agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Cerita Dewasa Sedarah » Nina, Kakak Iparku
nina kakak iparku

Nina, Kakak Iparku

Cerita Dewasa – Hari ini begitu sibuknya bossku, yang berarti juga aku disibukkan dengan pekerjaanku. Setelah seharian mengetik dan duduk berjam-jam menghadapi komputer dengan ketikan begitu seabrek, dan mata yang sudah mulai meredup, karena layar monitor. Karena hal itulah aku jadi selalu lupa waktu, tidak terasa jam demi jam aku lalui, hari begitu cepatnya karena …

Review Overview

User Rating: Be the first one !
0

Cerita Dewasa – Hari ini begitu sibuknya bossku, yang berarti juga aku disibukkan dengan pekerjaanku. Setelah seharian mengetik dan duduk berjam-jam menghadapi komputer dengan ketikan begitu seabrek, dan mata yang sudah mulai meredup, karena layar monitor. Karena hal itulah aku jadi selalu lupa waktu, tidak terasa jam demi jam aku lalui, hari begitu cepatnya karena memang aku menikmati pekerjaanku.

Sudah selama 10 tahun aku bekerja di kantorku, itupun tidak terasa. Dan sudah delapan tahun aku mengarungi bahtera rumah tangga. Dengan satu anak yang cantik, aku selalu menyayangi keluargaku. Jum’at malam setelah selesai melaksanakan tugas-tugas di kantor, kuparkirkan motor yang masih kreditan yang selalu setia mengiringi dalam tugas-tugasku. Setelah itu beristirahat melepaskan lelah, aku sangat senang, walaupun hari ini sangat sibuk, tetapi ingat kalau kantor tempatku bekerja pada hari Sabtu libur. Kududukan pantatku di ranjang sambil menyalakan TV. Tepat saat itu tidak sengaja kupilih acara Duel Maut dari SCTV secara langsung disiarkan. Sebetulnya aku lebih suka melihat film-film yang berbau horor, atau berita kriminal. Tapi entah kenapa hati ini tidak memindah channel TV tersebut.

Kulihat goyangan-goyangan maut dari para artis cantik. Dan ketika melihat acara tersebut aku baru sadar kalau pinggul-pinggul artis tersebut bulat-bulat seperti dua bola yang saling beriringan bergerak. Pikiranku mulai nakal melayang-layang entah kenapa, tapi yang jelas kupikirkan kalau diantara dua bola tersebut ada lubang sempit. Kulihat isteriku sudah pulas tidur menelungkup, mungkin tidak menyadari kedatanganku malam ini. Sementara anakku sudah tidur dulu di kamar sebelah. Setelah mandi dan menyegarkan diri, aku membuat kopi dan menyulut rokok sambil terus melihat acara di TV yang belum kupindah channelnya.

Lama kelamaan pikiranku mulai melayang jauh melihat acara tersebut. Dengan dinginnya malam, apalagi setelah mandi dan keramas, membuat tubuh ini kedinginan. Apalagi aku masih dalam keadaan hanya tertutup handuk saja. Dengan keadaan seperti ini membuat “adikku” bangun malam. Perlahan-lahan tapi pasti si-dia mulai unjuk diri. Kutoleh isteriku yang setia disampingku. Masih lelap. Sementara burungku sudah mulai berdenyut-denyut. Mau kubangunkan, tetapi kasihan, takut capek. Apa boleh buat, aku hanya memegang penisku saja.

Lama kelamaan penisku semakin keras, dadaku berdetak tidak beraturan dan napasku tersengal-sengal. Kubuka handukku yang menutup tubuhku bagian bawah dan memang penisku sudah sangat keras. Kupegang erat-erat dengan kedua tanganku, menahan gejolak yang ada. Ternyata kedua tanganku dapat memegang batang zakarku sepenuhnya, yang berarti penisku bisa mencapai 18 cm. Kulihat helm yang “melindungi”-nya, begitu bulat. Sementara batang kemaluanku hampir 4 cm dengan urat-urat tidak beraturan yang mengelilingnya. Sudah tak tahan rasanya. Kuhampiri isteriku tanpa kubangunkan, sambil terus membayangkan pantat sang penyanyi, kugerayangi pantatnya. Isteriku hanya mengeliat sebentar lalu tertidur lagi, kali ini dengan posisi miring. Dasternya sedikit tersingkap, darahku berdesir melihat pantatnya. Walaupun tidak sexy, tetapi melihat bayangan pantat orang lain membuatku sungguh sangat bernafsu.

