agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
obsesi sex

Obsesi Sex

Cerita Dewasa – Aku Surti, masih muda, seorang istri dari suami yang sangat kucintai. Tetapi aku punya obsesi yang terus terang (sebagai istri menjadi kurang ajar dan tidak tahu diri) yang belum pernah terpenuhi hingga saat ini. Aku ingin seorang lelaki di luar suamiku, lelaki yang macam gimana tidak penting, tetapi penisnya besar dengan tubuhnya …

Review Overview

User Rating: Be the first one !
0

Cerita Dewasa – Aku Surti, masih muda, seorang istri dari suami yang sangat kucintai. Tetapi aku punya obsesi yang terus terang (sebagai istri menjadi kurang ajar dan tidak tahu diri) yang belum pernah terpenuhi hingga saat ini. Aku ingin seorang lelaki di luar suamiku, lelaki yang macam gimana tidak penting, tetapi penisnya besar dengan tubuhnya yang berotot. Aku ingin tidur dengannya. Itu obsesiku, hingga pada suatu sampai kejadian itu terjadi.

Karena ada sesuatu urusan, suamiku harus pergi ke Malang untuk 5 hari termasuk perjalanan. Aku tidak dapat ikut karena kebetulan ada perbaikan rumah, menambah ruang untuk gudang dan aku bertanggung jawab agar semuanya dapat berjalan sesuai rencana, termasuk mengawasi pekerjaan para tukangnya.

Setiap hari kusiapkan minuman dan makanan kecil untuk 3 orang tukang batu dan kayu. Mandornya Saridjo orang Tegal. Kebetulan Saridjo, kira-kira berumur 45 tahun, orangnya cekatan dan rajin. Dan kebetulan juga tanpa kusadari sebelumnya, orangnya besar dan berotot. Dengan kulitnya yang kehitaman, Saridjo bekerja ditimpa panas matahari dari pagi hingga sore hari. Oleh karenanya dia selalu hanya pakai celana kolor pendek dan kaos singlet untuk membungkus tubuhnya, agar mengurangi gerahnya selama bekerja.

Sore itu kira-kira pukul 15.00 pekerjaanku telah selesai, sehingga aku dapat sedikit beristirahat di kamar tidurku. Sementara itu para tukang di bawah mandor Kang Saridjo, bekerja di luar nampak dari jendela kamarku tanpa aku khawatir mereka dapat melihatku tergolek di tempat tidur karena memang demikian adanya. Pandangan dari luar sulit menjangkau ke dalam dengan adanya kaca pada jendela yang membuat silau.

Kuperhatikan Saridjo, setiap kali dia membungkuk mengambil semen untuk ditemplokkan ke dinding. Badannya basah mengkilat penuh keringat. Sebentar-sebentar tangannya menyeka keringatnya itu.
Ahh.., badan itu.. celana pendek dan ketat itu..
Obsesiku tiba-tiba menyeruak timbul dan jantungku berdegup keras.

Kepergian suamiku telah 3 hari, aku memang merasa mulai sepi. Dan 2 hari lagi suamiku akan sampai di rumah kembali. Ya, 2 hari lagi. Sementara di luar jendela ada lelaki berotot mengkilat penuh keringat sangat sesuai dengan obsesiku selama ini. Bagaimana bau keringatnya itu..? Ketiaknya..? Atau selangkangannya..? Aku tertegun. Ada rangsangan yang menyelusuri tubuhku dan mendesak kesadaran untuk meninggalkan ingatan pada suami. Aku terdorong untuk mengambil kesempatan yang tersisa 2 hari ini. Inilah kesempatan mewujudkan obsesiku, impian mengenai lelaki lain untuk teman tidurku.

Tiba-tiba kulihat tukang-tukang di luar beres-beres sebagai tanda selesainya jam kerja hari itu. Biasanya mereka membersihkan badan dan mandi sebelum pulang. Dan pikiranku berjalan cepat seperti kilat, jantungku berdegup semakin keras hingga terdengar dari telingaku. Aku gemetar, sejenis gemetar yang nikmat. Ahh.. ooh..

