agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Antara Teori dan Praktek 1

Antara Teori dan Praktek 1

Pengantar

Tulisan ini bukanlah cerita tentang hubungan seksual saja, akan tetapi merupakan pengalaman perjalanan seksual penulis sepanjang hidup. Apabila ada peneliti ataupun pembaca yang tertarik dengan pengalaman seksual penulis, atau sekedar ingin memberikan komentar, pertanyaan, maupun berkenalan, penulis mempersilakan Anda untuk menghubungi penulis.
Tulisan ini dimaksud sebagai penambah wawasan. Tulisan ini seluruhnya diceritakan secara jujur, namun nama-nama yang disebutkan bukanlah nama aslinya. Penulis juga mengganti nama penulis kerahasiaan identitas nama-nama yang tertulis tetap terjaga. Semoga tulisan ini berguna

Tentang Masturbasi & Sunat

Masturbasi
Aku sudah sejak kecil bermasturbasi. Aku sudah tidak ingat umur berapa pertama kali aku bermasturbasi. Yang jelas, aku masih belum sekolah TK, aku sudah biasa memainkan alat kelaminku sendiri. Jelas, pada saat itu tidak ada terpikir olehku tentang hubungan seksual dengan lawan jenis. Aku hanya menikmati rasa nikmat yang timbul ketika bermasturbasi.

Sejak kecil, saat bermasturbasi aku menggunakan alat-alat, entah dari mana, aku mengasosiasikan atau membayangkan bahwa aku disunat, dan dengan alat itu disentuhkan ke kulit kemaluan/kulit kulup/kulit yang menutup kepala kemaluan (foreskin). Ada rasa nikmat saat aku menyentuhkan alat-alat, seperti jarum untuk merajut, dll. Kalau tidak terganggu oleh panggilan ibuku, biasanya aku akan asyik sendiri memainkan foreskin-ku, dan mencapai suatu kenikmatan yang nikmatnya tiada tara (orgasme), namun setelah itu pasti diiringi dengan perasaan bersalah.

Seringkali masturbasiku gagal karena Ibuku memanggilku, dan biasanya, apabila Ibuku menemukanku dengan celana yang ‘amburadul’ (apakah ada di antara Anda yang pernah bisa menggunakan celana dengan rapi tapi cepat pada usia sebelum TK?). Entah mengapa aku selalu tidak ingin permainanku ketahuan oleh Ibuku ataupun orang lain. Aku selalu berusaha mengalihkan perhatian dengan pura-pura bertanya tentang hal lain kepada Ibuku. Dan biasanya dengan senyum Ibuku merapikan celanaku dan menjawab pertanyaanku. Setelah aku besar, aku yakin bahwa Ibuku sebetulnya tahu bahwa aku bermasturbasi, tapi dia dengan bijaksana tidak memarahiku, ataupun menanyaiku tentang apa yang telah kuperbuat.

Kegiatan bermasturbasi ini terus kulakukan setiap ada kesempatan, bahkan sampai saat ini tentunya. Saat ini aku tidak lagi merasa bersalah setelah bermasturbasi. Perasaan bersalah ini hilang setelah aku mulai mengenal apa sebenarnya masturbasi, dan banyak pula orang yang bermasturbasi (hampir 90 persen pria pernah melakukan masturbasi). Di sekolahku selalu diajarkan tentang ‘Family Education’ sejak SMP dan SMA. Pada pelajaran tersebut kami para siswa diajarkan pendidikan seks. Bukan hubungan seksual, akan tetapi apa yang sebenarnya terjadi pada seorang laki-laki, dan juga apa yang terjadi dengan wanita berkaitan dengan perubahan seksual pada dirinya.

