agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Cerita Dewasa Tukar Pasangan » Pagar Makan Tanaman 2
Pagar Makan Tanaman

Pagar Makan Tanaman 2

Cerita Dewasa – “Hayo.. sayang, ayo.., sentuhlah pusat kenikmatanku. Henny butuhkan saat ini, ay.. ayo.. ayoo.. Rob. Kejam kamu Rob, kejam kamu, aku mau puncak Rob!”, teriaknya keras sekali sambil pantatnya terangkat tinggi bertumpu pada kakinya. “Iya bidadariku.., tunggu saatnya tiba, aku tahu kapan saat kenikmatanmu akan tiba, aku akan buat bidadariku terbang ke Surga …

Review Overview

User Rating: 3.15 ( 1 votes)
0

Cerita Dewasa – “Hayo.. sayang, ayo.., sentuhlah pusat kenikmatanku. Henny butuhkan saat ini, ay.. ayo.. ayoo.. Rob. Kejam kamu Rob, kejam kamu, aku mau puncak Rob!”, teriaknya keras sekali sambil pantatnya terangkat tinggi bertumpu pada kakinya.
“Iya bidadariku.., tunggu saatnya tiba, aku tahu kapan saat kenikmatanmu akan tiba, aku akan buat bidadariku terbang ke Surga kembali, melayang diawan-awan, ayo Hen.. rasakan.. rasakan yach.., terus.. nikmati aja”, celotehku tak karuan lagi sambil tetap memujanya.
Pantatnya terus diangkat beberapa kali sambil menggelepar-gelepar, rambutku dijambak, didorong minta pusat kewanitaannya segera aku sentuh. Aku tetap mendiamkannya, aku buat dia tersiksa dan ciuman bibirku kupindahkan ke puting kirinya dan “secepat kilat”, jari tengah kananku menyetuh bibir kemaluannya. Makin menggeleparlah dia dan terasa sudah sangat becek oleh cairan kewanitaannya. Aku gosok-gosok lembut antara bibir kemaluannya sampai ke bawah mendekati anusnya. Saat jariku menyentuh bagian bawah dekat anus, Henny berteriak keras sambil memukul kepalaku.
“Robby.. Robby.., jangan siksa aku, ayoo.. lakukan untukku Say..”, pintanya.
Secara pelan aku gosok 3-4 kali, mendadak seluruh tubuhnya mengejang, pantat diangkat tinggi sekali, berteriak histeris dan pundakku dicengkeram dengan kuat dan sampai tergores oleh kukunya. Saat itu menyemprotlah cairan kewanitaannya sangat banyak. Semprotannya seperti pria sedang buang air seninya, sampai mengenai seprei putih di kasurnya. Inilah orgasme pertama yang diterimanya dariku.

Pikirku, tunggu bidadariku, sebentar lagi kubuat kamu melayang-layang kembali, menyemprotkan cairanmu kembali bagaikan pemadam kebakaran menyemprotkan air secara deras. Sejenak tubuhnya melemas, cengkeramannya lepas dari pundakku tapi tangannya mengelus kepalaku. Kulihat senyum manis.. sekali terlihat dari bibirnya yang sensual. Tangan kananku lepas dari kemaluannya, aku elus pahanya sambil bibirku menciumi pusarnya.
“Ahh Rob, geli.. geli Rob! Sayang.., kamu hebat Say.. belum apa-apa aku sudah kamu buat orgasme. Sampai berapa kali Say mau buat aku orgasme seperti tadi?”, tanyanya mengandung makna meminta dan meminta.
“Tenang Hennyku yg lembut, berapa kalipun kamu inginkan, aku siap memuaskanmu, kamu malam ini menjadi milikku sepenuhnya”, kataku merayu.
“Jangankan malam ini, selamanyapun kalau Robby mau memilikiku, aku siap tinggalkan Har, serius sayangku. Aku butuh kenikmatan darimu”, sahutnya.
“Bener nikh bidadariku? Itu tadi belum apa-apa lho, tunggu babak berikutnya yang lebih heboh, surprise untukmu bidadariku..”, janjiku.
“Kapan.., sekarang dong Say, aku udah siap nikh menerima serbuanmu”.
“Tunggu sayang, sabar aja yach! Kamu akan rasakan bedanya sentuhanku dibanding suamimu dan pria lainnya, tunggu yaa..!”, aku meyakinkannya.

