agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Cerita Dewasa Setengah Baya » Janda Pembantuku

Janda Pembantuku

Namaku Yogi Pratama,sekarang usiaku 27 tahun.Aku anak pertama yang dilahirkan di keluarga sederhana, namun karena kegigihanku aku mampu meraih pendidikan yang tinggi di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Sekarang ini aku bekerja sebagai salah satu konsultan di perusahaan konsultan terkemuka di dunia yang ada di Jakarta. Gaji yang aku peroleh sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku seorang diri di Jakarta yang kejam ini. Bisa dibilang kehidupanku cukup mapan dan gaya hidupku pun berbeda jauh dengan yang aku jalani beberapa tahun lalu.
Dengan kehidupan yang cukup mapan aku sudah bisa membeli sebuah rumah dan mobil Honda Jazz pada 2 tahun pertama aku kerja. Meskipun masih kredit dan ukurannya kecil dengan 3 kamar tidur dan satu kamar pembantu aku bangga karena mampu membeli rumah dengan jerih payahku sendiri. Dengan uang yang berlimpah dan tekanan kerja yang berat membuat aku sering menghilangkan penat dengan mengunjungi tempat hiburan malam atau sekedar mencari wanita malam yang bisa menemani aku tidur,karena memang aku akui bahwa aku memiliki nafsu seks yang cukup besar. Namum lama-lama aku bosan,karena aku pikir itu hanya membuang-buang uang saja.
Pekerjaanku yang berat dan penuh tekanan membuat hidupku kurang teratur. Keadaan rumahku pun menjadi berantakan sehingga aku putuskan untuk mencari seorang pembantu rumah tangga. Aku tidak tahu harus mencari kemana,dan berdasarkan info yang aku peroleh dari teman-teman kerjaku dan surat kabar, akhirnya aku mendatangi sebuah biro penyedia jasa pembantu rumah tangga yang ada di Jakarta Selatan.
Saat aku datang ke biro jasa tersebut aku disambut oleh resepsionis yang menurutku cukup cantik. Dengan ramah dia menyapaku.
“Selamat siang Bapak. Ada yang bisa kami bantu?” tanyanya dan kujawab “Ohh ini mbak,saya mau cari pembantu, itu gimana kira-kira prosedurnya?
Setelah itu mbak resepsionis tadi menjelaskan panjang lebar,aku hanya mengangguk-angguk dan menyanggupi semua persyaratannya. Setelah itu aku dibawa ke sebuah ruangan dimana terdapat banyak sekali wanita dari yang usianya masih muda sekitar 18 tahun sampai yang sudah tua. Resepsionis tadi menjelaskan seluk beluk dan informasi umum dari calon-calon pembantu yang ada disitu. Aku dipersilakan untuk melihat dan memilih kira-kira mana yang cocok dan sesuai dengan kebutuhanku.
Bingung juga ternyata untuk dapat memilih satu orang yang nntinya akan jadi pembantuku dan tinggal dirumahku. Setelah berpikir cukup panjang akhirnya aku memutuskan untuk memilih pembantu yang cukup tua saja dengan pertimbangan dia sudah lebih perpengalaman dan lebih telaten menurutku. Akhirnya resepsionis menyebutkan dan menunjukan 3 nama yang sesuai dengan kriteriaku yaitu Anik, Dewi, dan Murni. Setelah melihat ketiga orang tadi, aku memutuskan untuk mengambil Dewi sebagai pembantuku karena dari ketiga orang tersebut dia yang paling terlihat bersih dan putih. Di usianya yang sudah 37 tahun dia masih terlihat cukup menarik dan badan yang masih kencang. Dia nampak senang sekali ketika aku memilihnya menjadi pembantuku, dia segera bergegas untuk mengemasi barang-barangnya yang akan dibawa ke rumahku. Setelah menyelesaikan semua persyaratan akhirnya aku pulang ke rumah dengan membawa seoarang wanita yang akan menjadi pembantuku, Dewi.
Di perjalanan kami tidak banyak bicara,dia masih terlihat sungkan dan malu dengan aku. Dan aku pun berinisiatif untuk membuka pembicaraan dengan dia.
