodi lihat Nidya mematung berdiri pucat pasi, mang Dodi lari hampiri.

Mang Dodi “kenapa non?? kenapa…”

“i-i-itu mang.. itu…”

“yiahh si non, hanya beginian, mang Dod sangka ada apaan…” Mang Dodi mencomot ulat bulu di bahu Nidya.

“Uhhh…. “ Nidya bernafas lega.

“Nihh uletnya!! ” Mang Dodi pura-pura melempar ulat bulu ke arah Nidya

“Awwww… e-ehh mang bawa ke sana ah!! Yee mang Dod!! awas ya!! ” Nidya merengut, mang Dodi tertawa.

“mang beliin air kelapa dong…” Nidya keluarkan duit dari dompetnya.

“iya…, namun traktir ya…” goda Mang Dodi cengengesan.

“Iya.. pokoknya beres…” Nidya tersenyum.

“Asikkkkkk….. terima kasih non…, Non Nidya memang paling baek dah” Mang Dodi memberikan pujian pada.

“udah, tidak usah nge-gombal, sebel…GPL ya” Nidya tersenyum manis.

“beres Nonnnn…” Mang Dodi menjawab serta selekasnya lari.

Di tepi kolam renang, dua kursi mengapit satu meja bunda dengan satu payung yang menaungi. Sesaat ditempat yang teduh berjajar kursi enjoy panjang. Di situlah Nidya duduk bersantai melepas kepenatan diatas kursi enjoy panjang. Matanya yang sipit terpejam, tangan kirinya menarik rok seragam abu-abunya ke atas, tangan kanan menyusul masuk kedalam kain segitiga kecil berwarna putih bersih.

“ohhh mang Dodddd…. ”

Bibirnya mendesis waktu angan membawa Nidya menuju satu tempat memikirkan enaknya kecupan mang Dodi. Dalam khayalnya, Mang Dodi begitu lugu sedang Nidya sendiri sangat liar sampai mang Dodi mengerang memohon ampun hadapi keliaran Nidya. Darah muda Nidya mendidih seliar angannya.

“Emmm….. ” badan Nidya mengerjat menahan nikmat.

“Ahh!! ”

Baca Juga : Diperkosa Karena Ceweknya Centil

Rasa Nikmat disusul dengan terperanjat. Mata sipitnya bertatapan dengan mata mang Dodi yang berdiri tercenggang, Nidya menunduk dengan muka merah padam, malu bukanlah main, untuk yang pertama kalinya mang Dodi memergokinya tengah bermasturbasi. Muka mang Dodi juga sama, merah padam lantaran nafsu yang mencapai puncak. Angannya kembali pada saat lantas waktu ia lihat Nidya kecil telanjang bulat serta lari ke pangkuannya. Mang Dodi tak tuli, beberapa terang ia mendengar Nidya mendesis memanggil namanya, tak perlu diragukan lagi, lelaki dalam khayal Nidya yaitu dianya. Sesudah menyimpan air kelapa diatas meja mang Dodi berlutut di samping kursi malas.

“Non Nidya…. ” dengan membulatkan tekad mang Dodi mengelus betis gadis itu

Lantaran tak memperoleh penolakan dari Nidya, mang Dodi makin berani, tangannya mengelus ke atas menyeka paha putih mulus. Reflek Nidya mengapitkan ke-2 pahanya waktu tangan mang Dodi menyeka paha sisi dalam.

“mang Dod…” Nidya merintih dalam gejolak darah mudanya.

Matanya memandang sayu pada mang Dodi yang merenggangkan paha mulusnya, nafasnya tidak teratur serta berat. Badannya yang masihlah pemula menggelinjang serta menghangat. Badan Nidya rebah diatas kursi malas dengan dua kaki yang mulus mengangkang lebar.

“ohhhhhh.. mang Dod…hhsssshh” sekali lagi Nidya merintih waktu mang Dodi menjatuhkan muka pada kain sisi tiga putih di selangkangannya.

Badan Nidya gemetaran seperti tengah meenjalani therapy listrik. Detak jantungnya berdegupan keras memompa darah untuk mengalir lebih kencang melepas nikmat serta nafsu yang pernah tertahan. Tangan Nidya membelai kepala mang Dodi. Ia menggigit bibir menahan desah yang nyaris keluar waktu lidah mang Dodi menyelusup lewat pinggir celana dalamnya. Aktif, lidah mang Dodi menggeliat-geliat.

“Achhh…! ” Nidya mendorong kepala mang Dodi yang lidahnya menoel bibir vaginanya.

“E-Ehhh mang Awww…” Nidya memekik kaget waktu mang Dodi menjabret celana dalamnya.

“Hussshhh janganlah keras-keras non…, kelak kedengeran loh…” Mang Dodi tersenyum mesum.

“ih Mang Dodi, maen buka aja…seenaknya” Nidya cemberut, ia bangkit sembari menarik rok seragamnya ke bawah.

“supaya lebih asyik non.., yakin deh sama mang Dodi.. ”

Mang Dodi menjatuhkan Nidya kembali pada atas kursi, tangannya menarik rok seragam Nidya dengan paksa ke atas. Mulutnya menguber belahan bibir vagina Nidya, gadis itu cemas menggeser-geserkan pinggulnya hindari mulut mang Dodi.

“ahhhhhhhh……m-mang Doddd…. Dhiiiii…ihhhh”

Badan Nidya lemas diatas kursi. Kecupan serta hisapan rakus mang Dodi bikin gairah darah muda Nidya kembali bergejolak, badan Nidya menggelepar serta melenting nikmati keagresifan mulut mang Dodi yang mencecar vaginanya.

“Aaaaa.. ahhhhhh….. ” Nidya mendesah

Cairan orgasmenya tumpah dalam mulut mang Dodi yang rakus mengisap-hisap vaginanya. Nidya merintih tidak berdaya, sampai kini dalam khayal memanglah dirinyalah yang liar serta mang Dodi yang lugu serta lemah tetapi pada faktaya malah demikian sebaliknya. Dengan Gampang mang Dodi memeras cairan vagina Nidya berbarengan dengan luapan kesenangan. Nidya tidak melawan waktu mang Dodi melepaskan seragam abu-abu dari pinggangnya. Cuma bra serta baju seragam yang membuat perlindungan kemulusan badan Nidya dari mata mang Dodi.