Pada waktu SMP, pendidikan secara terpisah antara pria dan wanita, begitu juga pada saat SMA kelas 2. Akan tetapi ketika SMA kelas 3, Pendidikan seks tidak dipisahkan antara pria dan wanita, dan sudah mulai membicarakan tentang seksualitas, ketertarikan pada lawan jenis dll. Dan sejak saat itulah aku mengetahui bahwa masturbasi adalah wajar dilakukan manusia, baik pria maupun wanita, karena itu adalah cara manusia mengurangi ketegangannya, oleh karena itu masturbasi masih bisa diterima, selama tidak mengganggu diri sendiri dan orang lain. (Aku bersyukur bisa mendapatkan Family Education seperti ini). Selain Famili Education, beberapa seminar tentang ini juga membuatku percaya bahwa masturbasi bukanlah perbuatan yang amoral. Perlahan-lahan perasaan bersalah ketika bermasturbasi itu hilang dan aku jadi melakukannya dengan tenang. Setelah aku dewasa aku baru tahu bahwa ternyata kebiasaan bermasturbasi berhubungan erat dengan kebiasaan berbohong. Dan ajaibnya, kebiasaanku berbohong bersamaan dengan hilangnya perasaan bersalah yang timbul setelah bermasturbasi

Sunat
Kilas balik.., kelas 6 SD, aku baru tahu yang namanya hubungan seksual. Teman-temanku yang sudah duluan memasuki usia remaja banyak yang bercerita tentang payudara wanita, bulu kemaluan yang mulai tumbuh, dan juga menceritakan tentang hubungan seksual. Aku baru tahu bahwa alat kelaminku dapat dimasukkan ke alat kelamin wanita dan menyebabkan nikmat. Saat itu pula aku tahu arti kata ‘perkosa’ (semula aku mengira perkosa = siksa), ‘ngentot’ (aku pernah dimarahi guru SD-ku, karena aku memaki teman ku dengan kata ‘ngentot’ yang aku sendiri tidak tahu artinya), ‘ngewe’ dll.

Saat usia itu aku sudah menyadari bahwa sunat adalah pemotongan foreskin. Dari sekian banyak temanku yang disunat aku mendapat keterangan bahwa disunat tidak terlalu sakit, sakit sedikit. Biasanya orang tua mereka akan berkata demikian ketika aku datang pada syukuran sunatan temanku. Semakin bertambah umur, semakin banyak daftar nama temanku yang sudah di sunat, termasuk teman-teman paling dekat denganku mulai disunat seiring dengan mulai memasuki usia akil baliq. “Semakin besar akan semakin sakit, lo”, begitu banyak komentar seperti itu yang kudengar, apalagi kalau menguping percakapan orang dewasa.

Keinginanku untuk disunat bertambah besar, sudah sangat meluap-luap, bahkan sudah sejak aku kecil. Aku merasa bahwa aku semakin berpacu dengan waktu (karena sudah mulai menginjak SMP pada waktu itu). Aku tidak pernah meminta kepada orang tuaku untuk mengantarkan aku untuk disunat, aku malu (aku tidak terbiasa meminta kepada orang tuaku untuk hal-hal yang kuinginkan, aku seorang yang tertutup dan pemalu). Terlebih lagi, aku dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang menganut faham yang tidak mewajibkan anak laki-laki untuk disunat. Ayahku sebenarnya disunat, dan Ayahku mengatakan bahwa dirinya disunat sejak kecil.

Sampai akhir kelas 1 SMP aku masih belum disunat, bulu-bulu kemaluanku mulai tumbuh. Saat liburan, temanku yang belum disunat hampir semua disunat, jadi tinggal aku. Dan seringkali pada saat sedang sendiri, aku memainkan foreskin, dan membayangkan kalau foreskin itu hilang (foreskin-ku cukup panjang, aku bisa menjilat ujung foreskin-ku sendiri).

Suatu saat aku bermasturbasi dan tidak sengaja foreskin-ku kutarik agak kuat sehingga kepala kemaluan muncul sedikit. Merah sekali, dan ketika kusentuh, aku merasakan seperti aliran listrik yang menyengat pada kepala kemaluanku sedikit sakit, geli, dan nikmat, begitu sensasional. Ketika kucium tanganku, ternyata bagian kepala penisku berbau kurang sedap. Sejak saat itulah aku mulai berusaha membuka kepala penisku dengan menarik foreskin. Tidak mudah, karena ujung foreskin-ku agak sempit, sehingga kepala penis tidak dengan mudah menyembul tanpa menyebabkan rasa sakit. Aku terus berusaha untuk membukanya. (Aku tidak tahu bahwa kepala penis seharusnya bisa tersembul keluar ketika seusiaku, untuk mengakomodir apabila ereksi.) Namun foreskin-ku sangat panjang sehingga aku tidak pernah merasa terganggu pada saat ereksi.