Tanganku mulai meraba bawah pusarnya secara halus, terasa gelinjang pantat Henny menerima sentuhanku kembali. Bibirku mulai menjelajahi ketiak kirinya. Menggelinjang lagi dia. Ketiak yang tanpa bulu, putih bersih dan harum baunya, membuat penisku berdenyut-denyut keras dan tak kuduga menyentuh tangan kanan Henny yang masih menggelayut lemas di pinggir sofa.
“Rob.., apa nikh.. pentung karet atau Mr. “P”-mu Say?”, celetuknya. (Henny pakai istilah itu untuk penisku).
“Emangnya kenapa bidadariku?”, tanyaku pura-pura tidak paham.
“Koq gede banget, panjang dan keras.Apa ngga jebol vagina ceweqmu?”, katanya terheran-heran.
“Emang punya suamimu seberapa?”, pancingku ingin tahu punya suaminya.
“Ahh.. sudahlah.. jangan nanya-nanya itu lagi. Aku udah bilang, muak aku ama suamiku..”, bentaknya.
Bentakan seorang istri yang aku tahu tidak pernah mendapatkan kepuasan dari suaminya, walaupun menunggu sekian tahun, yang saat ini sedang merengkuh kenikmatan tersebut dan merajut kasih dengan teman suaminya.
“Sorry Say, aku merusak susana kenikmatanmu. Okey lupain yach”, kataku.
“Ngga apa-apa sayang, sorry aku marah. Aku tidak mau terlewatkan sedetikpun kenikmatan yang baru aku raih bersamamu, Rob..!”, sahutnya.
“Robby, mau khan kamu kasih kenikmatan aku lagi, please mulai ya..”, pintanya padaku dengan manja sambil mengelus meraih batang kemaluanku.
Tanpa mendapatkan jawabanku, aku mulai menjelajahi seluruh permukaan perutnya dengan bibirku. Aku cium, aku sedot pusarnya yang bersih dan harum (mungkin tadi sedikit disemprotkan parfum).
“Ahh.. nakal kamu yaa Say, geli banget lho Say..!”, serunya.
“Mau yang geli atau yang sakit, bidadarku?”, tanyaku balik.
“Terserah kamu aja. Aku seneng lho Rob kamu panggil aku bidadari”.
Aku teruskan cium pusar itu, terus turun dan turun mendekati bulu indah kemaluannya. Dipikirnya aku akan melanjutkan ke bawah dan mungkin ini yang diharapkan dan aku tahu itu. Sengaja aku buat “trik” agar dia protes dengan cemberut manjanya. Ternyata benar juga.
“Rob, terusin ke bawah donk. Kenapa, jijik ya? Emang kamu ngga pernah kiss kewanitaan istrimu?”, pancingnya penuh arti.
“Tenang bidadariku, tunggu dong, sabar..! Kenikmatan akan makin puncak kalau dilakukan dengan lembut sayangku”, sahutku.
“Ini yang ngga aku dapetin dari Har lho sayang..”, pengakuan jujurnya.
Aku kulum terus sekitar pusar dan bulu halus kemaluannya dia terus mendesah dan makin keras desahan itu sambil mengangkat tinggi pantatnya minta kusentuh klitorisnnya. Tapi aku biarkan dia menderita dengan kenimatannya, aku bikin nafsu birahinya mendekati puncak lagi. Aku baru mau memulai babak kedua untuk kenikmatannya.

