agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Cerita Dewasa Sedarah » November Rain – 2

November Rain – 2

Maya terheran melihat Inge masih mendengkur padahal hari sudah siang, dia tidak mengira Inge talah menikmati Papa tirinya. 2 hari kemudian Maya ijin pulang dari sekolah karena gak enak badan. Ketika tiba di halaman rumahnya dia melihat cowok kakaknya keluar rumah dengan muka merah, pasti mereka sedang bertengkar. Maya tak suka mencampuri masalah orang lain, jadi dia cuek saja dan masuk ke dalam rumah. Saat Maya melewati kamar Rina didengarnya kakaknya menangis, namun langkahnya tertahan ketika ada suara lawan bicara Rina yang sangat dikenalnya, Frans.

“Sudahlah, cowok gak hanya dia. Biarkan saja, nanti juga kembali,” suara Frans lagi-lagi terdengar. Maya tidak mengerti mengapa Frans tidak kerja, dan rasa penasaran Maya membuatnya melongok ke kamar Rina yang pintunya sedikit terbuka. Dilihatnya Rina memeluk Frans sambil menangis, kaosnya yang kedodoran tampak lusuh habis bertengkar, tampak tali bra hitam Rina terlihat. Frans balas memeluk sambil mengusap punggung Rina. Anak tirinya yang satu ini memang yang paling cantik, bulan depan berumur 17.

Dengan kaos kedodoran, Frans dapat mengintip belahan dada Rina yang montok, sekitar 34B. Paha putih Rina tampak membayang di balik kulot tipis yang sedikit tersingkap. Frans menahan nafsunya sambil terus mengusap punggung Rina, mengusap-usap di sekitar tali bra Rina dan seolah tanpa sengaja melepas kaitan branya. Rina tertegun saat tali branya lepas, bagaimanapun dia tadi sedang horny saat cowoknya kelepasan memanggil nama cewek lain. Lalu Rina memandang Frans lekat-lekat, mendekati wajah Frans dan menciumnya. Frans membalas ciuman Rina seolah sayang, tapi ketika bibir Rini berkutat semakin dalam, Frans membalasnya tanpa sungkan.

Tangan Frans tidak lagi mengusap punggung Rina dari luar, tapi sudah masuk ke dalam kaos Rina dan menyingkap kaos Rina ke atas lalu akhirnya menariknya hingga lepas. Rina hanya diam saja saat Frans mendorong tubuh Rina rebah di atas ranjang, membuka bra hitam Rina dan mulai mencium leher Rina sementara tangannya membelai dan meremas payudara indah Rina.
“Pa..,” desah Rina keenakan. Frans terus menciumi dan menjilati leher Rina, lalu turun menuju belahan dadanya dan menggoda dengan jilatan-jilatan kecil di puting susu Rina sehingga Rina memeluk kepala Frans menekan ke dadanya.

Tangan Frans mulai menurunkan kulot dan celana dalam Rina sampai terlepas, kemudian membelai paha putih mulus Rina sampai pangkal paha. Rina membuka kemeja Frans, dan meremas tonjolan di celana Frans. Frans menghentikan ciumannya saat Rina membuka sabuk celananya dan memelorotkan celana panjang Frans. Lalu Rina membelai kemaluan Frans yang keras berotot di balik celana dalam, mengecup kepala kemaluan Frans yang mengintip di pinggiran celana dalam Frans sebelum akhirnya memasukkan ke mulutnya setelah membuka celana dalam Frans. Frans membelai rambut Rina seraya meremas payudaranya saat kepala Rina naik turun di selangkangan Frans. Sesekali Rina menjilati kemaluan yang semakin lama semakin membesar sampai tak cukup lagi Rina mengulum sampai pangkal.

Saat Rina berhenti melakukan aktifitasnya karena tergengah-engah dan mengambil nafas, Frans balas mulai menciumi vagina Rina yang masih perawan. Lidahnya mencari klitoris yang masih tersembunyi dan menjilatinya sampai Rina merintih-rintih. Sebuah daging kemerahan yang terlihat di belahan daging selakangan Rina dijilatinya, sedikit ditarik dengan bibirnya, sampai muncul sebuah lubang kecil tanda terangsangnya Rina di kemaluannya, dan Frans membelainya deng lidahnya sambil memasukkan ujung lidahnya. Rina menggelinjang tak keruan, keringat bercucuran namun kenikmatan terasa begitu menggoda.

