agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Ketagihan Ngewek
Ketagihan Ngewek

Ketagihan Ngewek

CERITA DEWASA – Perkenalkan aq Markus (28thn) tinggi badan 180 berat badan 82kg. Aq ingin berbagi tentang pengalaman nyataku kepada kalian semua para pembaca cerita dewasa.com dan ini benar-benar kualami dan sampai saat ini pun masih ku ingat.

Waktu itu aq masih berumur 24 thn. Aq mempunyai teman seorang wanita. Aq berteman denganya karena rumah kami jaraknya cukup dekat sekitar 50m, hanya saja rumahnya lebih besar dari rumahku karena dia anak orang terpandang di daerahku. Sebut saja dia Susi (nama samaran. aq sengaja menyembunyikan identitasnya karena aq tidak minta ijin padanya untuk menceritan penaglama sex kami)
Umurnya saat itu 27 thn. Aq dan Susi berteman sangat akrab sampai-sampai para tetangga mengira kalau aq dan Susi pacaran padahal aq tidak pernah pacaran denganya. Aq pun diam saja dikira pacaran denganya, habis dia orangnya cantik sih. Mungil, tinggi badannya sekitar 165cm, dan langsing (berat badnya kutaksir tidak sampai 55kg) dan berwajah manis.

Setelah aq ditugaskan oleh atasan ke kota palembang. Otomatis sejak itu aq tak pernah bertemu denganya lagi. Sampai pada suatu hari aq punya kesempatan bertemu dengannya.

Aq setiap dua bulan sekali pulang ke kota asalku Medan. Dia malah sudah pindah ke Bandung karena dia tinggal bersama ayahnya (orangtuanya sudah bercerai). Di medan dia tinggal bersama Ibunya.
Seperti biasa setiap aq pulang ke Medan aq selalu main ke rumah temanku, dan dari temanku aq di diberi tau kalau Susi juga berada di rumah. Aq pun biasa-biasa saja mendengar kepulanganya, tapi aq iseng-iseng menelponya. Setelah berbincang-bincang lewat telepon aq lalu disuruh main ke rumahnya.

Susi menyambut kedatanganku dengan memakai celana pendek dan t-shirt yang menurutku kekecilan. Bentuk dadanya tidak terlalu menonjol karena ukuran dadanya memang kecil. Susi tersenyum kepadaku dan aq pun membalasnya senyumannya. Saat itu sekitar jam 09:00. Percakapan di lakukan di teras rumahnya. Ibunya di rumah sebelahnya (Rumahnya 2 buah, 1 buat Susi, adik perempuanya, dan satunya lagi buat Ibunya.

“Gimana kabar kamu?” sapanya.
“Biasa. Cuma gini-gini aja” sahutku.
“Kerasan di palembang?”
“Kerasan nggak kerasan ya harus kerasan. Tuntutan kerja” jawabku sekenanya.
“Udah dapet pacar belum?” tanyanya sambil tersenyum.
“Hehehehe.. belum. Kamu sendiri gimana? Masih jalan sama Heru?” aq balik bertanya.
“Masih” jawabnya ringan

Menurut cerita Susi sendiri kepada temannya saat kuliah, dia dan Heru sering berhubungan intim. Mungkin karena dari keluarga broken home, maka dia merasa tak ada beban melakukan semua itu. Aq sendiri merasa ngeri membayangkan mereka, jangankan berhubungan intim, cium cewek aja belum pernah, padahal aq sudah pernah 2 x pacaran. Aq memang terlalu penakut kalau soal begituan.
“Kenapa nggak cari pacar lagi?” tanyanya.
“Bukanya nggak mau cari lagi, tapi belum ada yang mau sama aq” jawabku.

“Oooo.. mungkin kamu terlalu memilih-milih” balasnya.
“Nggak juga” jawabku. Dia tersenyum. “Emangnya pacaran buat apa sih” tanyaku pura-pura nggak tau.
“Biar ada yang nemenin setiap saat dan buat penyemangat”
“Nemenin apa?” emang takut kalau nggak ditemani?”
“Banyak. Dalam segala hal”

“Contohnya?” tanyaku
“Dinner, nonton, dan….” dia tak meneruskan perkataannya, tetapi tersenyu sambil menatapku.
“Dan apa?… kok nggak diterusin” tanyaku sambil balas senyumannya. Pikiranku mulai nakal.
“Tidur hehe…” jawabnya sambil tersnyum.
“Tidur? emang kamu pernah.. sama heru? aq pura-pura tak tau.
“Pernahlah. Habis nikmat banget sih. Sampai ketagihan hehe…” jawabnya enteng sambil tersenyum lagi.