“Non Nidya cantik sekali.. ”

Mang Dodi membopong badan Nidya, dengan enjoy ia membawa Nidya masuk kedalam rumah, lantas menaiki anak tangga serta membawa nona majikannya masuk kedalam kamar. Sejak kematian Mbok Ijah satu tahun waktu lalu, situasi rumah jadi sepi. Nidya salah tingkah waktu mang Dodi mendudukkannya di pinggir ranjang sedang mang Dodi duduk di sebelahnya. Bibir tidak tipis mang Dodi menguber Bibir Nidya, dengan gampang mang Dodi merampas Ciuman pertama Nidya.

“Emhh…” Nidya menarik bibirnya, ia memandang sopirnya itu dengan mata sayunya waktu tangan kekar mang Dodi menanggalkan kancing pakaian seragamnya kemudian menarik ke-2 cup branya ke bawah

Sepasang buah dada indah tertopang oleh cup bra berwarna krem. Mata mang Dodi berbinar memandang nanar keindahan sepasang payudara Nidya, ia sudah jadi saksi tumbuhnya sepasang payudara indah di dada Nidya. Dada yang awal mulanya rata lalu mulai tumbuh serta selalu berkembang dengan indahnya dihiasi sepasang puting merah muda yang runcing. Sesudah melepas pakaian serta celana panjang serta celana dalamnya yang dekil, Mang Dodi berlutut dihadapan Nidya, ia mengusap-ngusap paha mulus Nidya yang mengangkang pasrah. Bibir mang Dodi melumat serta mengulum bibir Nidya, tangan kekarnya mengerayang menjelajahi lekuk liku badan Nidya yang menggeliut-geliut tidak dapat diam geli oleh rasa nikmat. Cumbuan mang Dodi merambat ke leher, pundak bahu serta mengecup ke arah buntalan buah dada samping kiri.

“mang…. ennnnnnnnhhh…mang Doddddddd” Nidya merengek manja.

Mulut mang Dodi kunyah puncak dada. Ke mana Nidya berupaya menarik dadanya ke situ juga mulut mang Dodi menguber. Tidak menginginkan ia melepas puncak buah dada Nidya dalam mulut, bahkan juga waktu punggung Nidya jatuh ke belakang, mulut mang Dodi selekasnya menguber buah dada yang akan melarikan diri dari mulutnya. Sembari selalu menekuni buah dada Nidya mang Dodi menggusur badan mulus Nidya yang menggeliat-geliat kegelian ke tengah ranjang.

“Aaaa. Aah!! hsssh nnnnnhhh” Nada desah tertahan serta rintih kecil memberi warna cumbuan-cumbuan mang Dodi yang makin panas

Butir-butir keringat meleleh memandikan dua insan tidak sama ras yang tengah asyik merajut jalinan terlarang. Menggelinjang badan Nidya di bawah tindihan badan kekar mang Dodi. Nidya yang berkulit putih mulus menggeliat resah merintih serta mendesah di bawah tindihan badan kekar mang Dodi yang meneduhinya.

“mmmm, hssh mang Dod.. ahhh…”

Nidya gelisah waktu rasakan desakan kepala kemaluan mang Dodi pada belahan vaginanya. Mang Dodi menepiskan tangan Nidya yang berupaya mendorong dianya, tak tahu mengapa ada rasa takut yang mencekam waktu Nidya lihat mata mang Dodi yang liar.

“Ahhh..!! ” desah kecil Nidya menemani tenggelamnya kepala penis mang Dodi.

Bibir vagina Nidya yang mungil memutari leher penis mang Dodi. Dari umur sudah pasti umur Nidya tambah lebih muda, dari warna kulit sudah pasti kulit mang Dodi lebih gelap dari kulit Nidya yang putih mulus, dari muka telah pasti muka beringas mang Dodi menang atas cantiknya muka Nidya. Sekali lagi mang Dodi mengutamakan penisnya dengan kuat serta Nidya mengerang. Tak tahu mampu atau tak vagina Nidya menyimpan batang di selangkangan Mang Dodi. Satu tusukan kuat menyusul serta Nidya mengaduh kesakitan, bibir vaginanya yang mungil sobek serta selaput daranya robek ditembus batang penis mang Dodi.

“Aduh mang Dod!! Aduh!! sakit! sakit mang Dod!! sakit!! ” tangan Nidya menggapai-gapai menahan pinggul serta dada mang Dodi.

“ENNNNNNNNNGGGHHHHHH..!!!! ” nada erangan Nidya terdengar keras waktu mang Dodi memaksakan semua batangnya masuk kedalam vaginanya

Selangkangan mang Dodi serta Nidya menyatu, bulu jembut mang Dodi bergesekan dengan bulu jembut Nidya. Nafas Nidya terdengar keras, matanya terpejam menahan sakit yang menyengat. Batang mang Dodi menyesaki liang vaginanya yang sempit peret lantaran baru kehilangan keperawanannya. Sampai kini belum pernah ada benda apa pun yang melalui liang senggamanya.

“ Non Nidya, memeknya enak sangat, sesungguhnya telah lama mang Dodi ingin nyolok memek Non Nidya, siapa kira hari ini Mang Dodi dapat mengerjakannya, yakinlah sama mang Dodi Non, sebentar lagi badan Non akan tersentak sentak keenakan he he he he” Mang Dodi menceracau menumpahkan isi hatinya.

“Hsssshhh ahh!! aduh mang.. hsssshhhh!! ” Nidya mendesis kesakitan, batang mang Dodi mulai menggenjot.

“Auw-hhh..!! ”

Berulang-kali mata sipit Nidya membeliak waktu mang Dodi membenamkan batangnya dalam-dalam. Nidya merinding dengarkan berangan mang Dodi, otot perutnya terasanya kram waktu batang penis Mang Dodi menusuk dalam. Kecupan serta lumatan gemas mang Dodi pada bibir Nidya yang merekah membuatnya makin kewalahan.