” Kamu darimana asalnya Mbak?”. “Saya dari Subang Pak”.jawabnya. “Wah jangan panggil saya Pak dong,saya kan belum jadi bapak,panggil Mas saja lebih enak kayanya”. “Iya Pak, ehh iya Mas”. “Nah gitu kan lebih enak Mbak”.
Akupun lalu bertanya pengalaman dia menjadi pembantu dan alasan dia mengapa memilih profesi itu. Dia menjawab kalo dulu pernah menjadi tukang cuci saat masih berada di desanya, dan setelah suaminya meninggal satu tahun yang lalu dia memutuskan untuk pergi ke Jakarta dan berharap memperoleh penghasilan lebih untuk meyekolahkan anak tunggal perempuannya yang masih kelas 1 SMP.
Tak terasa mobilku sudah sampai di depan rumahku. Aku pun segera mengajaknya masuk ke rumah, dia masih nampak canggung, mungkin ini pengalaman pertamanya menjadi pembantu di Jakarta. Dia aku suruh duduk di ruang tamu dan aku ambilkan air putih untuknya karena terlihat kehausan.
“Terimakasih ya Mas airnya dan sudah pilih saya untuk jadi pembantu Mas,ngomong-nomong istrinya dimana Mas, ato kerja juga?” tanyanya.
“Waduh saya belum punya istri Mbak, belum ada yang mau” jawabku sambil tertawa.
“Masa to mas ga ada yang mau orang mas ganteng dan gagah gini kok”.pujinya.
“Ahh mbak bisa aja, orang biasa saja kok. Tapi anggap aja disini rumah sendiri ya Mbak, jangan sungkan-sungkan”.
Setelah ngobrol beberapa saat, lalu aku tunjukan letak kamar dia dan seluk beluk rumahku. Dia pun membawa barang bawaan yang tidak terlalu banyak itu ke dalam kamarnya yang terletak di bagian belakang. Setelah itu aku bilang ke dia mau pergi lagi karena ada meeting dengan klienku dan baru pulang nanti malam.
Saat pulang dia membukakan pintu gerbang untukkku dan saat aku masuk rumah terlihat keadaan rumah sudah rapi dan bersih. Ternyata enak juga ya punya pembantu, batinku.setelah itu aku langsung mandi dan meyuruhnya membuatkan kopi untuk menemaniku mengerjakan laporan nanti malam.
Selanjutnya keseharianku cukup terbantu dengan adanya Mbak Dewi di rumahku. Aku tidak perlu lagi memikirkan kebersihan rumah dan pola makanku pun sekarang lebih teratur. Mungkin aku hanya perlu mengajarkan dan memberi tahu kepadanya tentang hal-hal yang harus dia perhatikan dalam melaksanakan tugasnya.
Setelah 2 minggu di rumahku, dia nampak sudah tidak canggung lagi. Dewi sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan di sekitar rumahku, termasuk dengan pembantu-pembantu lain di kompleks rumahku. Dan setelah aku perhatikan setiap aku ada di rumah, pakaian yang dikenakan Mbak Dewi hanya itu-itu saja, aku pun lalu bertanya kepadanya.
” Mbak kok pakaiannya itu-itu aja,emang kamu punya baju berapa?”.
“Iya mas, masih ada kok beberapa, tapi emang cuma sedikit saya bawanya, habis yang di kampung sudah jelek-jelek Mas”jawabnya.
“Kamu kenapa g bilang,ya udah besok Minggu aku anterin kamu belanja ya, kamu g usah khawatir gaji kamu aku potong, anggap aja ini bonus buat kamu”.
” Wahh mas g usah repot-repot, saya masih bisa pakai pakaian yang ada kok” dia masih merasa sungkan. “Udah pokoknya kamu g boleh nolak, besok minggu kamu ikut saya”.
Akhirnya hari Minggu aku dan Dewi pergi ke sebuah departement store di dekat rumahku,aku membelikan dia beberapa pakaian yang kebanyakan adalah daster seperti yang selama ini dia pakai. Dan semenjak itu, hubunganku dengan Dewi pun semakain dekat, nampaknya sudah tidak ada perasaan canggung di anatara aku dan Dewi. Bahkan dia sudah mulai menceritakan masa lalu dan masalah-masalah yang dihadapinya, begitu juga dengan aku.

