agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Cerita Dewasa Sedarah » November Rain – 1

November Rain – 1

Papa Maya telah meninggal. Mamanya cantik dan seksi karena keturunan Italy-Medan, walaupun sudah berumur 36 tahun saat sedang memperkenalkan calon Papa Maya yang umurnya baru 29 tahun, cakep dan kaya. Anak pertamanya bernama Rina baru kelas 2 SMA dengan tinggi 165 berwajah cantik dan berkulit putih bersih, dan Maya dalam usianya yang ke 15, masih duduk di kelas 3 SMP, walaupun tidak secantik Rina tapi wajahnya oval, sangat manis dengan tubuh yang sangat seksi. Sedangkan yang terkecil bernama Lita kelas 1 SMP, masih sangat kekanak-kanakan.

Frans, calon Papa tersebut adalah orang yang sangat mengasyikkan dan baik hati, sehingga Maya dan saudaranya tidak keberatan dengan pilihan Mamanya. Suasana keluarga begitu nyaman setelah 3 bulan pernikahan Mama mereka. Lita yang paling bungsu begitu dekat dan lekat dengan Frans, seakan memang Papa kandungnya.

Suatu hari Sabtu yang takkan dilupakan, Maya pulang pagi karena ada rapat sekolah. Di rumah biasanya cuma ada Rina yang masuk sekolah siang, jadi Maya yang kecapekan setelah pelajaran olah raga langsung masuk kamarnya di lantai 2. Selang beberapa saat Maya merasa haus dan saat mengambil minum dia baru sadar kalau dia tidak melihat Rina. Maya ke kamar Rina untuk melihat keberadaan Rina, namun sebelum mengetuk pintu dia tertegun mendengar suara asing dari kamar Rina. Penasaran, Maya mengambil kursi dan mengintip dari lubang angin di atas pintu kamar Rina. Dilihatnya Rina dan seorang cowok yang tampaknya adalah pacar Rina sedang bergurau layaknya orang bergulat.

Mereka tertawa cekikikan saling menggelitik, namun tiba-tiba tawa mereka berhenti saat cowok itu mengecup bibir Rina pelan. Rina yang terkejut hanya memandang sesaat kemudian membalas lembut. Mendapat reaksi tersebut sang cowok melancarkan ciuman mautnya sampai Rina mendesah, membalas perlakuan lidah cowoknya yang menari dalam rongga mulutnya. Saat si cowok mengecup leher jenjang Rina, perlahan Maya melihat tangan si cowok mengusap dada Rina perlahan dan meremas lembut.

Rina tampak semakin bernafsu dan tak keberatan saat tangan si cowok menelusup ke dalam kaosnya dan meremas lebih keras payudara Rina yang ranum, bahkan desahan Rina semakin panjang. Mulut Rina terpekik lirih ketika kaosnya terangkat, ternyata kaitan branya sudah lepas sehingga dua bukit itu terpampang dengan indahnya, dan mulut cowoknya pun menjilati puting susunya bergantian. Sambil menjilati, tangan si cowok ganti berpindah mengelus paha Rina yang tertutup kulot selutut, menyingkap kulot sepangkal paha tersebut sehingga memamerkan paha putih mulus Rina. Sedangkan tangan Rina mengangkat kaos cowoknya dan membelai dada cowok itu dengan penuh nafsu. Namun tiba-tiba Rina memegang “adek” si cowok lalu dengan isyarat Rina meminta cowoknya rebahan. Rina membuka ritsluiting celana panjang si cowok dan mulai mengulum kemaluannya yang tiba-tiba tegak mengacung keluar, maju mundur dan sesekali menjilati ujung kemaluan cowoknya sampai cowoknya mendesah kenikmatan.