Entah kenapa malam ini aku sangat menyukai pantat. Kubuka daster isteriku, kulihat celana dalamnya hanya menutupi sebagian kecil pantatnya. Segitiga itu kuturunkan perlahan-lahan, takut membangunkan isteriku. Tetapi ternyata isteriku bangun, dan terkejut melihat aku sudah disampingnya. Tetapi lebih terkejut lagi melihatku sudah telanjang bulat.

“Sudah pulang, Mas?” tanya isteriku. Aku hanya terdiam saja.
“Aku mau pipis dulu”

Lalu dia pergi ke kamar mandi. Aku rebahan di ranjang. Masih menonton TV, kupikir-pikir, jika para wanita banyak yang memamerkan tubuhnya, kenapa para lelaki tidak memamerkan kemaluannya. Dengan pikiran semacam itu, penisku semakin tegang, membayangkan penisku yang kaya pisang ambon hitam ini ada yang melihat, selain isteriku. Pasti akan terkejut, terkejut senang tentunya.

“Kenapa, Mas?” tanya isteriku mengagetkan.

Walaupun dia tidak terkejut melihat pisang ambonku, tetapi mana ada wanita yang tahan melihat si hitam ini, walaupun sering melihatnya. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung menghampiriku, lebih tepat lagi menghampiri kontolku. Diraihnya dengan mesra, dibelai-belai dengan perlahan, seolah-olah takut kalau mengenai kukunya.

“Mas, aku mau tanya…” kata isteriku.
“Tanya apa?” kembali aku bertanya.
“Kenapa kontolmu bisa segede ini?” aku hanya diam saja.
“Aku cuma mikir, kalau barang segede ini dimasukkan ke cewek lain, pasti ceweknya senang, ya Mas?”.
“Jadi kamu senang kalau aku nggenjot cewek lain?”
“Nggak tahu lah…” jawabnya.
“Sebetulnya kalau cewek melihat kontol, itu terkejut, senang atau takut sih?”
“Mas kalau melihat cewek sexy bugil, suka nggak?”
“Tentu suka..”
“Mas ingin menindihnya nggak..?” tanya isteriku mulai serak, nggak tahu kenapa.

Sementara aku masih diam.

“Tentu saja Mas ingin mencumbunya, memeluknya dan terakhir ingin melihatnya merintih-rintih, bukan?” kata isteriku mulai menciumi kemaluanku.
“Begitu juga dengan si ceweknya, Mas. Dia ingin disayang, dibelai, dan terakhir ingin merasakan barang sang cowok masuk ke memeknya. Dia ingin merasakan jalannya barang itu perlahan-lahan, dan ingin menikmati semprotannya di dalam rahimnya. Jika sang cewek menjerit melihat kontol, itu adalah perasaan yang sangat mendalam dan begitu tiba-tiba. Perasaannya bercampur-campur, seperti yang kubicarakan tadi. Hanya saja sang cewek selalu bersikap jual mahal, padahal vaginanya sudah membasah, bertanda dia terangsang.”
“Apalgi kalau melihat barangku ya Mah?” tanyaku menggoda.
“Tapi aku ragu barangmu bisa main dua kali,” tanya isteriku sambil dengan tiba-tiba melahap semua kemaluanku.

Sontak saja aku kaget bukan kepalang melihat serangan fajar tersebut. Kurasakan gigi kecil isteriku yang mengeret-eret batang zakarku. Sementara itu tangannya mulai menelusup ke pantatku, meremas-remasnya. Kini isteriku yang semula lembut menjadi binal, tangan yang satu meremas-remas pantatku, tangan yang lain meremas batang zakarku, sementara kepalanya naik turun.