Aku keluar kamar dan, “Kang Saridjo sebelum pulang tolong saya sebentar..!”
“Ya, Bu.., apa Bu..? Saya mandi dulu sebentar.”
“Nanti dulu.. Biar temennya saja mandi dulu, Kang Saridjo bantuin saya.. Sedikit koq..!”
Demikian peristiwa itu berjalan cepat. Aku menahan Kang Saridjo yang masih bau keringat untuk membantuku melakukan sesuatu yang dia belum tahu. Pokoknya aku harus dapat menahannya.

Aku pura-pura sibuk membongkar lemari dan menurunkan apa saja yang ada di dalamnya.
“Ini Kang banyak kecoaknya, tolong bantu dikeluar-keluarin dulu, saya mau ganti alasnya.”
Dia mulai ikut membongkar isi lemari.
“Apa lagi, Bu..?”
“Ya, itu.. Ambil koran yang bersih.. eehh.., disapu dulu baru diganti alas korannya..” aku memberi tugas dan bersambung tugas hingga teman-temannya siap untuk pulang.

Aku berbisik, “Suruh mereka duluan..!” suatu omongan yang provokatif penuh menimbulkan tanda tanya bagi Kang Saridjo tentunya.
Dia melihat ke arah wajahku, dan aku berkedip sebelah mata. Dia senyum.., sepertinya mengerti.Aku sudah semakin nekat.
“Pulang duluan, geeh..! Aku masih bantuin Ibu, nih..!” katanya menyuruh teman-temannya pulang.
Aku tidak sabar dan semakin panas dingin.

Lima menit kemudian, kuperkirakan teman-teman Kang Saridjo sudah agak jauh. Intuisi dan reflek-reflekku mengalir. Dari sebelah dinding aku mengangkat bundelan buku dan aku menjatuhkan diri.
“Aduh.. duh.. duhh, achh.. Kakiku kesleo..!”
Buru-buru Kang Saridjo bangun menghampiriku, “Kenapa, Bu..?”
“Ini, nyandung buku..” aku menyalahkan buku sambil, “Aduuhh.. aacchh..!” dan mengurut-urut betisku.

“Tolong Kang..!” tanganku menggapai tangan Kang Saridjo, itu pertama kali aku menyentuhnya.
“Ibu istirahat saja.. Biar saya saja yang beberes..”
“Yaa.., tuntun aku ke kamar tidur..!” pintaku sambil terpincang-pincang memegangi betisku.
Kang Saridjo memapahku. Tangan dan bahuku menyentuh badannya yang masih lengket karena keringat. Saat itu sempat aku juga mencium bau badan Saridjo. Ooohh.. bau lelaki.

Aku kemudian telungkup berbaring di kasur.
“Tolong urut sini dong, Kang..!”
Mungkin dia menjadi bengong tetapi aku masa bodo, pura-pura tidak melihat, dan bergaya masalah demikian biasa, minta tolong karena kesakitan.

Dia mulai mengurut-urut betisku.
“Acch.. Oocchh.. Aaacchh..!”
“Sakit Bu..?”
“Ya.. iya to, kamu ini gimana sih..? Terus urut pelan-pelan..!”
Aacchh.., telapak tangannya yang kasar. Tapak tangan kuli, yang pada saat begini berubah menjadi tangan kasar penuh rangsangan.

Aku yang setengah tengkurap di kasur menggeliat-geliat pura-pura kesakitan.
“Hhaacch.. hacchh.. eecchh..” begitu aku merintih-rintih, makin membuat Kang Saridjo bingung tentunya.

Tangan Kang Saridjo terus mengurut-urut betisku dengan hati-hati. Sekali lagi reflek dan intuisiku mengalir. Rintihanku kusertai geliat tubuh. Terkadang pantatku yang mulus kuangkat, seakan dalam menahan sakit. Tetapi sementara itu rintihan yang keluar dari mulutku kusertai pula dengan meremas-remas bantal. Tentu ini menjadi pemandangan yang sangat erotis dan menggoda bagi lelaki. Dan Kang Saridjo, seperti yang kurasakan tidak banyak bertanya lagi, terus mengurut-urut betisku.

