agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Menjadi Simpanan Guru Wali Kelasku Sendiri
Menjadi Simpanan Guru Wali Kelasku Sendiri

Menjadi Simpanan Guru Wali Kelasku Sendiri

CERITA DEWASA – Dalam hati saya memikirkan, walau wajah Pak Gatot tidak tampan, mulai sejak itu saya mulai suka pada wali kelasku sendiri itu. Pak Gatot pernah ajukan pertanyaan apakah saya pernah terkait sex. Saya menjawab kalau pernah sekian kali dengan bekas pacarku, namun saya dengan muka memerah mengakui belum pernah terasa senikmat ini, bahkan juga cuma sesekali orgasme dengan mantanku itu. Mungkin saja ia tidak memiliki pengalaman Pak, kataku.

Pak Gatot segera tersenyum lebar, serta mengungkapkan kebanggaannya jadi orang pertama yang dapat memuaskanku dengan sangat begitu. Pak Gatot juga memberitahuku kalau tempat tinggalnya senantiasa sepi seperti ini, istrinya pergi kerja dari jam 3 sore hingga sekitaran 11 malam, serta sebenarnya tetangga-tetangga samping pada perumahan cukup elit seperti ini tak perduli keduanya.

Hingga meskipun saya menjerit-jerit akan tidak ketahuan, terlebih tembok-tembok tempat tinggal Pak Gatot begitu tidak tipis serta kokoh. Waktu itu jam 4 : 30, telah 1/2 jam saya dirumah Pak Gatot. “Vicki, anda dapat pulang malam kan? ” bertanya Pak Gatot. “Ya.. dapat saja Pak, namun jangan pernah kemaleman Pak, kelak ortuku bingung, ” jawabku.

“Tenang saja, anda kelak tidak antar pulang jika Ayah telah senang. Oh ya, anda telephone saja ke tempat tinggal katakan pulangnya agak malam, ” jawabnya. Kemudian Pak Gatot bangkit serta melepas rangkulannya. Ia mengambil hpnya serta menyuruh saya telephone.

Lalu saya duduk, hanya pakai celana dalam saja, lantas menelpon ortuku, beralasan kalau saya belajar grup dirumah guruku. Lantaran sampai kini saya cewek yang senantiasa penurut pada ortu serta nyaris tak pernah berbuat nakal, orang tempat tinggal bebrapa yakin saja.

Selanjutnya Pak Gatot duduk di sebelahku, membawakan sebotol minuman air dingin serta minum berbarengan. Agar fresh tuturnya. Sesudah senang minum, Pak Gatot segera berkata dengan tatapan nafsu, “Vicki, mari ke kamar saja, ranjangnya besar, lebih enak, anda bisa menjerit sepuasnya. ”

Saya lagi-lagi tersenyum malu, tetapi menjawab dengan sedikit cemas, “Hah? Di kamar? Di ranjang? Apa kelak tak ketahuan sama istri Ayah? Sofa Ayah ini saja telah basah semuanya terkena keringatku. ” “Santai saja, ini kamar untuk tamu kok sebenarnya. Terkadang ada saudara atau famili yang bermalam.

Umumnya juga Ayah sendiri kok yang bersihkan. Jadi anda tidak usah takut, pokoknya nurut saja, ” katanya lagi. Meskipun tetaplah dengan styleku yang sedikit ‘malu-malu kucing’, saya menyepakati ajakan Pak Gatot. Dengan tangkas Pak Gatot menggendongku dengan kemampuan ke-2 tangannya, saya segera kaget serta menjerit kecil. “Tambah nggemesin saja anda ini, Vicki, ” tuturnya. Kamar untuk tamu Pak Gatot nyatanya begitu rapi walau cukup kecil serta lampunya begitu jelas.

Nyaris beberapa besar ruang termakan tempatnya oleh satu ranjang spring bed besar komplit dengan ukiran-ukirannya, yang pasti untuk ukuran dua orang. Perlengkapan bekasnya cuma satu almari baju besar serta sepasang kursi sofa kecil. Ada satu pintu di samping ranjang yang nyatanya yaitu kamar mandi dalam.

Badanku yang memiliki ukuran mungil dibanding badan Pak Gatot, segera dilemparkannya pas di tengah-tengah ranjang setelah ia menggendongku masuk. Saya kembali berteriak kecil lantaran kaget campur perasaan senang tak menentu memikirkan apa yang setelah itu bakal dikerjakan Pak Gatot terhadapku. “Empuk sekali ranjangnya, ” fikirku.