Babak kedua aku mulai dengan mencium mata Henny. Dia diam dan menikmatinya sekali. Kudiamkan cukup lama kecupanku di matanya, sambil jari tengah tangan kananku bermain di pusarnya. Kuraba pinggir pusarnya, berganti masuk ke dalam pusarnya. Keluar lagi, masuk lagi terus menerus sampai dengus nafasnya mulai timbul lagi karena rangsangan itu.
Ciumanku beralih ke rambutnya, turun ke telinga kanannya, lidahku menjilati daun telinga bagian dalamnya, menjelajahi semua daerah dalam telinganya dan nampak tubuh Henny mulai menggeliat penuh nafsu. (Bagi sebagian wanita, daun telinga karena kulitnya sangat tipis, sangat sensitif menerima rangsangan dan hasilnya biasanya dahsyat, biasanya langsung cairan kewanitaannya mengalir keluar di vaginanya).

Aku tahu dia suka dengan jilatan di telinga itu, maka sengaja kuperlama, terus turun leher bagian dalam (bawah dagu) dan naik lagi ke dagunya. Lenguhan panjang mulai sering keluar spontan dari mulutnya. Kuturunkan ciuman tersebut ke payudara kirinya, sementara tangan kananku mulai turun menyentuh bibir kemaluannya, mengelusnya, sedangkan tangan kiriku memilin-milin puting kanannya. Aku tekan keras, aku longgarkan, aku tekan lagi sambil aku lakukan gigitan mesra di puting kirinya.
“Auuw.., ihh nakal cayang yaa..”, jerit kecilnya sambil membelai rambutku dengan manja.
“Teruskan Say.. Say.., aku suka koq, gigit lagi Say, gigit..”, pintanya.
Ahh.. kena juga pancinganku, tambah lagi daerah sensitif Henny yang kuketahui (telinga, pusar, sekitar bulu kemaluannya dan putingnya). Seolah tanpa merespons, aku sedikit menjauh dan ternyata dia menyorongkan susunya mulutku. Aku gigit mesra lagi, pelan tapi lama tak kulepaskan. Dia menggeliat hebat dan menjambak rambutku.
“Gila kamu Rob, pintar banget kamu menaikkan nafsuku. Gila.. gila..”, celotehnya nggak karuan sambil tetap menjambak rambutku keras sekali.

Aku buat strategi baru.Tangan kananku meninggalkan kemaluannya dan dia nampak tidak mau tanganku menjauh dari situ, sebab tangannya menuntun tanganku kembali ke sana. Tapi aku lepaskan. Kedua tanganku beralih ke gunung kembarnya yang putih dengan putingnya yang masih kemerah-merahan. Melihat bentuk sekitar putingnya, nampaknya si Har jarang menyedot dan mengulumnya. Sebab kalau puting sering dikulum dan disedot, apalagi sudah punya anak, pasti akan berubah warna coklat kehitam-hitaman. Aku remas-remas kedua susunya sambil aku mainkan putingnya. Kemudian aku tarik sama-sama ketengah dan kutemukan ujung puting kiri dan kanannya, aku hisap dalam-dalam sambil aku gigit pelan sekali. Nampaknya dia menikmati sekali dan minta lagi dan lagi dengan menekan kepalaku agar tidak bisa lepas dari kedua ujung putingnya.

“Ahh.. Ohh.. hhm.. hmm.., terus Rob, terus! Gila bener, Ahh.. terus sedot, terus gigit Say sampai pagi, nikmat sayangku.. nikmat sekali, jangan pernah berakhir Say, terus.. terus, Ahh.. Ohh..!”, rintihnya hebat.
Wouw.. aku lihat rona wajahnya memerah pertanda telah terjadi dilatasi atau pelebaran semua pembuluh darahnya, menampakkan darah mengalir deras ke seantero tubuhnya. Kepalanya menengadah keatas sambil melenguh panjang. Terus aku sedot-sedot, aku pilin-pilin kedua putingnya dengan lidahku. Aku putar-putarkan lidahku menjelajahi semua daerah putingnya, makin mengeras sekali kedua putingnya (mungkin suaminya tidak pernah membuat sensasi seperti ini). Didorongnya kepalaku mengarah ke bawah dengan kedua tangannya yang halus dan aku tahu apa yang diinginkannya, tapi kembali birahinya benar-benar aku permainkan, aku ingin dia mendapatkan orgasme kedua kalinya. Aku acuh saja dan tetap menyedot kedua putingnya, sampai dia berteriak.
“Ohh.. geli, ngilu, kejang semua tulangku Rob, stop.. stop ngga kuat aku Say, udah.. udah..! Ahh.. hmm.. hmm.. ehh..”, dengusnya sambil mengangkat dadanya.