Makin lama rintihanku berubah nada, menjadi desahan. Aku tidak merintih sekarang. Aku mendesah sambil tanganku terus meremas-remas apa saja dengan maksud demonstratif agar didengar dan disaksikan Kang Saridjo. Dan.., rasanya ada hasil. Tangan Kang Saridjo terus mengurut lebih naik lagi hampir pada lipatan dengkulku. Kubiarkan dengan terus mendesah-desah secara erotis. Ya, erotis.

“Ahh.. aacchh..! Terus Kang, enaakk..! Ennaak Kangg..!” desahku lagi.
Tentu efeknya pada Kang Saridjo seperti pisau bermata dua. Enak apanya..? Enak bagaimana..? Sakitnya baikan atau..? Aku tidak perduli dan naluriku terus berjalan untuk membangkitan emosi Kang Saridjo.

Dan ketika tangan Kang Saridjo kurasakan makin berani ke atas hingga menyentuh ujung pahaku, aku sudah yakin, Kang Saridjo sudah masuk perangkapku. Aku terus mendesah-desah sambil meremas-remas apa saja. Ya bantal, kain sprei, selimut, yang kemudian bahkan kupeluki guling sementara pantatku bergoyang naik turun sebagaimana orang menahan sakit. Dan ketika tangan Kang Saridjo yang kasar itu meremas pahaku, darahku berdesir sangat kuat, jantungku berdegup, mataku mulai kabur. Yang kurasakan hanya kenikmatan sentuhan Kang Saridjo yang demikian kutunggu.

Kudorong lagi keberaniannya dengan desahan dan rintihan erotis.
“Yaa.. aacchh.. ennaakk.., terus Kang..! Yaahh..!”
Dan tangan Kang Saridjo tidak lagi menunjukkan keragu-raguan.

Ketika akhirnya jari-jari tangannya yang kasar dan kaku benar-benar menyentuh bibir vaginaku, aku tahu bahwa Kang Saridjo benar-benar telah siap memegang kendali untuk mengajakku menuju kenikmatan dahsyat yang akan sama-sama kami alami. Aku bergelinjang hebat saat jari tangannya menyibak CD dan merengkuh bibir kemaluanku yang sejak tadi telah membasah karena birahi. Aku mulai benar-benar merintih karena nikmat yang menerpaku.

Seluruh tubuhku menggelinjang. Vaginaku banjir oleh cairan birahi. Pantatku kuangkat sedikit naik untuk memberi kesempatan tangan Kang Saridjo leluasa meremasi kemaluanku. Ternyata perkembangan ini disergap cepat oleh Kang Saridjo.
“Oohh.., Bu.. Aku nggak tahan, Bu..!””Aachh.. eecchh..” jawabanku hanya rintihan dan desahan yang penuh kehausan dan kebuasan atau keliaran.
Begitu juga Kang Saridjo, keliarannya langsung muncul tidak dapat lagi terbendung.

Rokku disibakkan hingga seluruh paha dan pantatku terbuka. Badannya menindihku dan wajahnya langsung menubrukku, dan bibirnya langsung menyedot dan menjilati paha dan pantatku, sementara tangan kanannya meneruskan meremasi vaginaku. Tangan kirinya menyelusup ke bawah blus meraih buah dadaku, meremasinya dan mempermainkan puting susuku. Woowww.. Dahsyat..! Belum pernah aku merasakan gelinjang senikmat ini selama masa perkawinanku.