Kaki Maya masih bergetar tak mengerti ketika melihat cairan putih keluar dari kemaluan cowok Rina dan menumpahi muka Rina, membuat cowok Rina tampak tegang. Lalu dengan hati-hati Maya turun dari kursi dan mengembalikan kursi ke tempatnya, lalu berlari kecil menuju kamarnya. Usai menutup pintu masih terbayang kenikmatan kakak dan pacarnya saat bercumbu. Perlahan tangannya masuk ke dalam celana dalam dan menggosok kemaluannya perlahan, Maya tetap tidak mengerti mengapa tampak begitu nikmat. Sampai akhirnya Maya tertidur.

Ketukan di pintu membangunkan Maya, ternyata hari telah sore dan Mama membangunkannya untuk mandi. Karena masih shock dengan kejadian tadi pagi, Maya minta ijin untuk menginap di rumah Inge, teman akrabnya. Mama mengijinkan asal jangan sampai minggu sore, takut mengganggu belajar untuk hari Senin. Maya menyanggupi dan berangkat dengan taksi tanpa menelpon Inge karena sudah terbiasa menginap di sana.

Rumah Inge cukup besar, tetapi bonyoknya (orangtuanya) jarang ada di rumah dengan kesibukan masing-masing. Saat kaki Maya melangkah masuk, dia sempat terheran dengan sebuah mobil jip yang terparkir di halaman rumah Inge. Setelah menekan bel, Inge keluar dengan muka surprise.
“Kebetulan sekali, ada beberapa temanku yang akan menginap di sini. Ayo masuk, kuperkenalkan,” tukas Inge cepat.
“Bonyokmu?” Tanya Maya, yang dijawab Inge dengan mengangkat bahu, lagi-lagi bepergian.

Maya melangkah masuk dan diperkenalkan dengan 3 cowok dan 2 cewek. 2 cowok, Robby dan Jody, sudah kelas 2 SMA, sedangkan Andhy adalah teman sekelas Inge. Inge dan Maya adalah teman SD, tapi SMP mereka terpisah. 2 cewek yang lain, Adri dan Shinta, adalah teman sekelas Inge juga. Bertujuh mereka bercanda sambil sesekali makan snack yang disediakan Inge. Menjelang tengah malam, Inge mengajak mereka ke ruang tengah dan mengeluarkan sebotol sampanye milik Papanya, ternyata dalam rangka jadiannya dengan Andhy. Maya menolak minum untuk kedua kalinya saat tenggorokannya terasa terbakar, Inge hanya tertawa sambil memeluk Andhy. Namun begitu teringat pada kejadian di rumah, Maya menenggak beberapa teguk sampai kepalanya pusing. Dan Maya pun tergeletak, saat lamat-lamat dia mendengar suara house musik membahana. Pasti kerjaan Inge, pikirnya. Inge memang korban kurang perhatian, apalagi dia anak tunggal.

Entah berapa lama dia tak sadar saat tiba-tiba perutnya mual dan muntah tepat di bawah sofa. Lampu ruang tengah telah berganti temaram, namun dia sempat melihat Inge dan Andhy berpelukan tanpa baju sehelaipun di lantai dengan kemaluan melekat erat dan wajah puas. Maya tertegun. Oh tidak lagi, pikirnya. Dengan dipaksakan dia berjalan menuju kamar Inge, namun sampai di pintu bukanlah pemandangan yang diharapkan. Tampak Shinta telentang telanjang merintih dan mendesah dengan separuh badan di atas tempat tidur sedang Robby tampak sedang berusaha memasukkan kemaluannya ke lubang vagina Shinta yang tampak kecil. Suara Shinta terpekik kesakitan saat tiba-tiba Robby mendorong masuk, menyobek selakangan Shinta sampai berdarah, lalu meneriknya keluar perlahan-lahan.

Sesaat tadi Maya melihat Shinta kesakitan, tetapi semenit kemudian yang dilihat justru Shinta mendekap Robby erat sambil mendesah keenakan. Goyangan-goyangan mereka menggugah nafsu Maya, sehingga Maya berbalik dan mencoba melangkah ke kamar utama, pikirannya berharap semoga dia tidak melihat satu pasang yang lain bercumbu, Jody dan Adri. Dan Maya pun menghela nafas lega saat dilihatnya Adri terkapar mabuk di sudut ruangan yang ia lewati. Maya memasuki kamar utama dan akan melempar tubuhnya ke atas tempat tidur ketika tiba-tiba ia ingin muntah lagi dan bergegas menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar.