Hingga suatu malam, untuk merayakan selesainya suatu proyek besar perusahaan, aku dan teman-temanku pergi ke tempat hiburan malam dan hingga membuat aku mabuk dan tak sadarkan diri. Aku pun diantar oleh temanku untuk pulang ke rumahku. Sesampainya di rumah Dewi nampak terkejut dengan keadaanku, karena sebelumnya aku belum pernah sampai seperti ini. Dia membawaku ke kamar tidurku dan akhirnya membaringkan aku di tempat tidur hingga aku tertidur. Beberapa hari setelah kejadian itu, saat aku dan Dewi berada di ruang tengah dan nonton tv, Dewi menanyakan kejadian itu kepadaku.
“Mas waktu itu kenapa sampai mabuk gitu to?”.tanyanya
“Iya mbak,waktu itu diajak sama temen”jawabku.
“Itu kan g baik buat kesehatan Mas, mbok jangan kaya gitu lagi Mas” dia menasehatiku.
“Iya mbak aku tau kok tapi kadang kalo lagi stres gitu pengennnya kok mau minum aja Mbak, ya gimana lagi ya Mbak” jawabku.
“Nah daripada minum kok g cerita sama saya aja Mas, ya meskipun saya g bisa bantu tapi itu kan lebih baik daripada harus mabok, iya to Mas?”
“Iya bener Mbak,saya akan cerita deh ke Mbak besok”.
Hingga akhirnya setelah ngobrol panjang lebar aku pun jadi bercerita kepanya kalo aku juga sering jajan ke temapt pelacuran kalo nafsu seksku lagi tinggi.
“Dan aku juga mau cerita Mbak kalo aku juga sering nyari pelacur kalo lagi nafsu tinggi gitu, yaa habisnya gimana ya mbak, laki-laki susah Mbak kalo udah horny gitu,hehehe” candaku.
Dia nampak tercengang dan tidal percaya dengan ceritaku. “Oalah Mas, itu kan dosa dan ga bersih, nanti salah-salah Mas bisa kena pirus lho” jawabnya.
“Iyaa Mbaak, aku selalu pake pengaman kok kalo kesana, habisnya emang susah diajak kompromi si adek Mbak kalo lagi pengen,hehe” jawabku.
Dia hanya diam mendengar jawabanku, lalu aku pun memberanikan diri bertanya kepadanya “Lha Mbak sendiri gimana hayo kalo lagi pengen?”.
Dia bingung dan malu mendengar jawabanku, ” Ahh mas ini ada-ada aja nanyanya” jawabnya malu.
“Tapi ga mungkin kan Mbak ga pernah punya keinginan untuk hal itu, terus Mbak gimana kalo lagi pengen, apa Mbak pernah masturbasi?”cecarku.
“Ahh sudah ah mas ngomongin itunya,saya jadi malu”.
” Ga usah malu sama saya Mbak, jawab aja”.
Dia pun akhirnya mau mengakui “Iya mas,kalo lagi kepengen banget saya kadang masturbasi Mas”jawabnya malu.
Akhirnya setelah obrolan malam itu,aku jadi lebih sering memperhatikan pembantuku Dewi, ternyata dia cukup menarik juga dengan wajah yang tidak terlalu cantik, kulitnya kuning langsat khas wanita sunda. Payudaranya juga cukup besar,mungkin sekitar 36c meskipun sudah agak kendor. Dan yang paling aku suka adalah pantatnya yang montok dan besar,hingga aku sering sering memperhatikan kalo dia sedang berjalan. Akan tetapi belum ada niatku untuk mencoba menikmati tubuhnya.