“Ahhhhh….. ”

Mata Nidya Nanar, ada rasa nikmat mengagumkan menyela rasa sakit yang mengigit. Untuk yang pertama kalinya ia rasakan denyut-denyut orgasme akibat sebatang penis yang menumbuki vaginanya, rasa-rasanya seperti jiwa lepas dari raga, melayang ke langit indah berhiaskan tangga pelangi.

“mang Dodddddd…. ahhh enak mangggg” erangnya

Nidya mulai meladeni kecupan serta cumbuan mang Dodi. Bibirnya menyongsong bibir mang Dodi, ke-2 tangannya memeluk badan kekar yang tengah giat bekerja menumbukkan batang penis kedalam vaginanya. Mang Dodi mencabut batangnya sampai lepas dari vagina lalu kembali mencoblos liang vagina Nidya. Lalu ditusuk-tusukannya penisnya dengan gencar pada liang yang becek itu serta dicabut lagi.

“ahhh, manggg.. janganlah digituin… mang dod.. ” Nidya merengek manja.

“abis mesti digimanain dong? ” Mang Dodi bertanya

Muka Nidya merona lantaran terangsang berat hingga memberi cantik berwajah.

“Ayo, Nidya katakan sama mang Dod, mesti digimanain. ” Mang Dodi berniat menggoda nona majikannya.

“emmm.. digituin mang…” Nidya tersenyum malu.

“digituin bagaimana yach? mang Dodi tidak tau tuch “ Mang Dodi tersenyum lebar.

“Ahhnnhh mang Dod jahat!! ” Nidya mencubit dada mang Dodi.

“ADOWHH…!! ” Mang Dodi mengaduh kesakitan.

“Hiaaaahhh…!! ” Nidya mengerahkan semua tenaga untuk mendorong mang Dodi.

“Eiiiiitttttt…”

Mang Dodi menangkap badan Nidya. Dua insan tidak sama ras itu bergulingan serta kembali bercumbu mesra seperti sepasang pengantin baru. Mang Dodi duduk di pinggir ranjang, Nidya berdiri memerhatikan batang perkasa di selangkangan sopir setianya. Mang Dodi menarik Nidya untuk berlutut dihadapan batang penisnya.

“Nah saat ini Nidya jilat kontol mamang ya” Mang Dodi mengarahkan Nidya.

“jijik mang.. ihhh…” Nidya masihlah jijik dengan batang mang Dodi.

“Loh mengapa mesti jijik, cobalah dahulu.. ayo…” Mang Dodi membujui Nidya.

“iii – ihhh ngak ingin ah, bau” Nidya menampik sembari tutup hidung dengan tangan.

“Ayo.. cobain… dulu…”

Tangan kiri mang Dodi menahan belakang kepala Nidya. Dengan bujuk serta sedikit paksaan pada akhirnya mang Dodi sukses menjejalkan kepala penisnya kedalam mulut Nidya. Sang sopir merem melek keenakan.

“Ayo dihisap non.. “ perintah Mang Dodi sembari membelai rambut Nidya.

“Emmm. Mmmhh.. ” Nidya tidak mengerti, mendadak ia suka pada bau penis mang Dodi, suka mengisap serta suka menjilat-jilat batang penis yang besar panjang.

Ada suatu hal didalam dianya yang menuntut pelampiasan dari kesepian serta kejenuhannya sampai kini. Dari sex pertama dengan sopirnya ini ia terasa memperoleh pelampiaskan atas semua rasa yang menggebu dalam dada yang membuatnya menginginkan rasakan lebih serta lebih lagi. Sesekali Nidya mengangkat muka cantiknya memandang mang Dodi yang tersenyum lalu ia kembali menunduk untuk bekerja mengoral penis itu. Dengan lembut lidah Nidya mengulas-ngulas kepala penis mang Dodi sebelumnya pada akhirnya mang Dodi menuntunnya untuk menempati batang penisnya dengan posisi badan Nidya memunggunginya.

“jangan takut Non.., dudukin saja.., nanti juga masuk…” Mang Dodi menarik pinggul Nidya untuk turun.

“sebentar mang, Nidya takut…”

1/2 mati Nidya menyatukan keberanian.

“rileks saja, anggap saja Non Nidya lagi duduk di pangkuan mang Dod, dahulu kan saat masihlah kecil non Nidya kerap duduk di pangkuan mang Dodi”

Mang Dodi mengecup punggung Nidya perlahan-lahan. Dengan hati sangsi Nidya menurunkan vaginanya. Mang Dodi menuntun Nidya untuk belajar memasukkan penis kedalam liang vaginanya.

“ih.. ”

Nidya mengangkat pinggulnya kembali waktu ujung penis mulai terbenam kedalam belahan vagina. Geli rasa-rasanya waktu kepala penis menjilat belahan vagina yang berlendir. Sekali lagi tangan Nidya mengarahkan kepala penis mang Dodi pada belahan vaginanya, kesempatan ini ia menahan rasa geli yang menggelitik waktu kepala penis membelah belahan vaginanya. Gemetar semua badan Nidya menahan sensasi nikmat waktu penis mang Dodi terbenam makin dalam.

“Ohh mang Dod…!! Mang Dod.. ”

Muka Nidya terangkat ke atas menahan nikmat. Vaginanya berkedutan serta meremas batang penis mang Dodi, dengan gerakan indah mengagumkan Nidya menggeliat, badannya mulai bekerja ikuti tips dari mang Dodi yang selalu mengajari sembari memainkan buah dada Nidya. Belum demikian lama Nidya menaik turunkan pinggul, ia merintih kecil, Vaginanya kembali berdenyut-denyut, rasa nikmat diawali dari daerah panggul lalu menebar ke semua badan moleknya yang berpeluh. Mang Dodi memeluk erat-erat badan Nidya yang tengah orgasme. Satu gigitan gemas bersarang di pundak Nidya meninggalkan sisa gigitan merah. Tanpa ada melepas pelukan dari badan Nidya, mang Dodi beringsut ke tengah ranjang.