Pada saat ereksi, foreskin-ku dapat meregang dan masih menutupi kepala penis, hanya lubang penis yang sedikit menyembul keluar (mungkin karena sejak kecil aku biasa menarik-narik foreskin-ku sendiri sehingga kulit foreskin-ku menjadi panjang), dan memang apabila dibandingkan dengan teman-temanku, foreskin-ku lebih panjang.

Suatu hari, ketika keinginan tahuku begitu meluap, karena ingin melihat kepala penisku sendiri, aku menarik foreskin-ku dengan agak dipaksa (saat penis sedang tidak terlalu besar), dan aku merasakan sakit yang luar biasa pada foreskin-ku ketika kepala penisku menyembul muncul. Wah, deg-degan rasanya. Sakit namun sangat senang, karena bentuknya persis seperti penis yang sudah disunat. Akhirnya dapat juga penisku berbentuk seperti penis yang sudah disunat. Betapa senangnya aku pada saat itu. Akupun menyentuh kepala penis (yang saat itu tampak seperti dilapisi oleh sesuatu berwarna keputihan (smegma)) dan terasa seperti terkena setrum, sensasional. Namun sayangnya posisi terbuka ini tidak dapat bertahan lama, karena begitu tidak dipegang, maka foreskin akan menutup kembali, dan kepala penisku kembali terselubung oleh foreskin.

Suatu saat, aku tengah membuka kepala penisku, tapi aku menarik agak terlalu keras, sehingga tampak kulit foreskin yang masih menempel pada corona terbuka (corona = area kepala penis yang melebar, yang menghubungkan batang dan kepala penis, bagian ini termasuk bagian kepala penis yang paling peka). Aku merasakan sakit yang luar biasa, dan pada corona tampak kulitnya memerah. Semakin lama, kulit foreskin yang terlepas dari corona semakin melebar, sampai akhirnya lepas dari sekeliling corona. Selama proses ini aku merasa tersiksa, karena mengalami sakit yang luar biasa, tapi anehnya diiringi perasaan yang sensasional, perih namun nikmat.

Terbukanya seluruh kepala penis dan juga terkelupasnya foreskin dari corona membuat keinginanku untuk disunat bertambah besar, namun aku tetap segan untuk mengungkapkan keinginanku untuk disunat kepada orang tuaku. Dan ternyata orang tuaku tidak mau mengajakku untuk disunat karena mereka berpikir bahwa aku takut disunat. Penasaran akan keinginan disunat terus menggebu pada diriku.

Pada liburan kenaikan kelas 1 SMP ke 2 SMP seluruh teman di kompleks rumahku yang seusia sudah disunat. Jadi, tinggal aku saja yang belum disunat. Wah. Pikiran tentang sunat tersebut mulai menghantuiku, “Kalau bertambah besar, maka kemungkinan akan semakin sakit dan sembuhnya semakin lama, ditambah lagi, tentunya aku akan malu jika rambut dikemaluanku semakin panjang (well, saat itu kan aku masih remaja)”. Aku harus segera disunat, tapi aku masih takut untuk bicara kepada orang tuaku. Cerita-cerita di film-film tentang self mutilation, seperti Yakuza yang memotong jari sendiri, dan melihat buku-buku yang banyak di rumahku, yang melihatkan anak di daerah-daerah yang disunat tanpa dibius dan dijahit (di Afrika dll), mungkin anda juga ingat di koran pernah dimuat seseorang yang mengoperasi sendiri dan mengangkat sendiri batu ginjalnya, berita-berita ini menjadi ide buat diriku untuk menyunat diriku sendiri. Kalau cepat dan dengan benda yang sangat tajam, pasti tidak begitu sakit, begitu pikirku.