Setelah muntah untuk kesekian kalinya, Maya mendengar siraman di WC dan baru sadar bahwa Jody sedang memandangnya dari atas WC, rupanya ia sakit perut. Kaki Maya tertahan melangkah ke luar saat tangan Jody memeluk dari belakang dan mencium lehernya. Maya ingin berontak, tapi rasa penasaran dan perasaan yang timbul akibat ciuman Jody membuatnya malah memejamkan mata. Tangan Jody dengan sangat bernafsu meremas dada Maya dari belakang, lalu menarik kaos Maya keluar dari kepalanya. Lunglai rasanya kaki Maya saat tangan Jody juga melepas bra dan meremas payudara yang belum tumbuh sempurna dengan leluasa. Disela kenikmatan yang Maya rasakan dia merasa ada tonjolan menusuk pantatnya, bagian bawah tubuh Jody telanjang!

Maya terkejut saat Jody menggendongnya keluar dari kamar mandi dengan mulut yang menghisap-hisap payudaranya bergantian, kanan kiri. Benar-benar suatu kenikmatan bagi Maya, membuatnya tak sadar saat Jody merebahkannya ke tempat tidur dan membuka celana dan CDnya tanpa melepas hisapan di dada Maya. Sesaat Jody melepas ciumannya dan membuka kaosnya sendiri, dan Maya pun melihat kemaluan Jody yang tegak lurus, membuat Maya ingin memegang. Jody memejamkan mata ketika Maya memegang adeknya dan mengecupnya lembut, lalu Jody membalikkan tubuh sehingga mereka melakukan posisi 69.

“Mmmngh, trus Jod.. enak..!”, desah Maya tak tertahan. Jody semakin mencium vagina Maya, mencari klitoris Maya dan menjilatinya bernafsu. Maya semakin belingsatan dan mengocok kemaluan Jody sambil menghisapnya membuat Jody mengerang.
“Aaahh, aku pe..ngen.., aahh..”, pekik Maya saat merasakan ada dorongan kenikmatan yang kuat ingin keluar dari lubang kemaluannya, Maya orgasme sembari menyedot “adek” Jody keras-keras yang ternyata juga menyebabkan Jody mengeluarkan sperma mengisi penuh mulut Maya. Maya yang sedang orgasme tidak mempedulikannya, terus menggelinjang sampai beban itu terlepaskan.

Maya terbangun ketika ada sinar matahari yang masuk dalam kamar. Sudah jam 1 siang, dilihatnya Jody mendengkur keras disisi ranjang yang lain dengan telanjang bulat. Cepat-cepat dia bangun dan berpakaian, setelah itu dia keluar kamar dan melihat Inge dan Andhy tetap berpelukan dang posisi yang berbeda, mungkin mereka melanjutkan kembali. Setelah merapikan diri, Maya bergegas menelpon taksi dari HP-nya seraya bersyukur tidak kehilangan kehormatannya.

Saat di dalam taksi dia menerima SMS bahwa Rina dan Lita sedang ada di Mall dan mengajaknya, namun Maya malas mana badan terasa hancur. Sampai di rumah dalam keadaan terkunci, Maya membuka pintu dari kunci yang terletak di tempat tertentu, kemudian mandi menyegarkan tubuh dan mengisi perutnya yang keroncongan. Setelah mengunci pintu, Maya masuk kamar berniat melanjutkan tidur. Namun belum sempat matanya terpejam, didengarnya mobil Papa barunya datang. Tampaknya hanya berdua dengan Mama sebab tidak terdengar suara Kakak dan Adiknya.