“Aaahh.. Pa,.. A.. ku.., keluar..,” erang Rina tiba-tiba menekan kepala Frans semakin dalam ke vaginanya dan menjepitnya dengan paha. Frans menarik sedikit klitoris Rina dengan bibir sehingga Rina merasakan orgasme yang cukup lama. Lalu Rina tergeletak lemas.

Frans bangun memandang keindahan gadis 17 tahun yang sangat elok itu. Kedua kaki Rina dilebarkan sampai kemaluan Rina yang berwarna kemerahan sangat mengundang. Frans menempelkan ujung kemaluannya ke lobang kemaluan Rina dan menekan sedikit demi sedikit. “Auh.. Pa, sakiit..,” jerit Rina tertahan saat kemaluan Frans mulai menerobos kemaluan Rina. Frans langsung menindih Rina, menciumi bibirnya dan meremas kedua payudara Rina namun tidak menggerakkan kemaluannya, setidaknya dengan ujung yang tepat Frans tinggal menekan saja setelah pas waktunya.

Rina mulai terhanyut kembali oleh cumbuan Frans dan mulai terangsang kembali. Sedikit demi sedikit justru Rina yang bergoyang memperlancar masuknya kemaluan Frans. Namun karena terlalu besar, hanya separuh kepala saja yang masuk. Dan Frans mulai menekan pelan-pelan, “Mmmphh..,” jerit Rina tertahan bibir Frans saat Frans menekan kemaluannya menerobos selaput dara Rina, bless.. Frans mendiamkan sejenak, membiarkan Rina tenang dulu.

Rina mengerenyit menahan sakit, namun lidah Frans dimulutnya dan remasan di payudaranya mulai mengurangi rasa sakitnya. Setelah wajah Rina tampak tenang, Frans mengoccok sekali dan lagi-lagi Rina melenguh, baru setelah 4-5 kali kocokan Rina mulai terpejam tenang menikmati dan menggoyangkan pantatnya pelan-pelan. Frans menyodok pelan namun pasti, menembus semakin dalam sampai Rina mendesah panjang saat kemaluan Frans benar-benar tenggelam seluruhnya. Desahan-desahan dan erangan saling menyusul di antara keduanya, mencucurkan keringat sebesar butir jagung.

“Enak.., terusin.., lebih ce.. pat..” pinta Rina. Frans mempercepat kocokannya membuat Rina menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri kenikmatan, lalu memeluk Frans erat-erat dan menggigit dada Frans sambil berkelojotan.
Frans membalikkan tubuh Rina menjadi tengkurap, menciumi belakang leher Rina sambil mengelus payudara Rina dari belakang lalu ciuman Frans terus turun sampai ke pantat Rina. Frans mengangkat pantat Rina dan meletakkan guling di bawahnya lalu dengan posisi Rina yang tengkurap Frans mulai menembak lubang kemaluan Rina dari belakang.

Rina yang lemas hanya memejamkan mata menikmati terobosan kemaluan besar Frans, rasa sakit yang tadi dirasakannya telah berganti. Tak lama Rina terangsang kembali dan menggoyang serangan dari belakang itu, melenggak-lenggokkan pantat sampai Frans keenakan dan cepat-cepat menarik kemaluannya keluar lalu memuncratkan sperma di punggung Rina. Frans jatuh lemas sambil memeluk Rina, dan setelah istirahat Frans bercinta lagi dengan Rina habis-habisan dengan berbagai pose.

Maya sudah sejak tadi masuk kekamarnya. Walaupun dia shock karena melihat Papa Tirinya bercinta dengan kakaknya, Maya tak bisa memungkiri kalau dia juga terangsang. Namun rasa tak enak badan Maya akhirnya menang sehingga Maya jatuh tertidur. Maya jatuh sakit sudah dua hari tidak bangun dari tempat tidur. Ingatannya tentang Rina membuatnya malas bicara dengan kakaknya, walaupun Rina tetap tak berubah.

Pada hari ketiga sakitnya mulai membaik, panasnya sudah mendingan. Setelah makan malam, Maya memanggil Lita untuk diambilkan obat tapi yang muncul adalah Frans yang mengatakan bahwa yang lain sedang nonton TV. Karena Maya tetap dingin pada Frans, akhirnya Frans mengambilkan obat Maya dan menyuruhnya istirahat. Tengah malam, Frans memastikan semua tertidur terutama Maya yang telah ditukar obatnya oleh Frans dengan obat tidur. Frans berjinjit menuju kamar Maya dan mengunci dari dalam. Dilihatnya Maya tidur pulas, setengah selimutnya tersingkap menampakkan paha seksi di belahan piyama tidurnya.