Pelan-pelan aku lepaskan kedua puting susunya, ciumanku mulai turun ke sekitar pusarnya lagi, tangan kananku mulai meraba bibir vagina. ‘Serangan fajar’ mulai kuaktifkan, klitorisnya mulai aku sentuh dengan jari tengahku dan ciumanku di sekitar pusar dan bulu kemaluannya aku tingkatkan sambil aku sedot-sedot. Ini menaikkan aliran darah vaginanya. Jariku mulai masuk perlahan-lahan, mencari lubang pipisnya, terus masuk menjelajahi rongga-rongga labia minoranya. Secara refleks pantatnya terangkat keatas meminta agar terus disentuh. Pelan tapi pasti, jariku terus masuk dan naik ke atas klitoris bagian dalamnya, mencari pusat G-Spotnya. Dia berontak bukan marah tapi mungkin berontak, ‘mengapa tidak dari tadi kau sentuh bagianku ini?’. (Siapapun wanita itu, kalau G-Spotnya sudah ditemukan dan dirangsang lembut, pasti akan terbang melayang diawan-awan dan dijamin 100% semprotan cairan kenikmatannya akan segera datang).

Kutemukan segumpal daging kecil seperti kutil, masih lembut dan halus dan lembek. Perlahan tapi pasti aku gosok-gosokkan jariku disekitar G-Spotnya, dan.. bagian itu mulai mengeras, tidak lagi lunak tapi mulai kasar permukaannya, bagaikan pasir mengeras, bergerigi dan membesar. Gerakan tubuh Henny sudah tak teratur dengan lenguhan panjang penuh birahi, pertanda semprotan kedua segera tiba.
“Ahh.. Oou.. ngilu Rob, ahh.. aku koq pingin pipis Rob, pipis Rob, pipis..! Rob.. tunggu, tunggu Rob, aku mau pipis nikmat..”, rintihan birahinya.
“Pipiskan aja Say, keluarkan, semprotkan Say, muncratkan, nikmati Say..”, bisikku mesra ke telinganya.
“Ngga kuat Rob.. ngga kuat! Ngga apa-apa to aku pipis?”, tanyanya.
Gila.. pikirku, dia ngga pernah ngerasain pipis birahi? Gila.. apa yg dilakukan suamimu Hen.., keluhku dalam hati. Betapa menderitanya Henny tanpa pernah ada yang membahagiakan bathinnya.
“Aahh.. Ahh.., Rob.. aku pipis Rob..! Rob, tolongin aku Rob, ngilu Rob.., ngilu banget Rob! Ahh.. ahh..”, teriaknya dengan histeris sambil tangannya mencakar punggungku kedua kalinya.
Cairannya menyembur keluar seperti yang pertama, kembali mengenai sofanya banyak sekali.
“Robby cayang, gila benar kamu Rob! Udah dua kali kamu buat aku mencapai puncak, meskipun Mr “P”-mu belum sempat menyelam lubang pipisku..”, celoteh kekagumannya.
Aku biarkan dia mengoceh dengan kenikmatannya.
“Rob, aku lemes, panas! Keringatku banjir lho Rob.., bawa aku ke kamar, di kamar sejuk karena AC-nya udah aku hidupin dari tadi”, sambil kedua lengannya menggelayut di pundakku pertanda minta kugendong manja.
“Okey tuan putri, demi bidadariku, aku siap melakukan perintah tuan”, sahutku memanjakannya.
“Aku cayaang.. banget ama kamu Rob, kamu pintar banget puasin aku”.
“Hen, itu baru ronde kedua dan belum apa-apa lho, masih kuat ngga?”, tanyaku memancing nafsunya sambil menggendongnya dan masuk ke kamarnya.