Suatu malam saat tugas laporan menumpuk membuatku semakin suntuk dan bosan. Apalagi si adekku ini tidak bisa diajak kompromi dengan selalu berontak meminta pelampiasan. Memang nafsuku sedang tinggi malam ini dan aku tidak tahu harus melampiaskannya dengan siapa. Aku tidak begitu suka untuk masturbasi, lebih baik aku mencari PSK daripada aku masturbasi. Tetapi kali ini aku sedang malas keluar rumah dan tiba-tiba terbersit wajah Dewi di benakku. Tapi aku ragu untuk melakukan itu,perasaan bimbang menyelimuti pikiranku. Masa aku harus dengan pembantu untuk melampiaskannya, batinku. Akhirnya dorongan nafsu membuatku memutuskan untuk mendatangi Dewi di kamarnya. Saat aku ke kamarnya, Dewi sedang melipat baju-bajunya. Akupun lalu duduk di kursi dalam kamarnya. Dia nampak terkejut dengan kedatanganku ke kamarnya namun masih melanjutkan kegiatan melipat bajunya.
“Ada apa Mas kok tumben malem-malem ke kamar saya?. Apa Mas Yoga masih laper?” tanyanya.
“Ga papa kok, saya g laper kok Mbak, saya Cuma pengen ngobrol sama kamu”. jawabku bimbang.
“ohh mau ngobrol apa to Mas, sini saya temenin ngobrol kalo gitu” jawabnya.
“ Iya sebenernya saya pengen minta tolong sama Mbak”.
“ Minta tolong apa Mas? Saya pasti mau kalo saya emang bisa bantu Mas.” jawabnya.
Aku berada di persimpangan untuk menyampaikan keinginanku kepadanya, tetapi aku pikir ga akan tahu hasilnya kalo g dicoba. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk mengatakan keinginanku kepadanya.
“Jadi gini, Mbak Dewi kan kalo saya sering pergi ke pelacuran kalo nafsu lagi tinggi”. Dia nampak memperhatikan dengan serius setiap omongan yang keluar dari mulutku.
“Terus kenapa Mas, saya kok masih belum ngerti”. jawabnya
Wanita ini emang bener-bener masih polos, pikirku.
“ Sekarang ini nafsu saya lagi tinggi Mbak, saya pengen minta tolong sama Mbak buat..buat..” aku masih ragu untuk mengungkapkannya.
“Buat apa Mas?” tanyanya.
Setelah pertanyaanku tadi aku pun berpikir sudah terlambat untuk mengurungkan niatku, hingga akhirnya aku mengatakan kepadanya tentang keinginanku.
“ Saya pengen minta tolong Mbak buat ngocokin kontol saya” jawabku
Dia nampak terkejut dengan permintaanku tersebut, dan kulihat mukanya lansung berubah antara malu dan sedikit marah.
“Mas saya bukan wanita seperti itu, jadi Mas jangan coba-coba memaksa saya” jawabnya dengan sedikit membentak.
“Saya ga maksa kok Mbak, saya cuma mau minta tolong ke Mbak, itu pun kalo Mbak mau, tapi kalo ga mau ya sudah. Nanti biar saya cari PSK saja kalo gitu”.
Dia hanya terdiam mendengar jawabanku, aku juga tidak tahu apa yang dia pikirkan. Setelah itu akupun keluar dari kamarnya dengan sedikit membanting pintu.
Ada perasaan menyesal setelah mengatakan keinginanku kepada Mbak Dewi, tetapi ya sudahlah semua itu sudah terlanjur. Aku kembali ke kamarku dengan perasaan tak menentu. Untuk mengusir suntukku aku pun menghisap rokok Sampoerna Mild kesukaanku sambil menikmati pemandangan di luar rumahku..