Berpacu dengan liburan kenaikan kelas, aku tekadku sudah bulat, aku akan menyunat diriku sendiri, maka suatu hari aku mempersiapkan segala keperluan seperti kapas, obat merah, perban, cutter, alkohol, lilin dll. Keesokan harinya, ketika seluruh keluarga sedang tidur siang, aku membersihkan seluruh foreskin dan kelaminku bersih-bersih, saat itu juga aku bermasturbasi supaya aku tidak ereksi pada saat pemotongan foreskin, soalnya selain sulit, pasti juga akan terasa sakit jika ereksi sebelum luka sembuh (begitu keterangan yang aku peroleh dari temanku yang sudah disunat). Selesai membersihkan kemaluanku, aku bersiap-siap, kamar aku kunci dan mulailah dengan ritual, aku mengambil cutter dengan isi baru yang belum ada karat, dan untuk mensuci hama kuberi alkohol dan dibakar di lilin. foreskin-ku kusapu dengan alkohol dengan menggunakan kapas yang telah kusiapkan banyak-banyak. Sedikit konflik dalam pikiranku tentang seberapa banyak foreskin yang harus dipotong.

Akhirnya kuputuskan untuk memotong setengah dari panjang foreskin-ku, dengan pertimbangan bahwa jika ternyata disunat itu tidak enak, maka aku masih memiliki foreskin, tapi jika ternyata menyenangkan, aku masih bisa memotongnya suatu saat. Akhirnya dengan panas dingin dan debar jantung yang sangat kuat, aku mengikat foreskin-ku dengan tali kecil (aku berpikir ini akan mengurangi darah yang keluar dan juga mengurangi rasa sakit). Dengan cepat aku memotong foreskin-ku dengan cutter. Sakit yang teramat sangat kurasakan ketika cutter menyobek foreskin-ku, darah mengalir dari luka tersebut, namun tidak seluruh foreskin-ku terpotong. Aku menjadi bertambah bingung, darah mengalir dan belum terpotong semua. Untuk memotong lagi, rasanya aku tidak sanggup lagi karena sakit sekali rasanya. Segera kuteteskan obat luka dengan kapas dan berusaha untuk menutup kembali luka tersebut dan menguatkan ikatan tali kecil di foreskin-ku.

Aku tidak kuat lagi dan bingung sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk membalut foreskin-ku dengan perban dan tidur. Aku berharap bahwa darah akan berhenti mengalir ketika aku bangun tidur. Sore harinya ketika aku bangun tidur aku melihat bahwa darah belum berhenti, aku menjadi sangat panik. Aku harus memberitahu orang tuaku agar dibawa ke dokter dan lukaku harus dijahit. “Oooh my God..” Aku tidak mungkin berterus terang mengatakan bahwa aku telah berusaha menyunat diriku sendiri.

Di tengah galau pikiranku, muncul ide cemerlang, aku memecahkan gelas minum, dan menempelkan darah pada pecahan gelas. Disusunlah cerita bahwa aku mandi, kemudian secara tidak sengaja handuk terkena gelas hingga jatuh, dan pecahan gelas tersebut kembali jatuh ketika aku mengangkatnya dan mengenai kulit foreskin-ku. Hal ini di dukung bahwa aku punya kebiasaan hanya berhanduk saja ke kamar dan baru menggunakan baju di kamar tidurku.

Dengan berdebar-debar aku menyampaikan cerita ini kepada orang tuaku. Orang tuaku panik sejadi-jadinya, mereka takut kalau penisku juga ikut terluka. Mereka memeriksa dengan hati-hati penisku dan segera membawa aku ke rumah sakit. Aku berdebar-debar. Ibuku mengatakan bahwa jangan takut, penisku tidak terkena. Lalu dia berkata bahwa ada kemungkinan bahwa kemungkinan hanya akan dijahit lukanya dan tidak perlu takut, karena tidak sakit karena dibius terlebih dahulu. Aku hanya mengangguk lemas. Dalam pikiranku aku hanya menyesali tindakanku.