Lalu Pak Gatot mengambil posisi diatas ke-2 kakiku, mengangkat pantatku serta memeloroti celana dalamku dengan agak kasar. “Bapak ini bener-bener tidak tahan saksikan keseksian badanmu, terlebih buah dada anda, jadi maklum saja jika Ayah kerap agak kasar sama anda, ” godanya waktu melepas CD-ku.

Saya bener-bener telanjang bulat tanpa ada sehelai benangpun, berbaring di ranjang dengan muka sedikit memerah mendengar beragam jenis pengucapan Pak Gatot yang menggoda. Pak Gatot juga mengakui suka dengan memekku yang bulu-bulunya mulai sejak dahulu saya cukur hingga tinggal tersisa beberapa tidak tebal. “Vicki, anda bener-bener cewek yang diimpikan Ayah, ” pujinya.

Lalu dengan amat cepat Pak Gatot melepas kaos serta celana panjang sembari berdiri di samping ranjang. Saya segera menahan napas panjang lihat badan Pak Gatot yang cuma tinggal menggunakan celana dalam saja. Walau telah berumur 51 th., tuturnya, badan hitam Pak Gatot masihlah berotot serta terlihat tegap.

Saya agak merinding lihat sekujur badannya yang agak berbulu serta wajahku cuma dapat melongo lihat benjolan besar dibalik CD Pak Gatot. “Kok bengong? ” tegur Pak Gatot sembari tersenyum-senyum. “Um.. anu Pak.. eh.., ” reaksiku betul-betul seperti anak kecil yang kebingungan.

“Nggak usah malu-malu, Ayah meyakini anda tentu ingin saksikan kontol Ayah ini kan, ” katanya lagi menggoda. “Ayo sini.. ” imbuhnya. Dengan muka khasku yang memerah apabila malu-malu, saya turun dari ranjang sesaat Pak Gatot duduk di pinggir ranjang. Pak Gatot buka pahanya lebar-lebar serta menyuruhku duduk bersimpu lutut salah satunya.

“Kamu dahulu pernah nyedot kontol bekas pacarmu? ” bertanya Pak Gatot. Wajahku lebih merah mendengar bahasanya yang kasar, namun mungkin saja lantaran telah 200% takluk, saya lebih berdebar-debar. “Belum pernah Pak, Vicki tidak berani, ” jawabku. “Mm.. jadi anda dapat belajar pakai kontol Ayah, ” balasnya.

Wajahku merah padam seperti mati kutu, serta Pak Gatot makin menjadi-jadi menggodaku. “Tapi anda tentu pernah nonton BF kan? ” tanyanya. Saya segera mengiyakan dengan mengangguk pelan mengingat-ingat sekian kali pernah melihat film porno berbarengan kawan-kawan cewekku.

“Kalo gitu ya anda tentu dapat Vicki, serta mulai saat ini anda tidak usah malu-malu, he he he, ” balasnya sembari tertawa. Mendadak Pak Gatot memegang belakang kepalaku serta menarik ikat rambutku yang masihlah terpasang terlebih dulu. Rambut hitam panjangku yang agak bergelombang terurai di bahuku. “Kamu cantik serta seksi sekali Vicki sayang, ” tuturnya sembari memandangi wajahku.

Baca Juga : Ternyata Lebih Nikmat Ngentot Dengan Tante Tante

Saya tersenyum sipu sesaat Pak Gatot memegang ke-2 tanganku serta menaruhnya di pinggangnya. Lalu Pak Gatot sedikit mengangkat pinggulnya. “Ayo diplorotin, jika ingin saksikan kontol Ayah tidak usah sungkan, ” candanya lagi. Dengan bantuannya saya mulai menurunkan CD-nya sampai ke paha serta mataku segera terbelalak lebar saat senjata Pak Gatot bebas dari sarangnya. Kontol Pak Gatot nyatanya demikian indah walau terlihat menyeramkan.

Berwarna hitam pekat, demikian besar dengan panjang sekitaran 12 cm serta diameter sekitaran 6 cm. Kontol yang telah disunat itu dilengkapi dengan ujungnya yang berwarna coklat keungu-unguan. Sepasang buah zakar hitam besar dengan bulu lebat juga tak terlepas dari pandanganku.