“Ohhh!! ennnnhh aaaa.. Ahhhhh…”

Badan Nidya melambung turun naik diatas badan mang Dodi, sungguh indah buah dadanya terpantul di dada ikuti badannya yang melambung-lambung. Nada derit ranjang menemani nada nafas berat, desah serta rintihan Nidya dalam kamar, nada berang gemas mang Dodi sesekali terdengar di sela-sela aktivitas meluncurkan batang penisnya ke atas pada suatu lubang mungil sebagai tujuan bulan-bulatan penis besarnya. Muka Nidya seperti tengah menahan derita, tetapi sesungguhnya bukanlah derita yang tengah dirasa olehnya, ia tengah menahan rasa nikmat akibat sodokan-sodokan batang penis mang Dodi yang menghujam keras sampai merasa ke ulu hati. Bercak – bercak darah perawan menodai seprai putih. Berulang-kali Batang penis besar punya seseorang sopir bernama Dodi memetik kemenangan atas vagina nona majikannya yang keturunan Chinese bernama Nidya. Sebelumnya pada akhirnya penis besar itu isi liang vagina Nidya dengan sperma. Cuma nada nafas Nidya serta Mang Dodi yang terdengar memburu didalam kamar. Dengan satu handuk mang Dodi mengeringkan badan Nidya yang berpeluh. Nyaris tiga jam lamanya mang Dodi nikmati sempitnya vagina serta kemulusan badan Nidya. 1/2 jam lalu mang Dodi keluar dari dalam kamar meninggalkan Nidya yang termenung kebingungan. Pakaian piyama berwarna pink sembunyikan badannya dari ketelanjangan. Ayah serta Ibu Nidya baru pulang jam 6 sore tanpa ada terasa berprasangka buruk sedikitpun apa yang barusan berlangsung.
Sekian hari lalu, malam hari.

Pintu kamar Nidya di buka oleh seorang yang cuma kenakan sarung serta kaos oblong, orang itu tak lain yaitu Mang Dodi yang mengendap-endap masuk kedalam kamar nona majikannya. Dengan muka mesum ia mengunci pintu, diatas ranjang Nidya melihat padanya dengan muka yang bingung campur malu. Mang Dodi menggusur selimut yang membungkus badan Nidya, sesudah melepas sarung, kaos oblong serta celana dalam dekil, ia naik keatas ranjang meneduhi badan Nidya yang masihlah terbalut piyama berwarna pink.

“Mang Dod.. emmm…” Nidya mendesah menahan beban badan mang Dodi yang menindihnya,

Bibirnya menyongsong bibir mang Dodi, mesra keduanya berciuman seperti sepasang pengantin baru yang tidak sama umur serta ras di mana seseorang dari ras sebagian besar memangsa serta nikmati cantik serta mulusnya seseorang gadis ras minoritas. Satu untuk satu kancing pakaian piyama Nidya lepas, mata mang Dodi melotot lihat buah dada yang membuntal, padat serta kenyal merasa waktu mang Dodi meremas buah dada samping kiri.

“Emmmhh mang Dod…”

Nidya menggeliat – geliat resah, sesaat mulut mang Dodi makin rakus serta kasar mengisapi buah dadanya. Sesekali Nidya merintih rasakan gigitan-gigitan gemas mang Dodi pada putting susunya.

“Ah.. mmmmhhhh…”

Nidya menggeser-geserkan badannya, dimanapun badannya berubah kesitu juga kepala mang Dodi menguber buah dadanya. Sepasang buah dada Nidya yang ranum jadi bulan-bulanan mang Dodi, demikian ganas mang Dodi menciumi buntalan buah dada serta mengisap kuat puncak payudara Nidya, sesudah senang menekuni sepasang buah dada yang membuntal, mulut mang Dodi melumat bibir Nidya. Kemudian cumbuan mang Dodi merayap turun. pada leher, melalui belahan payudara, bermain pada perut serta pinggul serta selalu turun menguber punya Nidya yang paling peka.

“Ohh Non Nidya, indah sekali memek anda Non…”

Mata Mang Dodi memandang tajam pada belahan bibir vagina Nidya, bulu-bulu lembut menghiasi vagina Nidya memberi indah panorama di daerah kewanitaannya. Mang Dodi mengendus-ngendus aroma vagina Nidya.

“Unnhhh.. , aaa.. mang Dodddd.. mang Dodddd…” Nidya merengek waktu hembusan-hembusan nafas hangat yang memburu menimpa vaginanya

Nidya mengangkangkan ke-2 kakinya lebar-lebar seakan Nidya menginginkan memerlihatkan semua keindahan yang dipunyainya pada mang Dodi. Badan moleknya melenting menggeliat serta menggelinjang dengan indah waktu vaginanya jadi santapan mang Dodi yang rakus.

“Ussshhhh.. hssssshhhhhhhh… ahhhhhhh” mendadak Nidya mendesis serta mendesah panjang, perutnya mengejang serta cairan vaginanya meluap berbarengan kedut-kedut orgasme

Demikian indah badan Nidya terkulai di bawah sorotan lampu kamar, butiran keringat meleleh membasahi badan mulusnya. Nada desah tertahan sesekali terdengar diantara nada seruputan seseorang lelaki yang usianya tidak sama jauh dengannya.

“Mang Dod?? “

Nidya tidak tahu saat mang Dodi membalikkan badan mulusnya yang terkulai lemas serta mengikat ke-2 tangannya dengan memakai celana piyamanya. Kemudian mulut Nidya disumpal dengan memakai celana dalam dekil punya mang Dodi.

“Emmm!! ” Nidya berontak waktu mang Dodi menyelipkan penis pada belahan pantatnya, ke-2 tangan mang Dodi menghimpit pundak Nidya ia menunduk serta berbisik di telinga gadis itu.

“jangan berisik non, kelak kita ketahuan”

Bisikan mang Dodi nyatanya begitu efisien.

“hmmmm hmmmmmm”

Nidya berupaya menggelengkan kepala menampik hasrat mang Dodi. Nafas Nidya seperti orang yang tengah sekarat, matanya yang sipit membeliak, liang anusnya merekah diiringi rasa pedih serta perih yang tidak tertahankan waktu ujung kepala penis mang Dodi membongkar kerutan anusnya.