Wahh ini bukan Susi yang kukenal waktu dulu. Dia udah banyak berubah, padahal dia diulu dikenal sebagai cewek pendiam dan santun.
“Udah ah, jangan bahasa itu lagi” aq mencoba mengalihkan topik pembicaraan karena aq merasa nggak enak bila membahas hal itu dengan teman baikku.
“Kenapa sih? takut kepengen? kalau kamu udah pernah pasti kamu nggak tabu lagi ngomongin hal itu” sambungnya.
“E.. nggak tau lah”

Untungnya dia mau mengalihkan topik pembicaraan. Kami membicarakan teman-teman kami. Tentang dia di Bandung, serta tentang aq di palembang. Sampai akhirnya Salam mengajak aq ke kebun di belakang rumahnya. Rumahnya memang memiliki kebun buah yang luas.
Kami berjalan menuju sumber air yang di tampung dalam kolam kecil. Kolam itu memiliki dinding penutup setinggi 1 meter dan memiliki tempat duduk di salah satu sisinya. Dulu kami sering bermain di siut. Di luar bangunan itu ada kolam lain yang lebih luas dan di isi ikan.
“Tempat ini masih awet juga ya…” kataku memecah keheningan.
“Iya dirawat sama Ibu. Inget nggak waktu kita main di sini?”
“Jelas inget dong. Waktu itu kamu berendam berlama-lama di sini. Bahkan aq sudah kedinginan tapi kamu tetap memaksaku menemanimu berendam
“Yeee siapa yang maksa. Kamu sendiri yang betah bernedam bersamaku” jawabnya nggak mau kalah.

Kami tertawa bersama, dan tiba-tiba dia menyiramku dengan gayung yang terletak di sampingnya.
“Heii. Basah nih” kataku.
“Biarin” jawabnya sambil tersenyum menggoda.
“Aq balas nih” ancamku.
“Silahkan kalau berani,” tantangnya.

Lalu aq mendekat ke arahnya dan mencoba merebut gayung yang di bawanya. Maksudku biar tidak menyiramku lagi, tapi dia malah menghindar dan.. Byurrrr. Dia tercebur di kolam.
“Wkwkwkw.. rasain. Kuwalat kamu” godaku
“Aduhh, gara-gara kamu nih jadi basah kuyub” katanya sambil berdiri dari kolam yang dalamnya cuma 1 meter tersebut.
Kupikir dia akan kembali ke rumah dan berganti pakaian, ternyata dia tanpa canggung melepas celana dan tsshirnya di depanku! Seketika itu dadaku langsung berdegup kencang. Aq tak bisa berkata apa-apa yang jelas penisku langsung mengeras.

“Ayo kita main seperti dulu lagi” ajaknya. ” Dan kamu harus mau, karena kamu udah bikin pakaianku basah” sambungnya.
“Aq berpikir keras antara mau atau tidak. Aq tak bisa berfikir. Mataku hanya memandang ke tubuhnya yang hanya mengenakan BH dan Celana dalam.
“Ayo buruan. Atau kamu mau duduk di situ sambil melihatku mandi?
Aq melepas baju dan celana jeansku. Kini aq tinggal mengenakan celana dalam. Aq takut kalau ada orang yang melihat, tapi karena Susi cuek aja aq mencoba menepis perasaan takutku itu.
“Hiii.. paan tu..? tunjuknya ke arah celana dalamku sambil tersenyum.
“Aduhhhh,, seperempat penisku sudah keluar dari celana dalam. Aq malu sekali.