“Argh.. Ach.. Ah.. Huh, ach…” tak urung aku yang pendiam menjadi ceriwis, aku jadi kaget sendiri.

Sambil menghisap, mengenyot, menjilat-jilat helmku. Tak puas dengan semuanya, seakan ingin segera mengeluarkan semua isi maniku. Akupun tak kuasa menahan gejolak dalam darahku. Sambil meremas-remas yang ada disekitarku, kakiku menggelinjang-gelinjang, seakan-akan kontolku bertambah panjang dan panjaang.. Hampir selama setengah jam ini isteriku ngenyot barang mainannya, seakan baru dibelinya dari pasar johar.

“Mach.. Akhu.. U. Uu. U.. Mahu.. Keluarr…” aku mengigau atau entah apa namanya.

Seiring dengan itu, semua ototku terasa mengeras dan kaku, apalagi kontolku. Isteriku dengan sigap diam ditengah-tengah batang zakarku, yang memang tidak bisa ngenyot semuanya. Seperti selang air yang ditahan, aliran air maniku terasa berjalan, menggelembung di tengah batang zakarku, dan akhirnya menyemprot keluar dengan derasnya. Tidak setetespun keluar, karena memang isteriku sudah langsung menelannya sebagai jamu. Sementara itu aku masih meregang, seperti hendak meregang nyawa saja dan perlahan-lahan seluruh tubuhkupun lemas tak berdaya. Selama 10 tahun perkawinan ini, baru ini melihat isteriku sebinal itu. Setelah beberapa saat, kamipun beristirahat.

“Jamu air mancur, nich.. Enak bener. Kayak telur ayam bangkok,” kata isteriku manja penuh kepuasan, melihat suaminya meregang tubuh.
“Kamu kenapa mah, tumben galak banget,” tanyaku.
“Nggak, aku cuma bayangin, pisangmu ini disayang cewek lain. Mungkin kalo bisa dicopot, bisa buat rebutan ngenyotnya. Yang satu ingin ngenyot, yang satu ingin dimasuki, yang satu ingin buat mainan. Kayaknya asik yang Mas, kalo dipinjam-pinjam…” kata isteriku panjang lebar.
“Hus.. Emang gue cowok apaan. Gede-gede begini, cuma kamu yang ngerasain”.
“Tapi aku kalo mbayangin Mas bersetubuh dengan cewek lain, kayaknya aku cemburu, tapi penuh nafsu. Suatu kenikmatan sendiri melihat suaminya menyentuh cewek lain”.
“Contohnya sama siapa?” pancingku.
“Yach, nggak jauh-jauh dululah, seumpama sama Mbak Nina, kayaknya dia akan melem merek juga”

Aku kembali terdiam. Membayangkan wajah dan tubuh Mbak Nina, kakaknya isteriku, walaupun tidak cantik, namun memiliki body yang sintal putih, wajah yang bersih dan selalu di make up. Itu hanya luarnya saja, kalau dalamnya.. Tanpa sadar pikiranku mulai menerawang jauh memikirkan Mbak Nina yang putih itu. Perlahan-lahan peniskupun mulai tumbuh lagi, semakin lama semakin keras. Dan isterikupun menyadari itu, dengan berdirinya kontolku, diapun merebahkan diri di sampingku, pasrah dan penuh harap.

Tanpa pikir panjang lagi, akupun menindihnya, mengecupnya, menyayangi seluruh tubuhnya, seakan tubuh Mbak Nina kupagut bibirnya, kuremas buah dadanya, kusentuh selangkangannya. Hanya desahan pelan yang dia keluarkan. Akupun segera menyiapkan senjataku, dengan menekan sepenuhnya pangkal kontolku, batangnya semakin keras dan kuat. Kutuntun perlahan masuk gua sempit dan lembab itu, pelan namun pasti. Karena sudah biasa, isterikupun mulai meredup matanya, ngomongnya sudah tidak beraturan, tangan dan kaki entah meninju apa.

“Ahh.. Mass.. Apa ini.. Kenapa bisa hangat.. Ach.. Aw.. Aw.. Aw…” isteriku manja sekali.

Rintihannya semakin lama semakin keras dan bernafsu.