“Uhhh Nidya…peret banget bool mu Non…” Mang Dodi menceracau

Otot anus Nidya mengigit sekitar ujung penisnya yang tenggelam makin dalam. Dengan sekali sentakan kuat mang Dodi membenamkan kepala penisnya sampai otot nidya memutari leher penis mang Dodi. Kesenangan serta kesenangan untuk mang Dodi mesti dibayar mahal dengan kesakitan mengagumkan untuk nidya.

“Emmmmmm!!! mmmmmhhhh”

Badan molek Nidya mengejang kesakitan waktu batang penis mang Dodi memaksa masuk inchi untuk inchi. Pandangan Nidya mendadak gelap seolah akan jatuh pingsan tetapi rasa sakit tetaplah bikin kesadarannya terbangun dalam derita.

“Ehem, mang Dod sayaaaangg sama Nidya.. , telah janganlah nangisss… Telah masuk semua…koq…”

Mang Dodi tersenyum rasakan empuknya buah pantat Nidya bergesekan dengan sisi bawah perutnya. Batangnya yang panjang serta besar tertanam dalam anus Nidya. Mang Dodi menarik celana dalam dekilnya, melepas mulut Nidya yang tersumpal.

“urhh.. s-sakit mang.. s sakit sekali.. aduhhh…” Nidya mengerang waktu batang mang Dodi mulai bergerak seperti satu piston

Bisik rayuan-rayuan mang Dodi nyatanya tak mampu untuk membayar rasa sakit yang dirasa oleh Nidya yang terasa “dipermalukan” serta “direndahkan” serendah-rendahnya oleh mang Dodi. Tidak sama dengan apa yang tengah dirasa oleh Nidya, Mang Dodi terasa kesuperioran atas diri Nidya. Ego mang Dodi sebagai bawahan/sopirnya menyebabkan rasa bangga memangsa Nidya sebagai nona majikan serta berdarah Chinese. Secara teratur batang penis mang Dodi selalu bergerak memompa Nidya hinga senang. “Plooo—ppp” Mang Dodi mencabut penisnya, ia membebaskan mulut Nidya dari sumpalan celana dalam dekil punya seseorang sopir lalu menarik pinggul Nidya supaya gadis itu menungging dengan prima untuk permainan setelah itu. Ujung penis mang Dodi mencari – mencari belahan vagina Nidya. Sesudah di rasa cocok, perlahan-lahan mang Dodi menjejalkan kepala penisnya.

“Mmmmhhhh.. ” Nidya merinding kegelian, rasa sakit pada anus dibayar oleh sedikit rasa nikmat waktu ujung penis mang Dodi menembus serta mengocok-ngocok liang vaginanya.

Mang Dodi tampak saksikan mencecar liang vagina Nidya, serong kiri, serong kanan, menusuk dalam, serta mengocek. Dengan tuntunan dari mang Dodi, Nidya mulai belajar, waktu mang Dodi menusukkan batang penisnya, ia menekankan pinggulnya menyongsong tusukan penis mang Dodi. Untuk sekian kali tusukan keras Nidya masihlah bisa bertahan, tetapi untuk tusukan-tusukan selanjutnya badan Nidya mulai menggelinjang. Rasa nikmat berkedutan bikin kepalanya merasa enteng tetapi diluar itu Nidya terasa malu mendengar nada yang datang dari vaginanya. Risih waktu payudaranya yang bergantung terayun – ayun serta risih waktu buah pantatnya beradu dengan sisi bawah perut mang Dodi.

“mmmmhh emmmmh emmmhh…” Nidya menenggelamkan berwajah pada bantal.

Mang Dodi tersenyum, sebagai seseorang lelaki telah pasti mang Dodi takjub pada kecantikan Nidya. Terbayang olehnya muka cantik Nidya kecil yang lugu serta polos, sepanjang tujuh belas th. mang Dodi melihat dengan mata kepalanya sendiri perubahan Nidya kecil jadi seseorang gadis cantik bertubuh aduhai.

“Mang Dod.. Mang Doddddd…. ” Nidya merengek perlahan-lahan.

“Ya Non?? ” Mang Dodi menyahut.

“Pelan-pelan mang…” Nidya memohon mang Dodi memperlembut tusukannya.

“Segini Non?? ” Mang Dodi ajukan pertanyaan.

“He-emm.., hssssshhhh.. ohhhh mang Dod… enakk”

Tanpa ada sadar Nidya merintih keenakan waktu penis mang Dodi menusuk vaginanya. Demikian dalam serta lembut bikin Nidya meringis dalam getar-getar kesenangan yang berkedutan waktu cairan orgasmenya kembali tumpah.

“Unnnhhhhhh mang Dooood.. utsssss!! ” Nidya merengek manja waktu mang Dodi membalikkan badannya lalu menarik ke-2 kakinya yang mulus indah ke hawa.

Satu tusukan kuat bikin badan Nidya mengerjat, setelah itu badan Nidya terguncang ikuti helaan batang penis mang Dodi. Sedikit untuk sedikit mang Dodi tingkatkan ritme tusukan penisnya, helaan – helaan nafas berat terdengar penuhi kamar tidur Nidya. Ringisan Nidya mengeksploitasi sensualitas berwajah yang jelita. Nidya memandang mang Dodi yang repot menjejal-jejalkan batang penisnya, mata lelaki itu memandang tajam pada buah dadanya yang terguncang dengan hebat. Reflek Nidya menyilangkan ke-2 tangannya di dada membuat perlindungan sepasang payudaranya yang terguncang. Mang Dodi tampak kecewa, ia menempatkan kaki Nidya di bahu serta ke-2 tangannya mencekal serta menarik ke-2 tangan Nidya supaya buah dadanya terekspos dengan sejelas-jelasnya dalam guncangan hebat yang bikin jantung mang Dodi berdegub dengan lebih kuat. Berulang-kali cairan orgasme Nidya tumpah meluap sebelumnya pada akhirnya sperma mang Dodi muncrat isi vagina Nidya. Badan Mang Dodi rubuh menerpa badan molek Nidya yang berpeluh. Batangnya mengerut terjepit dalam kepitan vagina Nidya yang sempit.