Saya cuma dapat melihat takjub serta melongo, mataku seperti terhipnotis oleh kontolnya. “Kenapa sayang, miliki pacarmu tidak segede ini dahulu? ” tanyanya. Saya menerangkan kalau panjangnya mungkin saja nyaris sama, namun kontol Pak Gatot lebih lebar. “Lho janganlah kaget ya, ini masihlah semi ereksi, ” imbuhnya. “Hah? ” jeritku lebih melongo.

Lalu Pak Gatot menyuruhku menurunkan CD-nya hingga ke-2 kakinya, hingga kami berdua keduanya sama telanjang bulat. Sungguh panorama yang tidak sering tampak, ABG wajahnya lugu, berkulit putih mulus dengan payudara besar tengah berjongkok diantara ke-2 paha pria 1/2 baya berperawakan menyeramkan dengan kulit hitam pekat yang duduk di pinggir ranjang.

Pak Gatot dengan sabar mencermati reaksi wajahku serta menungguku beraksi sesaat ke-2 tangannya berpegangan di pinggir ranjang. Dengan sedikit gemetaran tetapi telah termonitor oleh nafsu membara, saya mencapai kontol Pak Gatot serta mengocoknya pelan-pelan memakai tangan kananku. Jari-jariku yang mungil hampir tak dapat memutari keseluruhnya dari diameter kontolnya.

Saya mulai mengocok kontol Pak Gatot naik turun, sembari sesekali lihat berwajah. Pak Gatot begitu nikmati serta terkadang satu diantara tangannya membelai-belai rambutku. Sesudah kukocok sebagian waktu, dalam waktu relatif cepat kontol Pak Gatot jadi tambah panjang, mungkin saja sekitaran 18 cm.

“Ini baru kontol Ayah yang sebenarnya, enak banget anda ngocoknya Vicki, ” desahnya. Saya semakin semangat serta mulai mengocok kontol Pak Gatot dengan dua tangan, naik turun serta lebih lama lebih cepat. Lalu fikiranku untuk sebentar terbang ke satu diantara film porno yang pernah saya lihat serta berupaya kuingat sebagian adegan oral sex.

Saya melepas tangan kiriku dari rudal hitam itu, sesaat tangan kananku memegangi pangkal kontol Pak Gatot dengan erat sembari kumajukan kepala serta kubuka mulut. Bibirku yang mungil terbuka lebar serta segera mengulum kepala kontol Pak Gatot. “Mm.. ” desahku sembari menyedot-nyedot pelan.

“Oh Vicki.. hebat bener anda sayang, ” desahnya keenakan. Saya betul-betul telah seperti gadis liar seperti di film-film BF itu serta sedotanku semakin lama semakin kuat serta dalam, walau ukuran kontol Pak Gatot membuatku cuma dapat memasukkan sekitaran setengahnya tiap-tiap sedotan. Tak tahu belajar darimana, lidahku juga mulai beraksi dengan menjilati ujung kontolnya.

Kulihat sekilas muka Pak Gatot tunjukkan ekspresi yang begitu senang serta membuatku berbangga walau ini adalah oral sex pertamaku. Sesudah menyedot serta menjilati kontolnya sebagian waktu, saya melepaskannya dari mulutku hingga terdengar nada ‘plop’.

Kupandangi kontol hitam yang saat ini nyaris setengahnya mengkilap terserang jilatan lidahku. Seperti kurang senang, ubahan kupegangi kepala kontolnya sesaat lidahku menjelajahi sisi bawah serta pangkal kontol Pak Gatot. Desahan Pak Gatot lebih panjang.

“Kamu lugu-lugu nyatanya liar di ranjang ya Vicki, mm.. ” Saya tersenyum senang waktu kupandangi kontol Pak Gatot telah mengkilap nyaris semuanya. “Kamu pinter banget Vicki, anda basahin kontol Ayah seperti gini agar siap dimasukkan di memek anda ya? ” senyumnya. Sekali lagi muka merahku dengan senyuman tidak tebal kembali tampak. Kemudian Pak Gatot mengangkatku berdiri serta merebahkan badanku kembali di tengah-tengah ranjang.

Dibukanya ke-2 pahaku lebar-lebar serta Pak Gatot mengambil posisi salah satunya sembari memegangi senjatanya. “Pak, pelan-pelan ya? Miliki Ayah besar sekali. Saya agak takut, ” kataku waktu itu. “Ha.. ha.. ha.. tidak usah takut, pokoknya anda tentu seneng, ” jawabnya.

Pak Gatot juga memberitahuku tidak usah cemas hamil, lantaran nanti ia akan tidak keluarkan air maninya di memekku. “Biar seperti di BF-BF itu Vicki, ” tuturnya. Saya yang berbaring telentang menjawab dengan kepalaku, yang dialasi bantal empuk, mengangguk-angguk.