“Mas.. Aw.. Ww.. Ww.. Hh.. Hh. Hh…”

Walaupun sudah agak kendur, tetapi klep isteriku masih lumayan juga. Daya cengkeramnya masih kuat. Kudorongkan semua penisku sampai ke pangkalnya, hingga tak tersisa.

“Aww…” menjerit kecil, lalu isterikupun diam tak bernapas, tak ingin melepas kenikmatan yang ada, namun kenikmatan itu selalu menghampirinya.

Pantas saja isteriku jalannya agak pekoh, lha wong tengahnya aja diganjeli pisang segede ini hampir 10 tahun. Lalu akupun mulai tancap cabut, naik turun sebagaimana orang kawin lazimnya. Beberapa menit kemudian banjirlah daerah kemaluannya. Seperti biasanya isteriku, hanya beberapa menit saja. Sedangkan aku minimal butuh setengah jam untuk menyemprotnya. Walaupun agak pegal juga setelah disedot habis, tak urung jua maniku menyemprot sebanyak banyaknya.. Isteriku lemas, puas, sedangkan hatiku masygul.. Hambar.. Sudah 3 hari Sabtu ini aku memamerkan pisangku. Karena iseng dan tidak ada kerjaan.

Isteriku baru pergi bekerja, sementara anakku sudah sekolah dan akan pulang agak sorean karena ada acara Pramuka. Suami dari kakaknya isterikupun sedang bekerja di perusaahaan swasta. Dengan berdiri di depan jendela kamarku yang menghadap jalan, pagi-pagi para cewek yang pergi ke pabrik dengan pakaian rok mininya, kupertontonkan pisangku. Jika mereka melihat ke jendela untuk mematut diri, aku selalu menghindar, masih takut-takut. Ada rasa puas tak terhingga jika aku berhasil memamerkan barangku. Walaupun hanya pandangan sebalik saja, artinya aku bisa melihat mereka, tetapi mereka tidak bisa melihat aku.

Sedang asik-asiknya aku mempertontonkan pisangku sambil ku elus-elus, tiba-tiba dari belokkan rumah Mbak Nina datang, rupanya habis belanja dia. Dan kulihat dia menatap ke arah jendela, kaget mungkin atau lebih tepatnya terpana. Aku sendiri kaget dibuatnya. Untuk sementara kami hanya saling berpandangan, sementara dia tidak lepas dari pandangannya kepada pisangku. Lalu dia kembali berjalan memasuki rumah sambil menundukkan kepalanya. Entah malu entah kenapa, sementara aku duduk ke ranjang dengan jantung berdegup sangat kencang.

Kutenangkan pikiranku, kerebahkan tubuhku diranjang. Perlahan-lahan pikiranku mulai tenang, dan akupun tertidur. Pukul 11.00 WIB, aku terbangun setengah kaget dan perut kelaparan. Kucari-cari makanan di dapur, rupanya isteriku tidak masak. Lalu aku ke belakang, ke rumah kakakku. Kuambil nasi, seperti biasa kalau isteriku tidak masak, aku dan anakku selalu menumpang makan di tempat kakakku itu. Sambil makan dengan lahapnya, aku menonton TV di rumah kakakku itu. Kudengar kamar mandi seperti ada orang yang sedang mandi, gebyar gebyur.. Lalu terdengar pintu kamar mandi dibuka, setelah itu rupanya kakakku baru habis mandi. Agak kaget dia karena tidak mengira kalau ada aku sedang menonton TV. Sambil agak berlari, dia menundukkan kepalanya malu, ya tentu saja karena dia hanya menutupi tubuhnya dengan handuk kecil saja.

“Maaf ya Dik…” katanya lirih sambil berlari kecil.

Entah apa maksudnya. Sebetulnya aku yang harus minta maaf karena melihat tubuhnya dibalut handuk kecil. Sepintas yang terihat sebagian kecil buah dadanya sampai pangkal pahanya, tentunya pembaca dapat membayangkan gambarannya. Sementara buah dadanya yang lain (tidak tertutupi) dia kempit dengan kedua belah tangannya, tentu saja tidak bisa menutupi seluruhnya dan terlihat belahannya yang montok. Belahannya saja sudah montok apalagi seluruhnya. Sementara bagian bawahnya terlihat pahanya yang putih mulus bersih. Teringat perkataan isteriku beberapa malam yang lalu, melihat tubuh kakakku yang putih mulus bersih perlahan-lahan pisangkupun mulai menari-nari.