Tiba-tiba suara hening sekali membuat Maya curiga dan keluar dari kamar, menuruni anak tangga yang kedua dan Maya langsung menunduk menyembunyikan badan ketika didengar langkah berat menuju ke arahnya, dilihatnya Mama berciuman sambil membuka pakaian Frans yang kemudian dibalas oleh Frans dengan melucuti pakaian Mama. Maya tak bisa bergerak bersembunyi di balik pagar tangga karena mereka berada tepat dibawahnya.

“Masih mau lagi..?”, suara Mama terdengar menggoda. “Aaaw..!”, jerit Mama kemudian saat Frans menjawab dengan jilatan di selangkangan Mama. Mama tak bisa berdiri dan menjatuhkan diri di sofa, mendesah dan menjerit pelan sambil meremas susunya sendiri. Maya terbelalak melihat ukuran kemaluan Papa barunya yang sangat besar, hampir 20 cm, dan mencabik vagina Mamanya dengan suara decak yang keras. Desahan dan erangan keduanya silih berganti, berganti posisi dengan gaya hewan, sambil berdiri, dengan mulut sama-sama ternganga nikmat. Maya terpana melihat keduanya, walaupun capek mau tak mau perasaan aneh itu muncul lagi. Maya ingin tidak melihat tapi ini jauh lebih seru dari yang telah ia lihat. Tiba-tiba terdengar jeritan mereka bersamaan membuyarkan lamunan Maya, dan Maya melihat keduanya roboh tak bertenaga. Cepat-cepat Maya beranjak tak bersuara, dan entah perasaannya atau tidak, dia sempat melihat Frans mengedipkan mata kepadanya.

Seminggu setelah itu Maya masih mencoba melupakan setelah Inge merengek-rengek minta maaf karena Maya merasa di jebak. Namun Maya menganggap semuanya udah lewat dan dia berbaikan lagi dengan Inge. Maya pun mengajak Inge untuk menginap di rumahnya sekedar untuk menghibur diri, Inge bersedia.
Sore hari Inge datang dengan membawa berbagai macam coklat kesenangan Maya, sesaat sebelum Frans datang. Frans masuk rumah dan sempat melirik Inge yang memakai celana pendek dan kaos U can C, apalagi Inge menghormat sambil menunduk menampakkan belahan dadanya.

“Baru pulang kantor, Om?” Tanya Inge berbasa-basi.
“Nggak. Ntar balik lagi, hanya ambil barang Mamanya Maya, dia harus ke luar kota 2-3 hari.”
“Lho Papa nggak ikut?” Tanya Maya.
“Nggak, Papa lagi ada proyek yang nggak bisa ditinggalin.” Jawab Frans sambil tersenyum masuk kamar.
“Papamu cakep, aku mau..” bisik Inge, langsung dibalas cubitan oleh Maya.

Jam sepuluh malam Maya tidak dapat menahan kantuknya, tapi Inge masih ingin nonton TV jadi Maya tidur naik ke lantai 2 untuk tidur duluan. Rina dan Lita sudah tidur dari tadi. Hampir tengah malam saat Frans datang dan membuka pintu, dilihatnya Inge lagi asyik menonton TV sambil tengkurap, memperlihatkan paha putih mulus di bawah celana pendeknya dan bentuk pantat yang indah.

“Belum tidur?” Tanya Frans.
“Eh, Om, belum nih lagi seru filmnya,” jawab Inge hanya menoleh sebentar tanpa merubah posisi nonton. Frans masuk kamar berganti piyama lalu kembali ke ruang TV, melihat tubuh gadis 15 thn tengkurap tanpa beban.
“Bagus ya?” Tanya Frans sambil duduk di sebelah kaki Inge dan memandang lekat punggung Inge mencari siluet tali bra, tak ada.
“Drama sih, tapi kadung tahu ceritanya,” jawab Inge tanpa menoleh.
“Kecil-kecil kok nonton begituan,” goda Frans saat ada adegan making love sesaat.
“Kita udah ngerti lagi. Biasa Om, anak sekarang,” lagi-lagi Inge cuek.