Bau badan dan kelaki-lakian Kang Saridjo itu yang membuat segalanya menjadi bergolak terbakar sangat dahsyat. Dia mulai mengerang seperti singa yang lapar. Kemudian dengan tangannya yang kekar, tubuhku dibalikkannya hingga telentang. Tiba-tiba tangan-tangannya meruyak dan merobek-robek rokku. Aku sangat kaget dan serem dengan adanya kejadian itu. Sesaat aku tersadar, tetapi keburu mulutku disumpal dengan lidahnya yang dengan menggila menghisapi lidah dan ludah di mulutku.

Untuk sesaat birahiku mau lenyap. Kecewa, marah, takut, seram, panik campur aduk, tetapi ternyata itu hanya sesaat. Sebuah sensasi erotik tiba-tiba menggelegak melalui darahku. Kekasaran itu menjadi berubah menjadi sensasi birahi yang dahsyat bagiku, melengkapi obsesiku mengenai seorang lelaki berotot untuk meniduriku. Aku sepertinya hendak diperkosanya. Aku harus melayani nafsu singa lapar.

Tangan-tangan yang meruyak ke atas dan merobek-robek rokku telah menemukan sasarannya. Susu-susuku diremasinya. Tubuhnya yang entah berapa beratnya menindihku. Susuku dicemolinya. Digigiti, dihisap-hisap. Wajahnya membenam ke dada dan ketiakku, lidahnya menjilat, bibirnya menyedot dan menggigiti ketiakku.
“Ohh.. Kang Saridjo jangan lepaskan.. aahh..! Teruuss. Djoo.. nikmatnya akan selalu terukir di hatiku.. Djoo..!”

Rasanya berjam-jam dia melumpuhkanku. Dan aku menikmati dalam kepasrahan. Aku menikmati sebagai orang taklukkan. Ya, aku takluk kepadamu Djo.
“Kang.., aku nggak tahan Kang..!” erangku dalam kenikmatan.
Dan Kang Saridjo semakin menggila. Ketiakku pedih. Berikutnya wajahnya dari ketiak dan susuku turun ke perut, kemudian pinggul. Kecupan, sedotan dan jilatan terus bertubi mengiringinya membuat aku seperti kesetanan.

Sambil terus bergeser bibirnya turun ke perut, turun ke selangkangan, turun dan.. woohh.. Dengan giginya ditariknya dan robek lagi CD-ku. Aahh.., sungguh kekasaran yang nikmat dalam badai birahiku.

Lidah itu.., lidah Kang Saridjo menyentuhi bibir-bibir vaginaku. Lidahnya yang ternyata juga kasar (mungkin lidah kuli pula) seperti amplas menjilati klitoris terus ke lubang vaginaku. “Lidahmu itu.. Djo.. kenapa kamu terus menusuki lubang vaginaku Djoo. Ampuunn..!”
Aku merasakan kegatalan yang dahsyat dari lubang vaginaku. Pantatku menjadi menggelinjang naik turun tidak karuan. Kuterkam kepalanya. Kutekan wajahnya ke selangkanganku, ke lubang kemaluanku, rambutnya kujambak-jambak dan remasi sebagai pelampiasan kegatalan vagina. Kucabut-cabut rambutnya. Emosiku sangat galau.

Kegatalan itu sangat memuncak. Kegatalan itu membuatku hilang kesadaran akan sekeliling. Aku berteriak.., mengaduh-aduh menghadapi kenikmatan tidak terhingga. Dan Kang Saridjo tahu, aku tidak mau berhenti.
“Aku.. orgasmee.. ohh.. orgasme.. ohh..!”
Sangat jarang kudapatkan orgasme.

Aku menjadi sangat haus. Mulutku kering. Tenggorokanku kering.. Hauss.. tolong.. Ooohh.. hausnya.. Sementara itu Kang Saridjo masih terus menjilati kemaluanku. Seluruh cairan dari vaginaku dijilatinya dan diminumnya. Dan membayangkan hal itu membuat birahiku tidak luruh karena orgasme tadi. Dasar kemaluan yang selalu gatal. Milikku, vaginaku, kemaluanku belum terpuaskan juga. Seluruh peristiwa ini sangat sensasional hingga hausku menerjang lagi.