Tak kuasa aku menahan nafsuku, mungkin karena pisangku yang terlalu besar, atau karena isteriku sudah mengijinkan aku mencoblos cewek lain, jangan yang jauh-jauh dulu seperti Mbak Nina dulu. Panasya siang itu membuatku gerah, segera kubuka baju dan celanaku. Kulihat kontolku sudah menyebul keluar dari celana dalam. Dengan jantung yang berdebar keras, kuhampiri kamar kakakku. Kubuka pintunya dan.. Kakakku menjerit kaget. Rupanya dia habis berdandan, namun masih memakai handuk kecilnya. Lebih kaget lagi melihatku dibalik kaca hanya memakai celana dalam saja sementara sebagian kontolku sudah menyembul keluar.

“Mau apa Dik?” tanyanya kaget dan bingung.

Masih menatapku dari balik kaca. Aku diam saja sambil terus menghampirinya. Ketika dia membalikkan tubuhnya, langsung kudekap sambil terus memandang wajahnya yang bersih.

“Jangan.. Jangan Dik, kamu sudah gila ya?” tanyanya sambil meronta.

Aku tidak mempedulikannya. Kuciumi wajah dan lehernya. Dia hanya meronta-ronta masih sambil berteriak-teriak.

“Kalau nggak mau berhenti, aku teriak!” ancamnya.
“Teriak saja Mbak, biar semua orang tahu kalau kita berdua sudah beginian,” jawabku.

Rupanya dia berpikir panjang, dan menghentikan ancamannya. Selama dia berpikir, kubalikkan tubuhnya yang mulus, kutengkurapkan di pinggir ranjang, sambil membuka handuknya. Kulihat tubuhnya benar-benar mulus, sementara kakakku hanya diam saja seribu bahasa, entah apa yang ada dipikirannya. Setelah dia tidak meronta dan tidak mengancamku lagi, aku baru tenang dan mulai memeluknya dari belakang.. Kakakku meredup matanya, rupanya menikmati kehangatan ini. Kuciumi wajah dan lehernya dari belakang, sambil menikmati kehangatan tubuhnya yang mulus.

“Dik, kenapa kamu melakukan ini..?” tanyanya.
“Karena Mbak cantik, perlu dilindungi dan dikagumi”.
“Tapi kenapa harus begini?”
“Memang harus begini cara mengagumi Mbak, dengan mencintainya sepenuh hati,” kataku sambil terus menciumi punggungnya, menggelinjang Mbak Nina.
“Maksudku, kenapa harus sekarang beginiannya?” tanyanya manja sambil menutup kedua belah matanya.

Malu diperlakukan manja seperti itu. Aku jadi mengerti, selama ini Mbak Nina juga menaruh hati padaku. Makanya setiap menatapku dia selalu menundukkan kepalanya.

“Aku takut Mbak tidak mau menerimaku,” kataku.
“Setelah lihat kontolmu, mana mau yang menolakmu?”
“Jadi Mbak lihat kontolku ya?” tanyaku penasaran.
“He-eh, di kamar mandimu yang terbuka itu, aku pada waktu itu nggak masak nasi, nggak sengaja aku lihat kamu lagi mandi, kulihat kontolmu yang lemas. Lemas saja sudah panjang gitu, apalagi kalau keras. Makanya ketika kulihat di jendela itu, aku kaget setengah mati. Apa itu ditujukkan kepadaku apa nggak, tapi aku jadi malu takut geer-an. Makanya aku masuk sajahh…” katanya lirih.

Karena kalimat terakhir itu aku menelusupkan tanganku ke dadanya yang terhimpit antara tubuhnya dan kasur. Kuremas penuh kasih sayang.