“Dilepas sekalian aja celana dalamnya. Nanggung daripada cuma keliatan sedikit spserti itu” bujuk Susi.
“Kamu juga harus melepas BH dan Celana dalammu dong” balasku.
Tak kusangka dia pun langsung melepas BH dan celana dalamnya. Tubuhku mendadak panas dingin melihat pemandangan itu. Aq pun juga melepas celana dalamku, lalu masuk ke kolam dan langsung berendam. Soalnya rasanya aneh kemaluanku dilihat orang lain. Dia cuma tesenyum, dan duduk berendam disampingku. Aq tak bisa berkata apa-apa karena nafsu sudah di ubun-ubun dan rupanya Susi mengetahui hal itu.
“Maukah kamu..?” tanya Susi terputus.
“Apaa?”
“Bercinta denganku” jawabnya.
Aq hanya diam saja, lalu tersenyum. Rupanya Susi mengerti isyaratku ini.
“Aq belum pernah melakukan Ma”
“Makanya kamu harus mencoba” sarannya

Baca Juga : Bercinta Dengan Cewek Malam

Susi lalu meraih penisku yang sejak tadi sudah mengeras. Mengocoknya perlahan. Mataku terpejam. Merasakan nikmat selama beberapa menit. Aq lalu merasakan kocokan itu berhenti. Kubuka mataku dan Susi telah berdiri di hadapanku. Kulihat memeknya hanya di tumbuhi sedikit bulu. Susi lalu duduk di pangkal pahaku. Kini kemaluan kami berhimpitan. Kepalaku rasanya semakin tak karuan, pengen segera penetrasi. Wajah kami berdekatan. Berciuman. Aq tak tau harus berbuat apa ketika berciuman karena memang baru pertama kalinya aq melakukan itu. Susi melepas ciumannya.
“Kamu kok cuma diem aja? nggak suka ya sama aq?” tanya Susi agak marah.

“Nggak Ma. Aq belum pernah ciuman” jawabku.
Susi kembali menciumiku dengan lembut. Kali ini bibirku agak kubuka karena terdorong oleh lidah Susi. Tangan kananku meraih toket kirinya sementara tangan kiriku mengelus-elus punggungnya. Kedua tangan Susi berada di leherku. Susi berdiri lalu menggandengku menuju tempat duduk di tepi kolam.
“Ma aq pengen masuki sekarang” pintaku karena aq sudah sangat terangsang. Padahal aq tidak tau apakah Salam sudah siap apa belum.
Susi merebahkan diri di tempat duduk kolam itu lalu membuka kedua kakinya lebar-lebar. Kulihat memeknya agak terbuka. Aq langsung memposisikan kepala penisku tepat di bibir memeknya.
“Masukin sekarang” perintahnya.

Ketagihan Ngewek

Aq hanya melihat lubang kecil sebesar jari telunjukku. Ituylah yang namanya lubang kenikmatan, begitu pikirku. Aq masukkan kepala penisku dengan perlahan. Separuh penisku sudah masuk. Cukup mudah masuknya? pikirku. Mungkin karena Susi sudah sering melakukanya dengan pacarnya atau ukuran penisku yang kecil, cuma 16cm para pembaca, dengan bentuk agak pipih dan melengkung ke atas.
“Ooghh.. desahnya.

Kutekan lagi hingga bulu kemaluan kami bersatu. Tangan Susi memegang erat pinggangku. Kutarik perlahan, lalu kubenamkan lagi semuanya. Setiap kali melakukan gerakan itu Susi mendesah keenakan. Aq merasa batang penisku seperti di remas-remas erat memeknya. Kulihat mata Susi terpejam menikmati sensasi yang kami ciptakan berdua. Aq merasa bahwa aq ingin segera mengeluarkan lendir kenikmatanku. Kupercepat kocokkan penisku di memeknya kudengar desahan Susi semakin kencang. Tapi karena begitu semangatnya mengocok, penisku sampai melesak keluar dari lubang memeknya. Susi membuka matanya lalu tersenyum kepadaku.

“Maaf ma, masih pemula” kataku membela diri.
Kumasukkan kembali batang penisku. Susi memejamkan matanya lagi. Kali ini aq lebih hati-hati tapi tetap dalam kecepatan tinggu karena aq ingin segera menyelesaikan hal ini karena takut ketauan orang. Mata Susi kini terbuka tinggal putihnya. Aq panik karena dia terlihat seperti orang kesurupan.
“Aagghhhh… ahh..” cuma itu yang keluar dari mulutnya.
Ketika aq merasa lendir kenikmatanku mau keluar, aq mempercepat kocokanku.
“Aahhh… legaaa” kataku.