Kutarik dia ke atas, mulutku mencari sasaran. Mulut Kang Saridjo serasa ingin kukunyah. Bibirnya yang tebal kugigit keras hingga dia mengaduh. Aku sudah hanyut dalam nafsu hewaniah. Indraku tidak lagi berfungsi, pandangan kabur, telinga tersumpal. Yang kurasakan hanya gelinjang pada pori-pori di seluruh permukaan kulitku, di paha, di perut, di payudara dan puting-putingnya.

Kali ini Kang Saridjo memitingku, ototnya yang kuat menjepitku hingga sesak nafasku. Ada sedikit celah di antara ketiaknya. Aku dapat sedikit bernafas dan sekaligus menggigiti bahu, dada dan menjilati ketiaknya yang menebar bau kejantanannya itu.

Ternyata tanpa setahuku Kang Saridjo sendiri sudah telanjang bulat. Terasa ada sodokan-sodokan menimpa perutku dan kemudian turun ke selangkanganku dan mengarah ke lubang kemaluanku. Sodokkan itu seirama dengan naik turunnya pantat Kang Saridjo yang menindih seluruh tubuhku. Gerakkan memompa. Batang kejantanannya yang kurasakan panas dan bebal mengubek-ubek bibir kemaluanku yang ‘mekrok’ minta penis besar Kang Saridjo lekas menyuntiknya. Aku mulai menggoyang pantat untuk membantu kehausan dan kegatalan kemaluanku agar dapat selekasnya melahap batang kemaluan Kang Saridjo.

Terasa ‘helm’ penis Kang Saridjo seperti palu godam yang menonjok-nonjok untuk menghancurkan lubang sempit bibir vaginaku. Sesungguhnya bukan lubang itu sempit, tetapi nafsu birahilah yang membuat otot-otot bibir vagina mencengkeram dahsyat dan sulit untuk ditembus.
“Kasih ludah Kang..!” dengan penuh nafsu kusarankan Kang Saridjo agar selekasnya memasukkan meriamnya ke lubangku.
Dan kemudian, bless.. bless.. bless.. bless.., sungguh sempurna. Batang kejantanan itu telah mendapatkan sarangnya.

Aku bergoyang, Kang Saridjo memompa. Pelan.. bless.. Vaginaku menangkap dengan lahap senti demi senti batang kemaluan Kang Saridjo.
“Aacchh.. nikmatnyaa.. hoh.. Djoo.. Kang Djoo..!” aku terus meracau tidak tahan menanggung nikmat.
Kuku-kuku jariku menghunjam ke bahu Kang Saridjo, nafsuku benar-benar meledak tidak terkendali. Kerongkonganku kering dan terus terasa semakin kering.”Djoo.., tolong.. Kang.. Ludahmu Kang.. Ludahmu Kang..! Aku mau ludahmu.. Tolong ludahmu Kang..! Ludahi aku.. ludahi mulutku.. ludahmu Kang.. Ludahi mulutku..! Aayyoo.. Kang aku hauss..” aku demikian ingin Saridjo meludahiku, meludahi mulutku, membuang ludahnya ke mulutku.
Ooohh.., bukankah aku telah menjadi taklukannya. Aku menjadi budaknya.. kan..?

“Ayoo Kang..! Ludahmu Kang..!” aku terus meracau.
Kang SariDjo heran, kenapa aku dapat menjadi begini. Tetapi kemudian melalui bibir tebalnya Kang Saridjo membuang ludah yang terkumpul di mulutnya ke mulutku. Aahh.. Kukenyam-kenyam kemudian kutelan. Kang Saridjo terus meludahi mulutku. Setiap kali dia mengumpulkan ludahnya dan membuang ke mulutku, birahiku semakin menggila.

Dan di bawah sana, batang kejantanan besar milik Kang Saridjo terus menghantam kemaluanku tanpa ampun. Genjotannya semakin kencang, semakin menghunjam, semakin dalam. Kegatalan kemaluanku juga semakin bertambah, hingga pantatku naik-naik seakan mengejar ujung batang kemaluannya untuk lebih dalam meruyak ke pintu rahimku.