“Ach.. Kenapa kamu sejahat ini, menyiksakku.. Ahh.. Ahh,” rintihnya manja.

Kutarik tanganku yang satunya, kugapai tangannya yang meremas-remas seprei. Kutuntun ke kejantanannku yang sudah menegang, yang hendak merasakan sentuhan cewek lain pertama kalinya. Ketika dia memegang kontolku, langsung menarik kembali tangannya.

“Aww… apa itu Dik? Gila, gede banget.. Takut ach, takut, takut…” berulang-ulang dia katakan itu tanpa berani menatapku, apalagi menatap kontolku. Semakin bernafsu saja aku, kutarik kembali tangannya dan kupaksa memegangnya. Pertama-tama dia hanya memegangnya tanpa melepasnya sedetikpun, lalu kerasakan pegangannya semakin erat. Tangannya yang mungil tidak bisa sepenuhnya melingkari kontolku. Lama-lama dia meremas-remas kontolku dengan penuh nafsu sambil mengocoknya, masih belum berani melihatnya.

“Ahh…” tanpa kusadari aku menyeringai keenakan.

Keselipkan tanganku diantara kedua bokongnya yang bulat padat berisi. Sampailah aku pada klitorisnya, besar juga. Kupermainkan sambil kupijit-pijit, kakakku yang montok itu langsung menggelinjang lalu melepaskan kontolku. Tapi tidak, dia memindah tangannya ke pangkal kontolku sambil mencengkeram sekuat-kuatnya. Lalu menuntunnya ke arah liang vaginanya. Aku sudah pahan maksudnya. Tanpa ragu lagi aku dorongkan kontolku ke vaginanya yang kecil, menganga agak berair minta dimasuki kontol. Slep, separuh kontolku sudah masuk, karena agak susah memasukkannya karena sempitnya vagina kakakku.

Kakakku membenamkan wajahnya ke kasur, sambil meremas seprei dan apapun di sekitarnya, seakan-akan mau merobeknya. Rupanya kakakku nggak mau kedengaran jeritannya, terbukti dari erangannya yang teredam di kasur. Asik juga ngontoli kakakku dari belakang ini. Cengkeramannya begitu kuat sekali, spare part made in Japan asli. Seiring dengan erangan kakakku, kutarik dan kebenamkan berulang-ulang kontolku, mencari jalan masuk.

“Argh.. Aw.. Aw.. Aw.. A.. A.. A…” erangan kakakku merintihrintih berulang-ulang.

Seakan-akan menolak, menolak untuk berhenti. Nafasnya sudah memburu, keringatnya bercucuran dimana-mana, tubuhnya bergetar tidak beraturan, kepalanya menoleh kesana-kemari, sedangkan kakinya mulai menggeliatgeliat, di buka pahanya lebar-lebar seakan tidak puas hanya separuh kontolku yang masuk. Kembali aku paham maksudnya, pelan tapi pasti kudorongkan kontolku sepenuh tenaga. Lhess.. Sampai terdengar seiring kontolku yang sudah masuk full. Kakakku bagaikan orang gila yang kesurupan.

“Aww.. Aphaa ini, apa ini.. Ngganjal gede, anget, kasar, asfh…” entah apa lagi yang dia omongkan.

Aku sampai kesulitan mengejanya dalam tulisan. Yang jelas, seluruh tubuhnya sudah basah kusup bagaikan orang mandi. Aku sendiri menikmati vaginanya yang hangat, mencengkeram kuat dengan denyutdenyutnya yang jelas terasa meremas kontolku. Aku mendiamkan sahaja keadaan ini, kurasakan tubuh kami menyatu, tidak ada dua tubuh. Yang kurasakan aku bersatu sama dia, seolah-olah aku memasuki jiwanya. Tiba-tiba dia melepas semua yang ada, aku agak kecewa. Tetapi dia ternyata membalikkan tubuhnya dan naik ke ranjang sambil mengangkat kedua dengkulnya dan membukannya lebar-lebar. Tanpa berani membuka matanya, dia memohon kepadaku..