Saya menahan nafas waktu Pak Gatot mulai memasukkan kontolnya ke arah memekku yang telah basah sejak dari tadi. “Oh.. Pak.. ” jeritku kecil. Rasa-rasanya bener-bener nikmat walau mungkin saja baru ujung kontol Pak Gatot saja yang tenggelam di memekku. Kulihat Pak Gatot mulai memompa serta memegangi kontolnya keluar masuk dari memekku hingga menggesek-gesek klitorisku yang semakin basah.

Saya sungguh-sungguh terbuai, serta lalu dengan sekali sentakan kulihat separuh kontol Pak Gatot masuk ke memekku. “Oh.. Pak Gatot.. ” desahku dengan nafas berat. Lalu Pak Gatot mengarahkan ke-2 tangannya ke arah gunung kembarku serta mulai meremas-remas dengan agak kasar, sembari memaju mundurkan kontolnya keluar masuk memekku.

“Oh Pak Gatot.. ” Saya telah betul-betul lupa diri, yang ada di fikiranku waktu itu hanya kesenangan liar ini. Beberapa gerakan serta tanggapan badanku mungkin saja telah seperti cewek-cewek dalam film-film porno yang pernah kulihat. Gabungan dari gesekan-gesekan kontol Pak Gatot di memek serta klitorisku dan remasan-remasan kasar telapak tangannya di buah dadaku yang sangat peka membuatku menjerit serta mendesah tak karuan dengan liarnya.

Lalu sembari tetaplah meremas-remas sepasang payudaraku, Pak Gatot bergerak maju serta menciumi bibirku. Saya membalas dengan penuh nafsu, bibir serta lidah kami sama-sama bermain keduanya. Sesudah senang menciumiku, Pak Gatot mulai memompa kontolnya dengan lebih cepat. Sembari tangannya bertumpu dengan meremas-remas buah dadaku, Pak Gatot bergerak maju mundur amat cepat serta kuat. Pandangan penuh nafsu Pak Gatot di wajahku kubalas dengan reaksi sama.

Mungkin saja lantaran basahnya memekku, kulihat waktu itu Pak Gatot dapat memasukkan semua kontolnya pada tiap-tiap sentakan. Kami berdua telah keduanya sama mandi keringat, terlebih urat-urat serta otot-otot di sekujur badan Pak Gatot terang tampak. Cuma nada desahan serta lenguhan liar seperti binatang dari kami berdua yang terdengar di kamar.

Pada akhirnya saya tak tahan lagi, orgasmeku yang ke-2 datang. Saya menjerit begitu keras, serta Pak Gatot malah lebih mempercepat serta menguatkan gerakan dan remasannya. Badan mungilku terguncang hebat, sekali lagi dalam cengkeraman Pak Gatot.

Lalu dipeluknya badanku, kubalas juga dengan erat hingga merasa keringat kami berdua sama-sama bercampur. Pak Gatot tak pernah berhenti memompa kontolnya waktu orgasmeku yang ke-2 itu berjalan. Sesudah klimaksku usai sebagian waktu lalu, badanku tergolek lemas dalam posisi sama-sama memeluk, sungguh kontras sekali ketidaksamaan warna dari badan kami.

Memekku serta kontol Pak Gatot yang tenggelam semuanya merasa begitu basah serta saya kesusahan mengatur nafasku dibawah tindihan badan Pak Gatot. “Asyik sekali anda Vicki, ” tutur Pak Gatot sembari tersenyum ke wajahku. Kubalas lemah senyumannya sembari rasakan kesenangan ini.

Kuberanikan berbisik lemah, “Bapak kok belum keluar? ” Sembari tertawa-tawa, Pak Gatot menjawab, “Kan telah Ayah katakan tidak mungkin saja tidak keluarin di memek anda. Ayah telah kepikiran tidak keluarin pejuh Ayah dibagian badan anda yang lain. ”

“Di mana Pak? ” tanyaku. Pak Gatot cuma membalas dengan senyuman sembari melepas pelukannya serta bangkit dari atas badanku serta lalu mengambil posisi duduk berjongkok di perutku. Terpampang terang di mataku kontol hitam besar Pak Gatot yang lebih mengkilap akibat cairan dari memekku.