Maya memang tidak secantik Rina, tapi tubuhnya yang bongsor mampu membangkitkan gairah lelaki manapun. Dengan rileks Frans membuka tali piyama Maya, membelai tubuh Maya yang masih tertutup bra dan celana dalam. Lekak-likuk kemaluan Maya terlihat di tengah kain celana dalamnya. Frans membuka bra dan celana dalam Maya sehingga telanjang, lalu dia juga membuka piyamanya dan berdiri telnjang dengan kemaluan mengacung. Frans naik ke tubuh Maya dan menciumi leher Maya, lalu turun ke payudara, ke paha, dan kembali ke pangkal paha sampai akhirnya ke kemaluan Maya yang begitu lembut, dengan bulu-bulu halus yang lembut.

Semua dilakukan Frans tanpa tergesa karena dia benar-benar ingin menikmati tubuh Maya. Ciumannya di kemaluan Maya membuat Maya sedikit bergerak tapi tidak bangun, sehingga pelan-pelan Frans mulai menjilati lubang kemaluan Maya. Maya mulai menggeliat saat Frans menjilati klitoris Maya yang merah muda, suatu refleks alam sadar atas rangsangan Frans. Frans menjilati sampai puas, sampai kemaluannya tegang berotot mengacung. Frans menempelkan ujung kemaluannya ke lubang kemaluan Maya dan mulai mendorong, sedikit demi sedikit kemaluan Frans masuk, dan Frans meringis nyeri karena kemaluannya terjepit rapat.

“Ooohh..,” tiba-tiba Maya mendesah membuat Frans terdiam, terasa darah keperawanan Maya menetes mengalir menyentuh pangkal kemaluannya. Tapi begitu melihat mata Maya yang masih terpejam, Frans meneruskan usahanya mendorong-dorong. Dengan sedikit mengocok, kemaluan Frans masuk semakin dalam, dan Frans pun menikmati saat kemaluan Maya tampaknya sudah dapat menerima tamu asing yang menikmatkan, sehingga Frans mengocok kemaluan Maya sedikit keras. Beberapa saat tampak reaksi Maya ikut menggoyang, yang lama-lama menjadi terlihat Maya begitu menikmati walaupun matanya terpejam.

Maya sendiri sedang bermimpi bertemu Jody dan mengajaknya kencan di sebuah danau. Saat sedang berenang tiba-tiba Jody menciumi seluruh tubuhnya seperti di rumah Inge, membuat Maya terangsang hebat dan mengajak Jody bercinta. Ternyata bercinta begitu mengasikkan, sangat nikmat.
“Terusin Jod.. Ah, ee.., nak.. banget!” Frans terkejut mendengar ucapan Maya, tapi dia tak ambil pusing dan terus menggenjot kemaluan Maya yang sangat legit dan sempit. Frans malah tampak berusaha mengimbangi goyangan-goyangan Maya yang gila-gilaan, begitu nikmat, sampai Frans pun ingin segera mengeluarkan cairan yang mengisi penisnya.

Tiba-tiba saat Frans menekan untuk terakhir kalinya, Maya membuka mata. “Papa?? Oh.., enak..” dan mata Maya membelalak menyisakan putih tanpa bola mata bersamaan dengan orgasme Frans yang menyemprotkan ke dalam rahim Maya. Frans terdiam beberapa saat menunggu reaksi Maya, tapi Maya terlalu kelelahan dan justru memeluk Frans. Ketika Frans menarik diri dan memakaikan pakaian Maya setelah membersih darah keperawanan Maya, Maya sudah tertidur.
Esoknya Maya tak mengerti apakah semalam mimpi atau tidak, yang dia tahu sakitnya semakin parah. Lita menjadi teman satu-satunya dirumah karena Mamanya tetap sibuk dengan urusan kantor. Sore itu Lita bercerita banyak tentang sekolahnya dan teman-temannya. Lalu dia pamit pergi mandi saat didengarnya suara Frans memanggil. Lita berlari menghampiri Frans dan loncat ke gendongannya.