“mmmmhhh mang Dod…” Nidya memeluk badan mang Dodi, keduanya berciuman lama serta mesra.

Sesudah cukup tenaga Mang Dodi pamit keluar dari kamarnya serta Nidya juga tertidur kelelahan.

Esok harinya, jam 7 pagi

Hari itu Nidya jadi pendiam, sesaat bapak serta ibunya repot mengobrol usaha di meja makan tanpa ada memerhatikan anak semata wayangnya. Nidya menghela nafas panjang untuk mengurangi beban berat yang perlu dijaminnya akibat rasa nikmat sebentar.

“Nidya pergi dahulu ma.., pa.. ” Nidya pamit pada ke-2 orang tuanya.

“Ya…” Bapak Nidya menjawab singkat.

“He-eh.. ” Ibu Nidya menjawab tidak kalah singkat.

Mereka kembali repot dengan masalah masing – masing, terkadang Nidya terasa hidup sendiri dirumah elegan yang makin merasa sepi sejak kematian Mbok Ijah satu tahun waktu lalu. Hari itu Nidya terlihat risih memandang mata Mang Dodi yang mesum sumringah. Muka Nidya yang cantik merah padam mengingat apa yang sudah dikerjakan oleh Mang Dodi, sopir kepercayaan-nya.

“Non mengapa koq diem saja sih? ” Mang Dodi memecah keheningan.

“Emm.. ngak apa-apa mang…”

Muka Nidya merona waktu mang Dodi menegur. Nidya lihat ke jendela, kelihatannya ini bukanlah jalan menuju sekolah, tak tahu kemana mang Dodi bakal membawanya. Nidya tak perduli lantaran sesungguhnya Nidya sedang tak mood untuk masuk sekolah hari ini. Hilangnya perawan bikin ia tersiksa dalam rasa gelisah yang tidak berkesudahan.

“Kemarin enak banget ya non…” Mang Dodi terkekeh mesum.

“Kita ingin kemana mang?? ” Nidya berupaya mengalihkan tema perbincangan.

“Mang Dodi miliki surprise buat Non Nidya” jawab Mang Dodi

“Kejutan? ” Nidya heran

“Iya Non sukai ngentot kan? Kemaren Non nikmati kan? ” bertanya Mang Dodi tanpa ada malu-malu lagi.

“Eeemmm…. janganlah nanya gitu ah Pak! ” muka Nidya memerah serta tidak paham mesti menjawab apa, memanglah tidak dapat dipungkiri bila dianya nikmati persetubuhan itu.

“Hehehe…malu-malu ah si Non, Mamang meyakini Non Nidya tentu sukai surprise ini…. badan Non akan menggeliat, menggeliat serta selalu menggeliat he he he”

Mang Dodi senyum sembari menancap gas. Mobil melaju kencang menuju Gunung Tangkuban Perahu. Hari Senin tidaklah terlalu beberapa orang, cuma terdapat banyak mobil yang parkir serta dua buah bus pariwisata.

“Ayo non, telah sampai, yuk turun…ikutin mamang ya.. agak jauh agar tidak pada curiga”

Mang Dodi membukakan pintu seperti umum. Dengan hati sangsi Nidya turun dari dalam mobil. Tak tahu kenapa ia menurut saja ikuti mang Dodi yang selalu naik ke atas. Makin ke atas makin sepi, cuma satu atau dua orang saja yang terkadang berpapasan dengan Mang Dodi serta Nidya. Menyusuri jalan berbatu menuju satu gubuk yang terlihat ramai dengan sebagian lelaki bertubuh kekar tetapi kenakan pakaian kumal serta dekil.

“Mang Dodi?? Mereka siapa? ”

Nidya bersembunyi dibalik punggung sopirnya, sorot-sorot mata lelaki bertubuh kekar itu terlihat ganas serta liar seperti akan menelanjangi badan Nidya. Wajah-wajah sangar serta beringas tersenyum mesum pada Nidya. Semua sejumlah lima orang.

“Ini kawan-kawan Mamang Non, Non kan tuturnya ingin surprise ya, makannya Mamang ajak kesini” kata Mang Dodi mudah.

“Ahhhhhhhh…!! Namun Mang…kok gini…. aaahhh!! ”

Mendadak seseorang dari mereka yang bertubuh gempal menarik lengan Nidya. Bibir Si gempal yang tidak tipis selekasnya menyumpal bibir mungil Nidya. Ketrampilan si gempal dalam mencumbu bikin Nidya merinding panas dingin serta pemberontakannya mengendur. Ke empat rekannya tak tinggal diam, mereka mengerubungi Nidya seperti semut mengerubungi sebongkah gula-gula. Mereka mempreteli satu persatu baju seragam Nidya, sebagian kancing seragamnya putus lantaran agak kasar, hingga kurun waktu singkat Nidya sudah telanjang di pelukan si pria gempal diiringi decak mengagumi akan beberapa orang yang sekalipun tak di kenal oleh gadis itu. Lima gunakan tangan kasar itu selekasnya menjelajahi kehalusan serta kemulusan badan Nidya. Meremas buah pantat, mencolek belahan bibir vagina serta mengelusi permukaan paha Nidya yang halus. Mata Nidya terbelak lihat batang-batang besar berurat mengacung perkasa. Nidya terasa panas oleh gairah yang membakar darah mudanya.

“Auhhhh….. ” Nidya menjerit kecil

Si gempal melemparkan badan Nidya ke atas satu kain selimut belel yang dibentangkan di depan satu rumah gubuk tua. Serempak lima orang lelaki wajahnya beringas menerkam badan Nidya yang terpekik. Badan telanjang Nidya terlentang pasrah, lima gunakan tangan kembali menjelajah menggerayangi sekujur badan Nidya yang putih mulus. Ke lima Orang Lelaki dengan muka sangar terkekeh waktu sama-sama terlibat perbincangan mesum. Dari situ Nidya tahu beberapa nama mereka, yang bertubuh gempal bernama Bang Somad, yang berkumis bernama Bang Malik, yang wajahnya codet bernama Bang Toto, yang brewokan bernama Kardi, yang bibirnya paling tidak tipis bernama Jarot. Kesemuanya yaitu masyarakat setempat, ada sebagai penjaga keamanan, penjual mainan, serta petugas kebersihan.