“Sudah dua th. ini Ayah senantiasa memikirkan kontol Ayah yang hitam ini dijepit dengan gunung kembarmu yang putih mulus itu lho, ” tutur Pak Gatot. Wajahku yang penuh keringat kembali merah padam. “Kenapa? Anda tidak sukai? ” bertanya Pak Gatot. Saya juga menerangkan kalau mulai sejak lihat satu diantara adegan di BF barat, dimana seseorang cewek yang berpayudara besar menjepit kontol pasangannya, saya sangat menginginkan cobanya.

Namun kujelaskan kalau saya tak berani serta sungkan mengutarakannya pada bekas pacarku yang dahulu. “Ha ha ha.. jika demikian kita bener-bener pas Vicki. Mari saat ini anda pegangi gunung kembarmu itu! ” kata Pak Gatot seperti tak sabar.

Kuturuti serta kupegangi semasing payudaraku, sesaat Pak Gatot sedikit maju serta menempatkan kontolnya persis diantara sepasang bukit kenyalku. Teringat pada adegan BF, saya segera menjepit-jepit bukit kembarku itu, merasa sekali kontol Pak Gatot yang keras bergesekkan dengan kulit mulus payudaraku.

Jujur saja saya begitu terangsang lihat kontrasnya warna kontol Pak Gatot serta payudaraku, membuatku semakin semangat serta mulai memijat-mijat buah dadaku dengan kuat. Sekilas kulihat reaksi muka Pak Gatot yang tunjukkan kesenangan tidak ada tara. Saya begitu suka dengan ekspresinya, walau sekali lagi kutekankan kalau muka Pak Gatot bisa disebut sekalipun tak tampan.

Pak Gatot yang sejak dari tadi diam serta nikmati pijatan payudaraku, lalu mulai memaju mundurkan kontolnya sembari ke-2 tangannya berpegangan pada ukiran-ukiran tiang ranjangnya yang luks serta eksklusif itu. Kombinasi keringat serta cairan memekku bikin Pak Gatot dengan gampang menggerakan kontolnya di selama belahan dadaku.

Saya tak pernah berhenti memijat, meremas, serta menjepit payudaraku hingga kulihat mata Pak Gatot merem melek. “Oh Vicki sayang..! ” jerit Pak Gatot sesekali. Gerakan Pak Gatot semakin lama semakin cepat, sesaat saya juga memperkuat pijatan serta remasan. Lantaran payudaraku yang sangat peka rasakan kerasnya kontol Pak Gatot, kurasakan ledakan-ledakan kecil di memekku.

Saya juga kerap mendesah-desah tak karuan. Kuperhatikan dorongan kontol besar Pak Gatot bikin ujungnya semakin lama semakin dekat ke daguku, kurasakan juga buah zakarnya bertabrakan dengan pangkal payudaraku dalam tiap-tiap dorongan yang dikerjakannya. Dengan beralaskan bantal, kumajukan mulutku serta mulai memberi jilatan-jilatan cepat liar setiap saat kepala kontol Pak Gatot mendekat. Sepintas kulihat mata Pak Gatot terbelalak dengan keagresifanku ini.

“Kamu semakin liar saja Vicki, Ayah bener-bener tidak tahan! ” desahnya. Dengan trampil kuberikan kesenangan pada Pak Gatot, jilatan-jilatan lidahku pada ujung kontolnya dan remasan-remasan payudaraku menggesek kontolnya. Saya benar-benar menginginkan membalas semuanya kesenangan yang terlebih dulu diberikan Pak Gatot terhadapku, tak perduli lagi status serta ketidaksamaan umur kami.

Gerakan serta ekspresi kami telah seperti sepasang kekasih yg tidak dapat lagi menahan nafsunya atau mungkin saja seperti dua bintang film porno. “Oh Vicki sayang! ” Pak Gatot pada akhirnya menjerit keras serta hentikan gerakannya.

Kontol Pak Gatot masihlah terjepit diantara buah dadaku serta ujungnya persis dekat di depan bibirku yang sedikit menganga. Berbarengan dengan itu, air mani atau pejuh dari kontol Pak Gatot muncrat! Tembakan-tembakan deras pejuh Pak Gatot membasahi serta lengket di beberapa besar muka serta bibirku.

Saya tak pernah berhenti meremas-remas payudara sembari menelan serta menjilati air mani Pak Gatot yang menghadap ke bibirku serta keluar dengan derasnya. Saya hingga kewalahan dengan adanya banyak air mani yang keluar dari kepala kontol Pak Gatot. Lalu Pak Gatot bergerak maju mundur lagi, hingga air maninya muncrat serta mendarat tak teratur di dagu, leher, dada serta pastinya sepasang payudara serta putingku.