Kamar yang sangat pribadi yang hanya boleh dimasuki oleh suami istri sah, saat ini aku menginjakkan kakiku di dalamnya. Gila, suasana kamarnya demikian romantis, ranjangnya dibungkus kelambu tipis seperti dalam film roman barat atau seperti kamar hotel bintang lima saja. Dindingnya penuh wallpaper bernuasa lembut dan romantis. Kasurnya sangat empuk dan ‘mentul-mentul’.

Kuletakkan tubuhnya dengan lembut di ranjang, tapi lengannya tak mau lepas dari pundakku. Ditariknya aku mendekat dan diciumnya mataku dengan manja. Aku elus lembut betisnya, perlahan naik kepahanya dan aku stop sampai disitu dulu, memberi kesempatan dia melepas lelahnya. Dia nampaknya tidak setuju dan dia mengelus batang kemaluanku sambil tidur memandangku. Spontan penisku tegang. Dielusnya lembut naik turun penisku, nikmat sekali rasanya mendapatkan sentuhan seorang istri kesepian yang haus kenikmatan birahi. Matanya sayu menatapku dengan wajah meminta dilanjutkan di ranjangnya.
“Rob, kapan kamu keluarinnya. Sini aku hisap mau..?”, pintanya memelas.
Batinku, ‘Siapa yang ngga pingin? Tapi ntar dulu bidadariku. Aku akan bikin kamu bergetar lebih hebat dalam ronde ketiga, sampai habis cairan nikmatmu nanti’.
Karena elusan lembut tangannya pada buah zakarku, aku mengelinjang dan jujur saja nafsuku naik demikian hebat. Mataku sudah gelap, ingin segera kutembakkan penisku ke liang memeknya. Tapi alam sadarku masih main, aku bertekad bikin Henny benar-benar terkapar dan mencari kenikmatan terus dariku.

Henny telentang di tepi ranjang. Wajahku mulai kuturunkan ke kakinya. Henny heran dan melihatku ke bawah sambil meremas penisku tanpa sadar.
“Kamu mau ngapain cayang, koq ke kakiku?”, tanyanya dengan heran.
Tanpa menjawab, aku teruskan program kerjaku ngerjain Henny, kapan lagi aku bisa tunjukkan kemampuanku memuaskan dia, pikirku. Aku ciumi ujung jarinya, aku hisap jempol kakinya.
“Ahh.. gelii..”, reflek dia tarik kakinya menjauh dari mulutku.
“Aduh sayang.. nikmat sekali. Pintar juga kamu menaikkan birahiku”, tambahnya sambil meremas penisku yang tak lepas dari genggamannya.
Aku tarik kembali kakinya dan kuteruskan menciumnya, terus naik ke betisnya. Dia mulai menggoyangkan kedua kakinya, bergerak kesana-sini. Aku tahu dia mulai terangsang lagi. Segera bibirku kuarahkan ke lututnya dan aku cium kuat-kuat sambil kupegangi agar tidak lepas dari ciumanku. Dia berontak hebat.
“Oouw.., geli..! Teknikmu banyak banget sih Rob, bisa gila aku ML ama kamu..”, celotehnya penuh nafsu sambil mulai mengocok penisku lembut.