Tiba-tiba Frans merasa pantat Inge sedikit bergesek ke kiri dan kekanan, lalu Frans sadar bahwa Inge terbawa suasana adegan film yang memang seharusnya gak layak ditonton seumuran Inge. Sedikit lagi, pikir Frans. Frans berdiri mengambil soft drink dan kembali duduk di sebelah Inge, lalu pura-pura tak sengaja minuman sedikit tumpah ke paha Inge sehingga Inge kaget dan hendak bangun.

“Ups, maafin Om. Udah tetap tiduran aja, Om bersihkan,” sahut Frans cepat-cepat dan menahan tubuh Inge agar tetap tiduran. Inge kembali keposisinya, membiarkan Frans mengusap ceceran soft drink di pahanya. Tangan Frans membersihkan ceceran dengan lembut, lama-kelamaan menjadi belaian yang semakin naik menuju pangkal paha. Inge menggeliat geli tapi membiarkan tangan Frans membelai.
“Om..” Seru Inge tiba-tiba ketika dirasakan lidah Frans menjilati pahanya geli.
“Biar gak lengket,” jawab Frans singkat sambil meneruskan jilatannya.

Inge merasakan geli kenikmatan, kepalanya tidak lagi mendongak menonton tapi menunduk mendesah. Tangan Frans membelai-belai pantat Inge sementara lidahnya menjilati paha Inge. Sedikit pantatnya dia angkat ketika Frans memeloroti celana pendeknya, meneruskan lidah menuju pantat Inge. “Ah.., Om..” desah Inge saat lidah Frans bermain di permukaan vaginanya yang masih tertutup celana dalam. Jari jempol Frans memijit-mijit bagian depan vagina Inge, merasakan nafsu Inge yang semakin besar membuat vaginanya semakin basah. Frans membalikkan tubuh Inge menjadi telentang dan menjilati klitoris Inge sementara tangannya bergerak ke dalam kaos buntung Inge meremas payudara bersamaan. “Om.. Geli.. Enak..” Inge sesekali menggelinjang. Frans mendudukkan Inge dan melepas kaos Inge sehingga telanjang bulat, mengangkat tubuh Inge jongkok ke pangkuannya dan menjilati payudara Inge. Kemaluan Frans menyembul di belahan piyamanya, menyentuh kulit vagina Inge dan Inge bergerak maju mundur menggesek-gesek. “Om, masukin..” Pinta Inge memelas.

Tanpa melepas kuluman di puting Inge, tangan Frans membuka tali piyamanya sehingga bagian depan tubuhnya terbuka. Tangan Inge menjamah kemaluan Frans dan menuntun menuju lobang kemaluannya, dan bless.. kemaluan Frans masuk pelan-pelan saat Inge menekan. Mulut Inge ternganga merasakan besarnya kemaluan Frans, sedkit tekanan hanya separuh kemaluan Frans yang dapat masuk. Inge mengangkat pantatnya dan menekannya kembali berulang-ulang sambil bergoyang sampai kemaluan Frans bersisa sedikit yang tidak masuk. Frans merasakan kenikmatan jepitan vagina Inge dan mempercepat kocokannya. Inge memeluk Frans dan menekan kuat-kuat sebelum akhirnya menjerit tertahan pertanda orgasme.

Tubuh Inge berkelojotan di atas tubuh Frans yang menikmati orgasme Inge. Lalu Frans mengocok lagi walaupun Inge masih belum sadar dari orgasmenya. Saat Inge membuka mata, Frans tersenyum, lalu Inge menundukkan kepala dan mulai mengulum kemaluan Frans. Frans memejamkan mata menikmati kuluman Inge, dijilati sampai ke testis dan disedot dalam-dalam. Lalu Inge mengocok dengan mulutnya, dan Frans mengerang memuncratkan sperma ke leher dan dada Inge.
“Makasih Om, Inge suka,” ujar Inge sambil mencium pipi Frans lalu memakai pakaian kembali dan naik ke lantai 2 menuju kamar Maya. Frans masih terhenyak merasakan sisa-sisa kenikmatan dari sahabat anak tirinya. Namun tujuannya belum tercapai seluruhnya.

Komentar Anda

comments