“Jadi ya, Pa, mandiin Lita? Please?” rengek Lita yang begitu manja pada Frans.
“Oke, tapi janji jangan kasih tau Mama. Ntar dia marah udah gede kok minta dimandiin,” jawab Frans sambil menggendong Lita menuju kamar utama. Lita mengacungkan 2 jari tanda setuju, meloncat masuk ke kamar utama dan membuka baju. Frans mengunci pintu kamar dan memandang anak tirinya yang bungsu, sudah kelas 1 SMP tapi masih manja minta ampun, padahal mulai tampak tanda-tanda kewanitaan dalam diri Lita. Payudaranya mulai membusung dan mulai memakai bra ukuran kecil, dan yang pasti sama dengan saudara-saudaranya, Lita memiliki kecantikan yang mempesona.

Lita sudah berendam di bak mandi saat Frans masuk ke kamar mandi hanya memakai celana pendek. Lita menyambutnya dengan menyemprotkan air ke Frans yang di balas oleh Frans, lalu Frans pun ikut masuk ke bak mandi. Setelah capek bercanda, Frans mulai menggosok tubuh Lita dengan sabun. Payudaranya masih menguncup, tapi pinggulnya sudah terbentuk, bahkan sudah tumbuh bulu-bulu di sekitar kemaluan Lita.

“Kenapa sih, Pa? Apanya yang enak sih?” Frans terkejut dan sadar bahwa tangannya dari tadi meremas-remas payudara yang belum tumbuh itu. Frans Cuma tersenyum, tapi kemaluannya mulai berdiri.
“Itu yang bangun apa, Pa? Lita boleh liat ya?” sahut Lita tiba-tiba memegang kemaluan Frans yang masih terbungkus celana pendek. “Ih, kok bisa keras ya? Tadi kan nggak?”
“Udah, ah. Sini Papa handukin biar gak masuk angina,” bujuk Frans sambil mengangkat tubuh Lita dari bak mandi dan mengusap tubuhnya dengan handuk sambil menggendongnya menuju kamar.
“Boleh kan Pa, Lita lihat? Itu yang sering dipake Mama,” Frans tersentak. “Lita juga heran kok Mama suka banget digituin sama Papa, apalagi kalo burungnya Papa udah masuk ke ‘itu’nya Mama, kayaknya enak banget'” ujar Lita polos.
“Kok Lita tahu?” Tanya Frans mencoba menghindar saat tangan Lita mencoba menangkap kemaluannya.
“Lita pernah liat Papa dan Mama gituan, malem-malem waktu Lita pengen dianter pipis. Liat dong!” Frans tak bisa menolak lagi saat Lita memelorotkan celana pendeknya dan memegang kemaluan Frans yang bertambah tegang. “Hihi, lucu. Pa, coba Papa merem deh,” pinta Lita. Walau tak mengerti Frans memejamkan mata sambil duduk di tepi tempat tidur, lalu tersentak saat membuka mata Lita sedang mengulum kemaluannya. “Enak ya, Pa? sama Mama digituin kan?” Frans mengangguk dan mendorong kepala Lita menuju kemaluannya lagi. Kuluman Lita begitu natural, walaupun terkadang Frans meringis karena tergigit tapi rasanya nikmat sekali. Tiba-tiba Lita melepas kulumannya.

“Pa, Lita mau dimasukin ke sini kayak Mama, kayaknya enak,” ujar Lita sambil menunjuk kemaluannya.
“Bener mau? Nggak langsung enak loh!” Anggukan Lita langsung membuat Frans mengangkat tubuh Lita, merebahkan ke tempat tidur, dan menciumi lubang kemaluan Lita yang masih sempit. Lita melonjak-lonjak kegelian, tapi setelah dipegangi oleh Frans dia menahan geli dan memegangi tangan Frans erat-erat.
“Pa, kok jadi enak ya?” Lita mulai mendesah dan memajukan pantatnya maju mundur. Frans sudah tidak tahan lagi, dia mulai memasukkan kemaluannya ke lubang vagina Lita yang kecil.
“AAwww.. sakiit, Pa!!” Frans sudah hilang akal dan menutup mulut Lita sampai terdengar bunyi sobeknya selaput dara muda dan darah yang bercucuran. Lita mulai menangis. Frans mengocok lagi pelan-pelan sampai Lita terdiam dan dapat menahan sakit. Walaupun tidak dapat memasukkan seluruh kemaluan, Frans merasakan jepitan yang sangat nikmat. Lita mulai menggelinjang saat Frans mengocok pelan-pelan dan tiba-tiba Lita mengejang, “AAhh..fiuh, sakit, Pa, tapi enak!” ujar Lita lemas. Frans tidak tega dan akhirnya melepas kemaluannya. Sudah cukup baginya.

Komentar Anda

comments