Aku teruskan ciumanku karena aku tahu dia menikmatinya dan lututnya diangkat ke atas sambil melenguh panjang. Tangan kiriku mulai meraba pahanya, pelan tapi pasti rabaanku menuju pangkal pahanya dan seperti mengerti dan memang menanti, dia buka lebar pahanya, sehingga terlihat klitorisnya yang memerah. Darah sudah mengumpul didaerah itu, pasti sensitifitasnya udah sangat tinggi. Jariku berputar-putar dibibir kemaluannya sambil sesekali seperti tanpa sengaja aku menyerempetkan tanganku ketengah vaginanya, dia menggelinjang manja seperti berharap terulang lagi. Setelah basah lututnya oleh air liurku dan penisku sudah ngga tahan karena elusan jarinya yang lembut, aku mengalihkan ciumanku ke pahanya. Nampak dia melenguh manja sambil kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tanda birahinya mendekati puncak. Pelan tapi pasti, kucium terus sampai menyentuh area lipatan pahanya yang menghubungkan bibir kemaluannya. Sebagian wanita, juga sangat mengharapkan daerah tersebut disentuh, dijilati dan dihisp-hisap. Kenikmatannya sungguh berbeda, mengantarkan ke puncak orgasme. Benar juga dia sudah mulai menggelinjang keras sambil mengangkat pantatnya, sehingga rambut halusnya menyentuh hidungku. Bibirku perlahan-lahan masuk ke wilayah rambut kemaluannya yang tipis. Bulu Henny tipis sekali, tidak terlalu lebat dan tidak kasar. Nampak sengaja bulu itu dirawatnya dengan baik dan harum bercampur aroma khas kewanitaannya mulai aku rasakan, menambah syahwatku meningkat. Kudenguskan nafasku ke liang vaginanya tanpa menyentuhnya dulu. Ini teknik juga untuk memancing agar sang wanita memburu dan setengah memaksa meminta agar menyentuhnya. Benar saja, dia sodorkan bibir kemaluannya ke mulutku kedua kalinya.

Langsung aku meresponsnya karena aku pikir sudah saatnya gelombang kenikmatan aku antarkan ketiga kalinya. Dengan kedua jariku, kubuka sedikit bibir kemaluannya, kutemukan klitorisnya, kukulum, kujilat dan.. kusedot-sedot. Wouw.. rekasinya sungguh dashyat, pantatnya melonjak keatas memukul gusi dan gigiku, luar biasa reaksi wanita yang sedang penuh birahi. Kulumat lembut ujung klitorisnya, merembet ke tepi bibirnya dan menuju bibir bawah yang menyambung ke anusnya. Kembali lonjakan histeris terjadi hingga dia berteriak keras.
“Rob.., ahh.. ahh.., aduhh.. ngga kuat, ayo masukkan, masukkan..”, pintanya histeris.
Aku diamkan saja, aku goyang-goyangkan dan lidahku menari-nari di permukaan vagina Henny. Gerakan kakinya tak beraturan lagi, kepalanya ke kiri-ke kanan sambil jari tangan kiriku aku masukkan ke mulutnya. Disedot-sedotnya jariku sambil kadang digigitnya menahan kegelian klitorisnya yang kusedot-sedot.