Di tengah kegundahanku tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamarku, aku pun tahu kalo itu adalah Mbak Dewi. Dalam pikiranku mungkin dia mau minta berhenti menjadi pembantuku. Dengan malas aku pun menyuruhnya masuk.
“Ada apa Mbak?” tanyaku saat dia berada di ambang pintu.
“Mas, sebaiknya Mas jangan cari PSK, itu ndak baik Mas” jawabnya dan aku hanya diam sambil menghisap rokoku.
“ Saya mau memenuhi permintaan mas tadi, tapi Mas harus janji jangan nyari PSK di luar” jawabnya sambil tertunduk malu.
Aku pun secara refleks langsung menoleh ke arahnya, sesaat pandangan ku sempat bertemu dengan pendangannya.
“Beneran kamu mau memenuhi permintaan saya tadi? Saya ga maksa kamu kok.
“iya mas saya mau, tapi Cuma itu saja ya Mas, jangan keterusan. Setelah saya pikir-pikir Mas sudah banyak membantu saya dan keluarga dan saya ga mau Mas terus-terusan jajan PSK di luar”.
Aku pun langsung menghampirinya dan memegang tangannya dan aku ajak dia ke arah tempat tidurku. Dia hanya menunduk dan tidak berani melihat ke arahku saat aku memegang tangannya, entah apa yang dia pikirkan. Tanpa pikir panjang akupun mulai melepas satu per satu pakaianku hingga aku hanya mengenakan CD. Dia nampak terkesima dengan tubuh atletisku dan tonjolan besar yang ada di selakangannku yang tidak mampu ditampung semuanya oleh CD kecilku hingga kepala penisku menyembul ke atas. Akupun lansung merebahkan diri di tempat tidur sementara dia masih duduk di tepi tempat tidurku.
“Ayoo Mbak naik aja, kalo disitu kurang enak posisinya” dia pun naik ke atas ranjangku.
“Mbak tolong bukain CD saya yaa!” perintahku sambil menuntun tangannya yang masih malu-malu untuk membuka CDku.
Akhirnya dia menurunkan CD ku hingga melewati ujng kakiku lalu melipatnya dan meletakannya disamping tubuhku. Sungguh pemandangan yang indah menurutku dan membuat aku semakin bergairah karenanya. Dia pun mulai memegang penisku yang sudah ngaceng berat minta pelampiasan, dielus-elus penisku dengan lembut dari dari bawah hingga ujungnya. Ohh sungguh nikmat dan lembut sekali tangannya, pikirku dalam hati sambil memejamkan mata. Merupakan sensasi tersendiri dan pengalaman baru bagiku merasakan kocokan tangan pembantuku.
“Mas saya takut, punyanya Mas gede banget” pujinya sambil tetap mengelus penisku.
“Takut apa suka Mbak? candaku. “ Dulu punya suaminya g segede ini apa Mbak?” tanyaku.
Dia nampak malu mendengar pertanyaanku tadi. Memang penisku termasuk berukuran besar,dengan diameter sekitar 4-5 cm dan panjang sampai 15 cm telah membuat banyak wanita bertekuk lutut dengan permainan seks ku.
Dia mulai mengocok penisku secara perlahan dan kadang diselingi dengan gerakan memutar disekitar kepala dan ujung penisku membuatku semakin melayang. Nampaknya dia sudah mahir untuk urusan kocok mengkocok penis. Betapa bahagianya dulu suaminya,pikirku. Hanya desahan yang keluar dari mulutku. Setelah sekitar 20 menit penisku dikocoknya aku sudah hampir sampai di puncak kenikmatanku.
“Mbak aku sudah mau keluar Mbak, teruuuus mbakk, ohhhh enaakk mbak, teruuus”..
Dia hanya diam dan terus mengocok penisku, dan mengetahui aku sudah hampir keluar dia mengeluarkan jurus mautnya yaitu dengan mengeluarkan ludah pada tangannya dan dioleskan ke penisku. Mendapat perlakuan tersebut aku sudah tidak mampu menahan gejolak kenikmatan dalam diriku. Akhirnya tak lama kemudian tubuhku pun mengejang dan kaku disertai dengan keluarnya air mani dari penisku yang timpah di perutku dan sebagian mengenai tangan Mbak Dewi. Aku pun langsung lemas dan memejamkan setelah menyelesaikan sisa-sisa kenikmatanku. Sunggu aku pikir ini adalah kenikmatan yang spesial yang pernah aku rasakan,meskipun hanya melalui kocokan tangan pembantuku tetapi mampu memberikan sensasi yang luar biasa.

Setelah selesai melakukan tugasnya aku lihat Mbak Dewi brjalan ke arah lemari yang ada di kamarku dan mengambils sebuah handuk kecil lalu dibasahinya handuk tersebut dengan air. Dia mengbersihkan sisa-sisa spermaku yang ada diperut dan penisku. Sungguh sensasi yang luar biasa diberikan oleh pembantuku yang satu ini. Setelah itu aku pun terlelap tidur dengan penuh kepuasan.

Setelah kejadian malam itu aku pun menjadi semakin sering melakukan masturbasi bersama Mbak Dewi. Meskipun kadang dia enggan untuk melakukannya, tapi aku melihat pancaran kebahagian setiap kali dia memegang penisku. Bahkan kalo dia terlalu lelah mengocok penisku,tak jarang dia sampai tertidur di ranjangku dengan masih memeluk pinggangku. Kegiatan itupun berlanjut setiap malam entah sampai kapan.

Bersambung….

Komentar Anda

comments