Tapi kulihat Susi masih belum merai orgasme. Sebab dia masih menggoyang-goyangkan pinggulnya seolah minta di kocok lagi. Penisku terasa ngilu karena jepitan memeknya, maka kucabutlah batang penisku. Susi membuka mata sambil nafasnya masih memburu. Kulihat pejuhku telah meleleh keluar dari lubang memeknya. Aq lalu memasukkan jari tengahku ke lubang memeknya.
“Ooghh..” Susi kembali mendesah.
“Ya.. begitu nikmat”

Aq menggerakkan jariku seperti lagi menggaruk. Kemudian kuganti dengan jari telunjukku dan kugerakkan menusuk-nusuk.
“Oohh.. ohh..” pahanya dirapatkan. Rupanya Susi berusaha mengatupkan memeknya karena tak kuat menahan geli.
“Geliii.. ssudaahhh donggg. Aq nggak tahaaannnn…”
Ternyata ekspresi orang yang lagi menahan geli dan nikmat itu lucu ya. Susi terlihat merem melek sambil tubuhnya menggelinjang-gelinjang. Aq jadi tersenyum sendiri, tapi lama-lama aq kasihan dan akhirnya kuhentikan tusukkan jariku. Susi membuka matanya sambil mengerutkan keningnya seolah bertanya kepadaku.
“Plissss… jangan dihentikan, aq sudah mau orgasme” kata Susi memelas
Susi lalu meraih burungku yang ternyata masih mengeras dan mengarahkan ke lubang memeknya.

“Ehh.. pelan-pelan dong” kataku, sebab dia menariknya dengan kencang soelah tak mau kehilangan rasa nikmat.
“Oghh..” desahnya ketika sepruh batang penisku memasuki memeknya.
Kini Susi posisinya di atasku. Dia menduduki batang penisku. Aq hanya diam saja, sebab nggak tau harus berbuat apa dalam posisi ini. Susi dengan pelan menurun kan pantatnya sehingga batang penisku masuk seluruhnya.

‘Hebat juga ni anak’ kataku dalam hati, bisa ganti-ganti posisi. Susi menggoyangkan pantatnya naik turun dengan cepat, dan semakin cepat. Penisku rasanya seperti ditarik-tarik. Setiap kali pantatnya menyentuh pahaku terdengar bunyi plokk.. plokk.. plokk.. Setelah hampir 10 menit dia sudah mau orgasme. Desahannya pun semakin kencang. Ada rasa khawatir juga kalau sampai ketahuan oleh ibunya.
“Oghh.. ohh..ohh.. aaghh.. ahhh” desahnya berhenti bersamaan dengan mengalirnya lendir hangat dari memeknya.

Susi tertelungkup di dadaku dengan mata masih terpejam. Tinggal aq yang terlanjur ‘naik’ butuh penuntasan. Dengan penisku masih tertancap di dalam memeknya, kubalikkan badanya. Kini dia ganti berada di bawah. Kami berada dalam posisi konvesional.
“Ehh.. mau ngapain lagi nich? aq sudah capek Jo” katanya.
Aq tak memperdulikannya. Langsung aja ku tusukkan batang penisku sedalam-dalamnya ke lubang memeknya. Susi mengerang kencang, entah menahan sakit atau menahan nikmat aq tak tau. Kukocok dengan cepat penisku. Kembali kudengar desahanya yang tak beraturan.. Dan akhirnya
“Aaghhh…” desahku bersamaan dengan menyemburnya lendir kenikmatanku.
“Emhh.. ehh.. ” hanya itu suara Susi yang terdengar ketika penisku kutarik keluar dari dalam memeknya.

Batang penisku terasa licin dan agak lengket. Aq masuk ke kolam untuk membersihkan batang penisku. Kulihat Susi duduk di tepi kolam dengan bugil, hanya saja pahanya di rapatkan. Dari sela-sela pahanya kulihat bulu halus yang basah oleh lendir kenikmatanku bercampur cairan kenikmatanya. Dia tersenyum kepadaku. Kubalas senyumannya sambil memandangi tubuh bugilnya. Tubuh mungil langsing dengan toket kecil pula, tapi kurasa tubuhnya sangat proposional.
“Makasih ya” ucapnya memecah kebekuan suasana.