Lidahku makin menjelajah lebih dalam ke rongga vaginanya, keatas-kebawah, sambil menari-nari. Cairan sudah mengalir namun orgasme belum tiba. Tangan kananku sedikit membantu membuka jalan agar lidahku bisa masuk jauh ke dalam, bila perlu sampai ke dekat G-Spotnya. Lidahku bisa masuk dan mulai naik ke bagian atas klitoris bagian dalam dan tak lama..!
“Robby.., aku mau pipis lagi Rob! Gila kamu Rob, kamu apain aku ini?”, teriaknya sambil kukunya mencengkeram rambutku dan menekannya keras kepalaku lebih menempel ke liang vaginanya dan kakinya menjepitku.
“Crutt.. cruut.. cruut..! Ahh.. gila.. gila Rob, ngilu Rob..”, cetusnya.
Seketika itu juga cairan itu muncrat dan masuk ke kerongkonganku. Asin, gurih, putih pekat dan nikmat sekali. Langsung kaki dan tangannya lepas mencengkeramku dan kini lemah terkulai diatas kasurnya. Cairan itu tidak sampai jatuh ke sepreinya, karena tertelan semua olehku. Aku mulai menjilati vaginanya, membersihkan cairan yang tersisa dan menelan semuanya.
“Ihh.. ngilu Rob.., kamu ngga jijik Rob?”, tanyanya menatapku heran.
“Ngapain jijik ama cairan orgasmemu, kalau sayang, maka segalanya yang bisa menyenangkan hatimu, pasti aku lakukan”, jelasku padanya.
“Kamu baik ya Rob! Aku ngga pernah lho dimimik ama suamiku. Apalagi mau sampai jilatin, wong orgasme sampai muncrat kayak tadi aja gak pernah”, keluh kesahnya padaku sambil mengelus penisku.
“Kamu bikin aku gila beneran Rob! Nafsuku menggila, puncak kenikmatanku pertama kali gila kayak gini. Aku bisa tergila-gila ama kamu Rob..”, tambahnya belum puas memujiku.
“Kamu belum tembakkan pelurumu, aku udah 3X orgasme, wah.. ceweq mana ngga gila ama kamu, Rob..!”, celotehnya terus karena kepusan yang kuberikan.
“Aku ngga pernah main ama ceweq lain kecuali istriku”, bantahku.
“Kalau malam ini sama siapa Rob, hayoo..!”, sergahnya.
“Ohh, itu lain bidadariku. Berdosa aku kalao nggak memuaskan birahimu”, jawabku.

Sambil saling memuji dan menyanjung, tanganku mulai memainkan putingnya lagi hingga terjadi denyutan di bibir vaginanya. Aku lihat handuk kecil di ujung ranjang. Aku tarik dan aku pergi ke toilet untuk memberikan sedikit air di handuk tersebut, lalu aku oleskan dengan lembut di vaginanya. Segera kukeringkan bibir kemaluannya dengan tiupan dari mulutku. Henny terkejut menggelinjang geli, mungkin sisa-sisa rasa ngilunya masih tersisa. Karena sudah ketiga kalinya aku membuat Henny orgasme, sudah menjadi kebiasaanku pada istriku, saatnya tiba babak terakhir dimana biasanya aku masukkan penisku ke liang kemaluan istriku. Dihadapanku ada Henny yang terkapar kenikmatan, sementara aku belum meraihnya, ini saatnya.

Langsung straight, ciumanku tertuju pada klitorisnya. Kujilati kiri dan kanan, atas dan bawah sampai pertemuan anusnya. Anusnyapun tak luput aku jilati. Disini Henny menjerit hebat sambil pantatnya terangkat. Cairan putih membasahi klitorisnya, aku hisap dalam-dalam sampai Henny berontak melompat.
“Rob.., ahh.. ooh.., geli Rob! Ayoo.. masukkan, aku capek Rob, please..”, pintanya.
Aku naiki tubuhnya dan posisiku menindihnya. Spontan lengan Henny meraih penisku.
“Penismu gede banget cayang, ayoo masukin yach..”, pintanya.
Digosok-gosokannya ke klitorisnya, turun ke bawah dekat anus, ke klitoris kembali, sedikit ditekan masuk dan ditarik keluar kembali.
“Ayoo cayang, aku udah ngga kuat. Ngga kebayang gimana ngilunya aku saat penismu yang besar ini nembus liang kenikmatanku..”, pintanya.
Perlahan dituntunnya penisku ke arah liangnya, pelan dan dengan lembut aku bantu dorong masuk, agar Henny tidak terkejut dan nyeri karena penisku. Kutekan, kutarik, kutekan dan kutarik. Makin lama tekanannya makin dalam dan.. masuklah setengah penisku ke liang kenikmatannya.
“Oou.. sakit Say, pelan aja yach. Sini aku bantu”, katanya meringis.
Karena sudah terlumasi oleh cairan kewanitaannya, cukup mudah penisku masuk walaupun agak sempit. Makin lama makin habis tertelan penisku dan Henny melenguh nikmat sambil matanya melek merem, kepalanya ke kiri dan kanan. Kudiamkan sejenak, ini teknik juga buat membuat wanita menderita menanti sodokan akhir. Henny mengangkat pantatnya meminta aku memulai sodokan mesra.