Berkali-kali aku telah orgasme. Kemaluanku membanjir. Kalau kemaluan suamiku pasti sudah ‘blonyoh’ ngoplok-oplok, tetapi batang kejantanan besar milik Kang Saridjo tetap sesak dalam vaginaku. Aku yakin karena ukurannya yang besar itu. Dan itu pula yang membuat birahiku tidak padam-padam.

Kang Saridjo memang hebat. Terbukti pada saat mengayunkan pantatnya, tonjolan otot-otot pada lengannya keluar. Kulitnya yang mengkilat oleh keringat berminyak memperjelas anatomi tubuhnya. Setelah satu jam kami berasyik masyuk, Kang Saridjo sama sekali tidak menunjukkan kelelahan. Seakan kandungan energinya tidak terbatas. Mulutnya, lidahnya, tangannya, pantatnya hingga batang kejantanannya semua aktif belum sesaat pun istirahat. Usianya yang 45 tahun bukan menjadi hambatan, walaupun melayaniku yang jauh lebih muda.

Seperti saat ini, tembakkan batang kejantanannya pada vaginaku terus mencecar. Makin cepat dan dalam. Aku sendiri di antara rasa nikmat yang memang terus datang, sudah merasa payah. Udara kamar yang panas menambah rasa lelah tadi.
“Acchh.. uuhh.. oohh.. aacchh..!” kembali aku mendapatkan orgasmeku, kemaluanku makin banjir.Begitu bervariasi bunyi batang kejantanan dan kemaluanku yang saling interaksi, dan aku merasakan lelahnya. Aku ingin berhenti sebentar. Kudorong tubuh Kang Saridjo.
“Capee, Kang..!” kataku.

Tetapi kebuasan Kang Saridjo belum menunjukkan keredaan. Batang kejantanannya keluar masuk kemaluanku semakin cepat. Dia memiringkan tubuhku ke kanan. Kaki kiriku diangkatnya hingga membuat celah pahaku menjadi lebih luas. Batang kejantanannya jadi masuk lebih menghunjam lagi. Ahh.. enaknyaa.. Tetapi badanku tetap terasa lelah dan gairahku menurun.
“Capai, Kang..! Istirahat dulu.. Ahh..!”

Kali ini kupikir dia mengerti. Dia mencabut batang kejantanannya dari kemaluanku, dan dia menaruh bantal pada dinding dan diangkatnya aku untuk bersandar pada bantal tersebut. Jadi sekarang kepalaku lebih terangkat dan dapat menyender di dinding. Sepertinya memang aku disuruh istirahat dulu. Tetapi, diluar dugaanku, Kang Saridjo yang telanjang berdiri di tempat tidur, dengan batang kejantanannya yang tetap mengkilat, tegak dan kaku mengangkangiku, menghampiriku dan dengan setengah berjongkok, mengasongkan miliknya ke wajahku. Dia sentuhkan kepala penisnya ke bibir-bibirku.

“Isep, Bu.. Ayoo.. isep..!”
Aku belum lagi siap, kan..? Kutolak karena memang ingin berhenti dulu, tetapi.., “Ayoo, Bu..!Iseepp..! Saya nggak tahan lagi, nihh.., saya mau Ibu ngisep-isep, menjilat-jilat dan nanti minum pejuhnya.. Saya mau muncrat di mulut Ibu. Dan Ibu harus telan semua pejuh saya. Ayoo..!” katanya sambil tangannya meraih kepalaku mendekatkannya ke arah batang kejantanannya.

Ahh.., penaklukku benar-benar, nihh.. Dan aku heran, sensasi itu justru datang lagi. Gairah dan birahiku tiba-tiba menggelegak lagi. Nada omongan Kang Saridjo tadi seperti sihir. Seorang tuan yang menginjak-injak harga diri budaknya karena itu memang hak dia. Dan aku adalah budak yang boleh diapakan saja. Dan aku harus patuh, tanpa pilihan. Sihir itu betul-betul meluluhkan tetapi bukan melumpuhkan.