“Sama-sama Ma. Aq juga kamu berikan pengalaman yang tak akan pernah kulupakan
Kami lalu mengenakan pakiaan masing-masing. Susi tidak memakai celana dalam dan BH nya karena basah. Dia memasukkan CD dan BH nya ke dalam saku celana pendeknya. Kami menuju rumahnya. Tubuhku terasa segar sekali. Sepanjang perjalanan Susi mengandeng tanganku. Dia kelihatan bahagia.
“Baju kamu kenapa Ma?” tanya Ibunya yang melihat baju Susi basah.
“Kepeleset di kolam bU” jawabnya sambil berlalu menuju kamarnya untuk berganti pakaian.

Aq mengikuti Susi dari belakang, lalu setelah sampai di depajn pintu kamar Susi aq bewrhenti. Susi masuk dan melepas pakaiannya tanpa menutup pintu kamarnya. Aq berusaha mengalihkan pandanganku. Maksudku supaya aq tak terangsang lagi olehnya, tapi aq tak kuasa melawan gejolak birahiku. Aq kembali memandang tubuh bugil Susi.
Susi naik ke atas ranjangnya dan merangkak berusaha menjangkau jendela. Rupanya dia bermaksud menutup jendela yang menghadap ke tempat cucian. Melihat pemandangan seperti itu penisku kembali tegang mengeras. Kulihat pantatnya yang padat bulat dan toketnya yang menggantung. Aq mendekatinya dari belakang dan tangan kananku langsung menuju ke selangkanganya.
“Ehh.. kamu nakal ya..” katanya kaget mendapat perlakuan begitu dariku.

“Habisnya kamu seksi banget sih…” jawabku.
Tangan Susi berpegangan ke tepi jendela yang tidak jadi ditutupnya.
“Susi, diam di situ aja ya. Aq pengen lagi nih” Susi hanya tersenyum.
Aq dengan cepat melucuti celana dan celana dalamku lalu kubiarkan tergeletak di lantai.
“Iihhh.. kok cepet banget penismu mengeras?” Susi menggodaku.
Aq ingin sekali mencoba doggy style. Aq langsung memasukkan batang penisku ke lubang memeknya yang tampak indah dilihat dari belakang.
“Aaghh.. pelan.. pelan.. perihh” pintanya melas.
Aq nggak tau kenapa kok dia bisa bilang perih, padahal sewaktu permainan di kolam tadi dia tak mengeluh sakit. Atau memang ada perbedaan ‘rasa’ pada posisi konvesional dengan gaya nungging? ada pembaca yang bisa ngasih penjelasan?

“Iya Ma.. aq masukkan pelan-pelan ya..”
“Iya.. buruan.. aq nggak mau ketahuan Ibu.
Slhebbb.. batang penisku sudah masuk tiga perempatnya. Nggak bisa masuk semua karena terhalang oleh pantatnya. Langsung saja kukocokkan batang penisku di memeknya. Seperti waktu di kolam tadi, Susi mulai mendesah, hanya saja kali ini agak lebih keras. Kulihat matanya merem melek. mataku yang semula melihat ke luar jendela akhirnya kututup juga agar bisa menghayati setiap sensasi yang luar biasa ini.
Setelah beberapa menit berlalu aq mencoba membuka mataku untuk mengalihkan pikiran agar ejakulasiku bisa tertunda. Tetapi pemandangan yang kulihat seakan menghentikan degup jantungku. Aq melihat Ibu Susi berdiri di luar jendela! Ibu Susi terdiam sambil tetap memandang kami. Pikiranku jadi kacau hingga aq harus menghentikan kocokanku. Susi membuka matanya dan menoleh ke arahku.
“Kenapa berhenti Jo?” tanya Susi tanpa tau Ibunya berdiri di hadapanya.

Aq tak menjawabnya, hanya pandanganku tetap kuarahkan ke Ibunya. Susi kelihatanya pensaran dengan apa yang aq lihat. Melihat ke depan dan…
“Ibuuu…” kata itu keluar spontan dari mulut Susi.
Batang penisku masih menancap di memeknya dan Susi masih tetap pada posisi nungging sambil berpegangan di tepi jendela. Aq tak tau harus berbuat apa, begitu juga dengan Susi. Kami berdua terdiam. Ibu Susi mengahmpiri kami dari luar jendela.