“Minggir. Gua ingin nyicip memeknya…” Bang Somad menguber vagina Nidya.

“Siap banggg. Namun bila abang telah usai janganlah lupa bebrapa untuk ya” sahut Bang Malik, ia serta kawan-kawannya mundur, berikan ruangan untuk bang Somad.

“Iya lah pasti…gua kasih bila gua telah senang ngentot sama si amoy cantik ini”

Jawaban Bang Somad disambut suka oleh Malik dkk.

“Gila ini lobang, bagus sangat ck ck ck seumur-umur baru kesempatan ini gua ngeliat isi memek Cina…”

Mata Somad melotot lihat isi vagina Nidya yang berwarna merah muda, aromanya yang harum lantaran tertangani bikin nafas Somad memburu. Dengan rakus mulut Somad melumat-lumat vagina Nidya. Rintihan Nidya membuatnya makin liar serta beringas nikmati vagina gadis itu. Lidah Somad menusuk-nusuk serta mencokel – cokel daging mungil punya Nidya.

“Hssshshhh.. Hssssshhhhh ahhh!! ” Nidya mendesis serta mendesah.

Permainan Bang Somad membuatnya kewalahan, geli namun nikmat, risih namun menginginkan lebih sesaat ke empat orang lelaki wajahnya beringas yang lain bersama Mang Dodi melihat dengan penuh nafsu, selentingan-selentingan nakal terdengar diantara mereka.

“Kasih bang!! kasih..!! ” Jarot berteriak lalu terkekeh.

“Hihhhhh….. ”

Dengan sekali sentak, Bang Somad menusuk vagina Nidya.

“Aduhhh…!! ” Nidya memekik keras, 1/2 penis tenggelam dalam vaginanya.

“Ha ha ha ha ha…” Nada tawa menggelegar “ahh aaa aaaa ahhhhhhh…uuhhuyyy…amoy memang emoy!! ”

Badan Nidya terguncang hebat. Mata sipitnya memandang mang Dodi yang asyik mengabadikan persetubuhan liar pada Nidya serta Mang Somad dengan memakai kamera saku. Nidya mengerang menahan pompaan kasar dari Bang Somad.

“unnhh hsssshhh ahhhhhhh….. ” nafas Nidya tertahan, denyut-denyut nikmat membuatnya terkulai diiringi sorak sorai ke empat orang lelaki beringas yang menyemangati Bang Somad yang menyerang dengan lebih gencar.

Nada erang, rintih serta pekik Nidya bikin bang Somad bergairah mengagumkan. Nada becek terdengar keras waktu Bang Somad memompakan batang penisnya kedalam vagina Nidya. Jemu dengan posisi missionary serta kemenangan gemilang atas orgasme Nidya, Bang Somad menyuruh Nidya untuk menungging.

“Wuihh!! Bulet padet!! Mantap ini!! ” Bang Somad memberikan pujian pada sembari menampar buah pantat Nidya.

Cairan orgasme Nidya meleleh pada paha sisi dalam, tangan Bang Somad menyeka keringat di punggung Nidya lalu meremas-remas buah pantatnya sebelumnya pada akhirnya ia menggesekkan ujung penis pada belahan pantat Nidya yang hangat.

“Akkkhhh!! Aduh-duh.. Awwwww.. sakit bang.. ” Nidya mengaduh serta memekik kesakitan.

Anus yang masihlah lecet lantaran tempo hari diperawani sopirnya kembali dikuakkan oleh sebatang penis yang semakin besar dari punya mang Dodi. Nada erang Nidya bikin jantung beberapa lelaki ditempat itu berdegub dengan lebih kencang. Mang Dodi menjepretkan kamera sakunya di wajah Nidya, mengabadikan ekspresi muka cantik yang tengah kesakitan lalu bak fotografer mengambil pose Nidya yang tengah menungging ditusuk oleh penis Bang Somad.

“sebentar bang…, saya pindahin dahulu handycam nya.. ” Bang Dodi memindahkan handycam second yang dibeli dari satu counter di pusat perbelanjaan elektronik paling besar di kota Bandung, satu tripod menyokong handycam second yang masihlah berperan dengan baik.

“Aduh, aduh.. ahh ahh akhh awwww…” Nidya mengaduh serta memekik kesakitan, badannya tersungkur maju mundur ikuti gerakan batang penis Bang Somad yang bergerak kasar menyodomi anusnya.

Muka Nidya dalam derita diabadikan dengan sejelas-jelasnya oleh satu handycam serta bidikan – bidikan kamera saku di tangan mang Dodi.

“Aduh sakit-s-sakit, T-tolong mang Dod.. Tolong…” Nidya memohon pertolongan mang Dodi yang terkekeh kepadanya.

“Aduhhh!! Ampun Bang ampunnnhh akhh arrrrrhhh…”

Kasar sekali Bang Somad menumbukkan penisnya. Nada bentrokan buah pantat Nidya dengan sisi bawah perut Bang Somad terdengar keras seperti nada tamparan. Jerit serta tangisan Nidya terdengar diantara nada tumbukan-tumbukan penis Bang Somad yang mencecar dengan gencar. Mata Nidya yang sipit terbeliak-beliak akibat rasa sakit yang tidak tertahan. Nada merdu Nidya terdengar sedikit serak akibat terus-terusan serta sangat keras menjerit.

“UNGGHH!! Anjing!! ” Bang Somad mengumpat, spermanya muncrat dalam anus Nidya, batang penisnya berkedut-kedut, layu serta mengkerut, badannya yang gempal ambruk menindih badan mungil Nidya.

Nidya merintih kesakitan waktu gigitan gemas Bang Somad menancap di bahunya kemudian barulah Bang Somad mengangkat badannya dari badan Nidya.