Karena sihir itu, tenagaku seakan pulih dan hadir lagi dengan birahi yang penuh. Kuraih batang kejantanan itu. Dalam genggamanku kuperhatikan kepalanya besar dan padat seperti jamur, dan terlihat mengkilat. Hoohh.., indahnya.

Belahan lubang kencingnya besar, seakan menyobek tepat di tengah seperti jamur yang merekah. Sangat menantangku. Woow.., sejak tadi aku memang belum secara langsung melihatnya. Kuelus kepala itu sesaat dan kemudian kedekatkan bibirku, lidahku. Hidungku menghirup aroma jantan dari kelamin Kang Saridjo. Dan lidahku mulai menjilat. Kujilat lubang kencingnya. Asin. Kujilati tepi-tepiannya. Kang Saridjo melenguh.

Lenguhan yang begitu nikmat merasuk ke telingaku.
“Kang.. apapun maumu. Aku budakmu Kang aacchh..!” desahku.
Kemudian batang kejantanannya mulai kukulum. Lahap seperti makan es mambo, setiap jilatan dan kuluman disertai bunyi. Aduuhh, sangat erotis.. eksotis.. Tidak pernah kudapatkan sebelumnya. Bahkan dengan suamiku pun tidak sejauh ini. Edan.

Rupanya cara ini yang akhirnya merontokkan pertahanan Kang Saridjo. Tidak terlalu lama, akhirnya dia mencapai pencak kenikmatannya dibarengi dengan rintihan, erangan dan racauan tidak karuanan yang keluar dari mulutnya.
“Bu.., budakku.., caboku.. uuhh.., isep teruuss..! Caboku.. Aku mau keluaarr.. Sayangku pelacurku.. zinahku.. cabokuu.. (gila, aneh, dampratan, makian, hinaan yang sangat merendahkan dan tidak terbayangkan olehku untuk seumur hidupku itu sekali lagi justru sangat memacu birahiku, nafsuku bergejolak) Ooohh.. oohh.. achh, Bu.. Aku keluar.., telenn..! Minum pejuhku..! Telen niihh..!” katanya sambil menekan kepalaku ke arah selangkangannya hingga aku gelagapan.

Ber’liter-liter’ Kang Saridjo menyemprotkan spermanya ke mulutku. Hangat.., muncrat-muncrat memenuhi rongga mulutku. Kukecap-kecapi sebelum aku mulai menelannya (pada suamiku aku tidak akan mau begini, jijik, hii..!). Tapi sperma Kang Saridjo telah membasahi tenggorokkanku. Masih kuperas-peras batang kejantanannya hingga tidak ada yang tersisa.

Kujilati batang-batangnya hingga bersih. Rasanya sayang ada satu tetes pun yang tercecer. Terakhir, kulihat pula ada cipratan-cipratan sperma di bulu kemaluannya dan selangkangannya. Kudorong Kang Saridjo telentang, dengan lidahku kuhisap semuanya hingga benar-benar bersih. Ada banjir di kemaluanku dan gatal. Aku ingin disenggamai lagi.

Sementara itu Kang Saridjo jatuh lunglai. Keringatnya mengucur dari seluruh tubuhnya. Tangannya terentang mencari angin. Dan ketiaknya yang penuh bulu terbuka. Pelan-pelan kedekati, kubenamkan mulutku di ketiak itu. Hidungku menyergap bau ketiak. Aku menjilat-jilat. Kang Saridjo tertidur. Aku terus mencari kehangatan dan kenikmatan yang tersedia di tubuh Kang Saridjo yang tertidur lelap karena lelah.

Itulah kejadian yang menjadi kenangan bagiku bersama Kang Saridjo sebagai pengisi kekosongan dan perasaan birahiku. Akhirnya obsesiku tercapaikan dan aku puas.

TAMAT

Komentar Anda

comments