“Kenapa berhenti nak?” kata Ibu Susi.
Aq nggak tau apakah ini sindiran atau memang pertanyaan.
“Lanjutkan aja. Tadi Ibu kesini karena mendengar suara Susi yang seperti merintih kesakitan, ehh ternyata kenikmatan..” sambung Ibu Susi sambil tersenyum dan meninggalkan kami.
Sulit untuk di percaya. Mulanya aq mengira akan dimarahi atau bahkan diusir. Susi masih bengong. Dia masih tak percaya Ibunya tidak marah melihat perbuatanya denganku.

“Gimana Ma?” tanyaku.
“Lanjutin aja jo.. toh Ibu juga nggak marah”
Persetubuhan kami pun berlanjut. Aq hanya sekali aja mengeluarkan pejuhku kali ini. Kami tidak takut-takut lagi. Kubiarkan Susi mendesah dan mengerang dengan keras. SDalma sangat menikmati persetubuhan ini karena sudah tak ada perasaan was-was di hatinya.
Jam 14:30 aq terbangun dengan hanya menganakan t-shirt. Susi masih memelukku dengan erat dalam kondisi bugil. Kupandangi sekujur tubuhnya. Sungguh beruntung pacarnya yang bisa menidurinya staiap waktu. Kubangunkan Susi karena aq mau berpamitan pulang, tapi keliatannya Susi sangat lelah. Aq tak tega untuk membangunaknnya. Aq mengenakan pakaianku lalu aq segera menuju teras tempat sepeda motorku terparkir. Kulihat Ibu Susi menyapu halaman. Kumampiri beliau untuk berpamitan.

“Kok udah mau pulang dik..” Ibu Susi berkata seolah-olah tidak ada apa-apa di antara aq dan anaknya.
“Iya Bu udah sore..”
“Udah sore atau udah puas dik…? goda Ibu Susi dengan senyum nakalnya.
“Bener Bu, sudah sore..” – kisah mesum terbaru –
“Kapan-kapan maen ke sini lagiu ya dik..” kata Ibu Susi sambil memandangku lekat.
“Iya kalau Susi pulang Bu..” aq tak berani menatapnya. Ada semacam perasaan berdosa.

“Kalau Susi nggak pulang kan bisa maen sama tante…”
Haaaa…? apa aq nggak salah dengar? Ibu Susi terlihat masih cantik dan seksi di usianya yang mendekati 40. Apa ini sebuah ajakan dari seorang wanita yang merindukan sentuhan hangat seorang laki-laki? atau hanya sebuah godaan? aq tak tau pasti. Ibu Susi memang sudah bercerai dengan ayah Susi, sekitar 4 bulanlah. Jadi cukup wajart bila Ibu Susi ingin di sentuh.

“Ya kalau pulang dari Palembang aq usahakan mampir kesini Bu” jawabku dengan tersenyum.
“Janji lho ya…”

“Iya Bu..” aq langsung menghidupkan sepeda motorku dan langsung meluncur pulang,.
Sampai sekarang aq tak pernah maen lagi ke rumah Susi, sebab Susi tak pernah pulang lagi. Sebenarnya pengalamanku dengan Susi membuatku sangat ingin mengulangi hubungan intim tersebut. Mungkin ada benarnya yang dikatakan oleh Susi bahwa orang yang pernah ngentot pasti akan ketagihan ( Betul nggak para pembaca?) dan sekarang aq benar-benar ketagihan dengan yang namanya sex.

Bila gairah sex ku kian memuncak, aq biasanya onani, karena aq di palembang tidak mempunyai pacar atapun kenalan yang bisa di ajak bercinta. Padahal aq sudah sangat ingin melakukan hal itu. Sebenarnya aq bisa saja meminta kehangatn pada Ibu Susi kalau aq pulang ke Medan, tapi aq tak pernah melakukannya karena aq menaruh hormat pada Ibu Susi. Aq terpaksa berbohong bahwa aq tidak pulang ke Medan bila beliau menagih janjiku untuk bercinta.

Komentar Anda

comments