Kusodok pelan-pelan, bagaikan film slow motion.Ini membuat Henny merengkuh kenikmatan yang luar biasa. Biasanya kaum Adam kalau sudah begini digenjot seenaknya sendiri tanpa variasi kenikmatan pasangannya.
“Hayo.. Rob, aku udah ngga kuat..! Aku mau puncak lagi nikh”, rengeknya.
Terasa penisku disedot-sedot di dalam lubang kenikmatannya, kuat sekali cengkeraman Henny sampai lututku terasa ngilu dibuatnya. Dipelintir, disedot tak karuan lagi rasanya, hanya nikamt surga kurasakan. Kugenjot makin kuat dan keras, terdengar bunyi ceplak.. ceplok.., karena basahnya bibir kenikmatan Henny. Selama 10 menit dengan posisi itu, Henny berteriak-teriak histeris karena penisku menyentuh mentok rongga dalam vaginanya. Seprei sudah acak-acakan dan cakaran-cakaran nikmat banyak tergores dipunggungku. Karena aku sudah lelah dan Henny juga loyo, tak terasa sudah 3 jam berlalu, dengan seluruh fantasiku, kupaksakan diri untuk segera orgasme. Dengan beberapa sodokan kilat, aku mengerang keras sambil menjambak rambut Henny. Demikian juga Henny mengerang keras makin menyedot-nyedot penisku di dalam, kedua pahanya menggapit pinggulku kuat sekali. Kepalanya bergoyang tak beraturan lagi.

“Ahh.. ahh.., Hen.. aku keluar Hen! Ahh.. Ohh.., ayo sama-sama, Hen..”, pintaku.
Crott.. crott.. crott.., tembakan cairan spermaku keras menyembur di liang kenikmatan Henny. Demikian juga Henny.
“Robby.. Robby.., peluk aku Rob, nikmat Rob, nikmat sekali..”, lenguhnya keras sekali.
Serr.. serr.. serr.., cairan itu dimuntahkannya. Terasa oleh penisku ada semburan hangat menerpa dan banyak sekali, deras..! Kami berdua lemas, lelah dan aku rebah disampingnya, diapun memiringkan tubuhnya tanpa mencabut penisku dari liang kenikmatannya.
“Robby, thanks berat yach! Aku ngga nyangka bisa orgasme 4X dalam sekali permainan. Kamu hebat bisa bikin aku gini. Aku takut kehilanganmu Rob, please jangan pernah lupakan aku yach..”, cetusnya.
“Suamiku kalau ML denganku, ngga lebih dari 3 menit udah muncrat.., aku ngga pernah orgasme sekalipun, ini udah 7 tahun pernikahanku”, keluhnya.
Tanpa terasa airmatanya menetes lagi dan kusuap dengan jariku penuh kasih sayang dan kuyakinkan dia bahwa aku akan selalu menyayanginya.
“Henny sayang, kapanpun kamu butuhkan aku, aku siap memuaskanmu. Suamimu di rumah, kamu call HP-ku, kita atur pertemuan di P Cottage yach..”, pesanku.
Aku cabut penisku yg masih tegang dan kami berdua mengakhirinya dengan mandi bersama dan kami tidak jadi dinner karena sama-sama lelah dan terpaksa aku menginap di rumahnya sampai mentari menyingsing di ufuk timur. Bahagia sekali Henny pagi itu, bagaikan baru saja meraih piala Citra yang diidam-idamkan oleh para artis film Indonesia.

Demikian kisah nyataku dalam memenuhi birahi istri temanku sendiri dan akan kulanjutkan kisah asmaraku dengan Henny dalam episode berikutnya yang lebih seru dimana Henny merekomendasikan 2 temannya dengan status istri, untuk menikmati kebahagiaan seperti yang dirasakannya.

E N D

Komentar Anda

comments