Pada akhirnya Pak Gatot berhenti bergerak walau kontolnya masihlah diantara ke-2 payudaraku. Kulepaskan satu diantara cengkeraman tanganku dari buah dadaku, lantas kupegangi kontol Pak Gatot yang masihlah sedikit keras. Lalu kugesekkan ujung kontolnya dengan buah dadaku yang ditahan oleh tanganku yang lain. Tidak luput juga sesekali kugesek ujung kontol Pak Gatot dengan puting merah mudaku.

Saya juga tak mengerti dari tempat mana kupelajari gerakan seperti itu, mungkin saja dari BF-BF itu serta mungkin saja benar juga kata Pak Gatot kalau saya maniak. Kuratakan ceceran pejuh Pak Gatot dengan ujung kontolnya bertukaran di semasing gunung kembarku.

Sesudah senang, pada akhirnya kulepaskan genggaman tanganku dari kontolnya serta payudaraku, lalu kuusap-usap sekujur muka, bibir, leher serta dadaku yang terlebih dulu tersemprot dengan pejuh Pak Gatot, dan kujilat-jilat serta kutelan air maninya seperti binatang kehausan.

Dengan muka, bibir, leher, dada serta sepasang bukit kenyal dan ke-2 puting merah mudaku masihlah sedikit belepotan serta lengket dengan air maninya, kuberanikan diri tersenyum menggoda ke arah Pak Gatot yang masihlah belum beranjak dari posisi duduk berjongkok diatas perutku.

“Oh Vicki! Anda bener-bener seksi banget! Hebat! ” teriak Pak Gatot senang sembari memandangiku. Kemudian Pak Gatot berbaring lemas di sebelahku, badan kami yang telah basah serta mandi keringat sama-sama berpelukan. Pak Gatot nampaknya juga tak jijik dengan air maninya sendiri, dapat dibuktikan kami sama-sama berciuman serta berpagutan dengan beberapa bekas tenaga yang kami mempunyai.

Kulihat waktu itu jam 1/2 6 sore serta kami bicara serta bercanda dengan enjoy sekitaran 1 jam-an sembari berbaring. Kami sama-sama menceritakan, saya mengulas kesulitan-kesulitanku dalam hadapi pelajaran-pelajaran di sekolah, sesaat Pak Gatot banyak mengungkapkan kesepiannya

lantaran mulai sejak dahulu tiga anak-anaknya kuliah diluar kota serta istrinya bekerja dari sore hingga malam. Walau berkecukupan serta jalinan mereka berdua masihlah serasi, Pak Gatot masihlah kerap terasa kesepian. Sebelumnya istrinya menopause ia masihlah aktif berseks ria walau istrinya agak kewalahan menyeimbangi.

Ia mengakui terasa muda lagi sesudah terkait denganku ini. Pak Gatot juga menerangkan kalau mulai saat ini saya tak perlu cemas dengan nilai-nilai ulanganku. Namun Pak Gatot berjanji tetaplah bakal membantuku belajar, jadi saya bukanlah dia anggap sebagai ‘pemuas nafsu’ belaka.

Lantas kami berdua keduanya sama kenakan pakaian serta membereskan diri. Pak Gatot mengajakku makan di tempat tinggalnya serta kemudian ia mulai mengajariku. Ia juga memberikan kalau cost untuk les privatku ini digratiskan saja, saya tak perlu membayar.

Saya bener-bener berterima kasih kepadanya. Mungkin saja lantaran Pak Gatot telah menyukaiku, kesadisannya seperti umum di kelas tak tampak, terlebih dengan cepat saya bisa menangkap beberapa bahan pelajaran kimia yang diberikannya. Sesudah usai saya diantarnya pulang ke tempat tinggal dengan mobil sedannya.

Dalam perjalanan Pak Gatot menginformasikan supaya kami berlaku bebrapa umum saja di sekolah. Di kelas ia tetaplah bakal memperlakukan seperti murid-murid yang lain. Pak Gatot juga bertanya apakah saya dapat datang ke tempat tinggalnya besok di saat yang sama jam 4 sore. Saya menyepakatinya serta selalu jelas berdebar-debar juga pikirkannya.

Saya hingga dirumah sekitaran jam 8 malam serta segera mandi untuk beri kesegaran diri. Sekianlah awal petualanganku jadi ’simpanan’ wali kelasku sendiri serta begitu suka pada sex.

Komentar Anda

comments