“Mashh.. Sini Mas… sayangi ahu, nikmati ahu, tindih ahu, milikku akhu…” katanya tidak sadar kalau memanggilku dengan sebutan “Mas”.
“Kenapa Mbak, kamu ingat suamimu?” tanyaku kuatir.
“Nggahh.. Aku ingin kamu jadi suamiku, kalau.. Suami khan boleh menindih isterinya, mahanya ahu panggil kamu ‘Mash’… cepahh.. Sinnii dhong.. Malah ngobrol aja, mau hawin afa arisan…” katanya sudah tidak jelas ucapannya.

Tanpa pikir panjang lagi aku tindih dia, kulumat bibirnya, mula-mula dia menolak, karena masih malu melihat wajahku. Tapi akhirnya dia membalas lumatanku. Ternyata dia lebih liar dari perkiraanku. Aku dilumatnya habis-habisan, sementara tangannya mengocokngocok kontolku tanpa bimbinganku lagi. Kontolku yang sudah basah karena vaginanya, sampai keluar otot-otonya seperti akarakar pohon yang menjalan di batang pohon. Dibimbingnya kontolku ke vaginanya, less.. Kembali dia menjerit tertahan ketika semua kontolku masuk. Gilanya kumat lagi, apalagi setelah aku menaik turunkan pantatku, menancapkan dan menarik kembali kontolku.

“Af.. Ah.. Ah.. Aw.. Aw.. Aw.. Aww.. Aww…” rintihnya keenakan.

Hampir sepuluh menit berlalu, kasur yang kami buat alas sudah basah oleh keringat kami berdua. Tiba-tiba Mbak Nina merengkuhku dan memelukku, kedua kakinya mencengkeram pingganggku erat-erat, sementara mulutnya menggigit pundakku. Sangat perih kurasakan, tetapi aku maklum bahwa dia ingin melampiaskan kenikmatan itu. Tubuhya tiba-tiba bergetar hebat, seperti seorang yang terserang ayan, menggelinjang-gelinjang apa adanya.

Bayangkan saja, tubuh yang montok itu, bisa menggelinjang tanpa menapak ke kasur! Kembali kurasakan vaginanya mencengkeram erat kontolku lebih dari yang tadi, hal itu membuatku sama-sama menggelinjang. Tanpa kusadari kupeluk dia lebih erat sambil meremas pantatanya yang montok. Beberapa saat kami seperti dua orang yang sudah mati. Kurasakan aku seperti mau kencing.. Dan akhirnya akupun mengencingi Mbak Nina.. Semburannya sangat kuat, sampai-sampai Mbak Nina menjerit lemah..

“Trus.. Trusshh.. Semprot yang bannyakhh…” katanya.

Setelah itu, tubuh kamipun melemas.. Kulihat Mbak Nina yang kelelahan, sambil tersenyum sangat puas, matanya yang dari tadi tertutup perlahan-lahan terbuka.

“Makasih, ya Dik. Kamu hebat banget, aku dibuat melayang-layang. Kalau tahu kamu punya pisang ambon sebesar itu, aku dari dulu minta,” katanya manja.
“Yah.. Sama-sama Mbak, akupun sebenarnya jika melihat Mbak Nina yang montok, dengan pepaya yang kenyal, kontolku selalu berdiri. Makanya lain kali kalau mau, ngomong aja ya..?” kataku.
“Habis, punyamu gede banget sih, kayak punya arab. Aku jadi ngeri. Ngeri keenakan”.
“Udah dulu ya Mbak, ntar anak-anak udah pulang,” kataku sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

Akupun memakai celanaku yang di lantai.

“He-emh.. Tapi janji ya, Sabtu depan kamu pamerin aku lagi,” pintanya.
“Pamerin apanya, Mbak?”
“Kontolmu”.
“Iya,” jawabku sambil keluar kamarnya, menuju kamarku lalu akupun tertidur lelap.

Semenjak saat itu, aku selalu memamerkan barangku di depan kakakku. Walaupun secara tidak langsung, dengan memakai celana ketat, kuperlihatkan tonjolan diselangkangan. Mbak Nina hanya senyam-senyum saja, dan senggama kamipun berlangsung tiap Sabtu, hingga kini.

E N D

Komentar Anda

comments