Setelah diperiksa oleh dokter UGD, mereka berdiskusi dengan orang tuaku, dan aku mendengar bahwa mereka menyarankan dan meminta persetujuan orang tuaku agar aku disunat saja. Mereka menyebutkan alternatif jika dijahit, dan juga tentunya biaya yang harus dibayar orang tuaku. Tidak lama kemudian Ibuku mengatakan bahwa aku akan disunat! Ibuku menenangkanku, dan mengatakan bahwa aku tidak usah takut disunat, apalagi aku sudah besar katanya. Ahh, pada akhirnya aku disunat juga! Hatiku berbinar-binar senang karena pada hari itu aku mengalami peristiwa yang kutungu-tunggu sejak aku kecil. Akhirnya dokter UGD menyunatku, dan parahnya, bius lokal yang mereka berikan sudah habis efeknya sebelum proses jahit selesai. Rasa sakit luar biasa aku rasakan pada saat foreskin-ku dijahit oleh dokter.

Luka bekas sunatku baru sembuh kira-kira satu bulan setelah sunat, karena ada sedikit infeksi karena penisku sudah mulai menggantung dan selalu kontak dengan skrotum kontak inilah yang menyebabkan luka tersebut tidak cepat mengering dan terkena kuman. Walaupun aku sudah bisa menggunakan celana ketika 10 hari setelah sunat (dengan luka tetap diperban), namun atas saran dokter, aku tetap menggunakan sarung dan tidak menggunakan celana dalam sampai infeksi sembuh dan kering. Jadi aku hanya mengenakan celana selama sekolah dan pulang sekolah aku kembali menggunakan sarung tanpa celana dalam sepanjang hari. Rasa geli-geli nikmat terasa saat kepala penisku mengenai sarung. Dan celakanya sampai saat ini aku punya kebiasaan untuk tidak mengenakan apa-apa ketika tidur. Bahkan walaupun aku menggunakan celana saat tidur, secara tidak sadar pasti aku akan membuka seluruh celana hingga aku tidak menggunakan apa-apa kecuali pakaian atas (kaos, atau piama).

Kebiasaan ini tidak pernah hilang pada diriku. Oleh karena itu, aku selalu sulit apabila diajak untuk tidur bersama orang lain dalam satu kamar, karena pasti waktu terbangun aku menemukan aku sudah tidak mengenakan celana sama sekali. Aku mencoba dengan menggunakan celana yang sulit dibuka, tapi tetap saja kebiasaan ini tidak bisa hilang. Aku bahkan tidak pernah sadar membuka sendiri celanaku ketika tidur. Anda mungkin tidak percaya, tapi aku tidak berbohong mengenai ini. Sampai saat ini aku selalu tidur tidak mengenakan penutup tubuh bawah. Untunglah isteriku memaklumi keadaanku ini, dan mungkin malah dia senang dengan hal ini.

Jika aku ditanya tentang bagaimana perasaanku setelah aku disunat, dengan tegas aku katakan bahwa aku justru merasa tidak senang dengan kondisi penisku yang sudah disunat. Mengapa? Karena tidak nyaman saat bermasturbasi. Kepala penis langsung bersentuhan dengan tangan dan menyebabkan rasa yang kurang nikmat. Aku menjadi sangat tidak senang dengan kondisi ini, sehingga cara bermasturbasiku kuubah, aku tidak lagi menggosokkan tanganku, tapi aku menggosok-gosokkan kemaluanku ke permukaan yang agak lembut seperti kain yang lembut, selimut dll. Apabila Anda melihat selimutku pada waktu remaja, penuh dengan bekas spermaku. Aku menyesal bahwa aku disunat, dan seperti orang sering bilang, penyesalan datang selalu belakangan. Aku juga menjadi percaya bahwa sunat dapat mengurangi kebiasaan bermasturbasi.

Bersambung ke bagian 2

Komentar Anda

comments