“Aduhhh.. jangannnn…. ” nada Nidya kembali terdengar, empat orang lelaki dengan muka beringas menyerbu menekuni badan mulusnya yang berpeluh, tak ada seincipun badan Nidya yang lolos dari gerayangan-gerayangan tangan ke empat lelaki itu yang menggerayang penuh nafsu binatang. Buah dada Nidya yang bulat padat jadi tujuan empuk untuk mulut beberapa orang gunung yang demikian bernafsu kepadanya.

“Sudah bang, janganlah.. tidak kuat…” Nidya menampik waktu dipaksa menaiki batang penis Bang Jarot.

“Tinggal naek!! Sulit sangat sih!! ” Jarot yang terlentang membentak Nidya.

“Ha ha ha ha” nada tawa menggelegar mendengar gerutuan Jarot.

Diarahkan oleh tiga orang lelaki Nidya naik ke atas penis Jarot, tangan jarot mengusap-ngusap paha, pinggul serta meremas-remas payudara Nidya. Waktu terasa ujung penisnya mulai terbenam dalam vagina, dengan gerakan mendadak Jarot mengangkat penisnya ke atas, tanpa ada ampun penisnya melesat menusuk vagina Nidya.

“Aaaaaa.. ahhhhh…. ”

Badan mulus Nidya juga menggelinjang dalam pelukan Jarot. Waktu itu Malik yg tidak tahan mengarahkan penisnya ke pantat Nidya

“Aduh..!! janganlah bang..!! tolong jangannn…” Nidya memohon waktu Bang Malik mulai lakukan penetrasi ke duburnya

“AWWWWWWWW…. ” jerit Nidya terdengar keras waktu anusnya ditembus penis.

Baru untuk yang pertama kalinya Nidya rasakan dua batang penis menusuk anus serta vaginanya sekalian. Sekujur badannya gemetar hebat, harga dianya direndahkan serendah-rendahnya dihadapan beberapa lelaki ditempat itu. Mang Dodi melotot dengan muka mesum ia kembali repot menjepretkan kamera di tangannya untuk mengabadikan obsesi dari angannya yang terliar, Nidya yang cantik mengerang disandwich oleh dua orang lelaki wajahnya beringas.

“Aduhh!! AOWWWW…!! ” Nidya menjerit serta memekik keras waktu dua batang penis bergerak seakan tengah sama-sama berlomba mencari kesenangan dalam anus serta vaginanya.

Nidya melenguh keras dalam rasa malu, ia dipermalukan semalu-malunya oleh Malik serta Jarot yang kasar serta beringas menghujamkan batang mereka kedalam ke-2 lubangnya. Jerit serta pekik dalam rasa malu serta rasa direndahkan pada akhirnya selesai dengan kepasrahan waktu Nidya terasa kedutan-kedutan nikmat yang menebar ke semua badan. Dalam kepasrahan Nidya merengek.

“He he he… nih susu buat yang mau…”

Malik menarik bahu Nidya supaya posisinya duduk menjengking ke belakang, automatis buah dadanya membusung menggairahkan. Dua mulut menguber mengecupi buntalan buah dada lalu mengisap kuat puncak payudaranya. Bertukaran Toto serta Kardi melumat serta mengulum bibir Nidya, tangan mereka tidak henti meremas buah dada yang membusung itu. Erang serta ringisan menabur sensualitas di muka cantik Nidya yang tengah dikeroyok oleh empat orang lelaki wajahnya jelek yang memetik kemenangan gemilang atas orgasme yang dihadapi Nidya sampai penis Malik serta Jarot memuntahkan sperma panas dalam anus serta vaginanya.

“Sini cantik agar abang gendong…” Toto serta Kardi terkekeh menggoda Nidya.

Penis kardi mengait vagina Nidya dalam posisi menggendong berdiri bertemu, reflek kaki Nidya mengapit pinggang Kardi. Tak berapakah lama penis Bang Toto menusuk anusnya. Anus serta vagina Nidya kembali jadi bulan-bulanan dua batang penis yang bergerak secara teratur menusuki liang vagina serta anusnya. Nidya mengalungkan ke-2 tangannya pada leher Kardi, ia menyongsong lumatan bibir lelaki itu sesekali Nidya melihat ke belakang untuk berciuman dengan Bang Toto. Tak tahu telah berapakah kali vaginanya berkedut dalam nikmat orgasme sebelumnya pada akhirnya diiringi nada lenguhan panjang muka cantik Nidya menengadah ke atas langit waktu ia tersiksa dalam buaian puncak klimaks berbarengan dengan semburan sperma panas Bang Toto serta Kardi. Mang Dodi tersenyum lebar melihat badan Nidya yang putih mulus turun turun. Nidya kecil yang saat ini tumbuh jadi seseorang remaja cantik terkulai dengan badan basah berpeluh di bawah kaki lima orang lelaki wajahnya sangar yang terkekeh senang nikmati kemudaan serta kemulusan badan moleknya. Tiga batang penis yang masihlah berdiri perlahan-lahan turun. Bang Somad, Bang Jarot, serta Bang Malik menembakkan spermanya di wajah, payudara serta perut Nidya. Sebentar saja Nidya telah belepotan cairan putih susu berbau menusuk itu. Mang Dodi mendekatkan kameranya ke muka Nidya.

“Gimana Non? Enak gak? ” bertanya Mang Dodi

Nidya cuma mengangguk dengan senyum lemas. Ia menelan sperma dalam mulutnya supaya tidaklah terlalu tersiksa dengan aromanya yang tajam. Selalu jelas, meskipun terasa dipermalukan tetapi dalam hati kecilnya ia mulai suka pada serta begitu nikmati situasi tadi.

“Lain kali mamang ajak entotan lagi Non ingin kan? ” bertanya sopir itu lagi

“Mau…mau Mang” jawabnya

Demikianlah awal dari kehidupan baru Nidya sebagai budak sex sopirnya sendiri. Hari untuk hari senantiasa ada saja pengalaman baru berbarengan Mang Dodi. Kesepian serta kurangnya perhatian orangtua membuatnya berpaling pada kesenangan terlarang.

Komentar Anda

comments