agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Cerita Dewasa Tukar Pasangan » Perselingkuhan Ibuku 1
Perselingkuhan Ibuku

Perselingkuhan Ibuku 1

Cerita Dewasa – Sudah lebih satu tahun aku kuliah di Yogya sejak tahun 2001 lalu dan liburan semester kemarin aku berkesempatan pulang ke daerah asalku di sebuah kota kecil di Sumatra. Di rumah hanya tinggal aku, kedua orang tua dan adikku yang masih sekolah si SMU. setiap hari ayahku sibuk usaha. kadang-kadang pergi seminggu dan …

Review Overview

User Rating: 4.85 ( 1 votes)
0

Cerita Dewasa – Sudah lebih satu tahun aku kuliah di Yogya sejak tahun 2001 lalu dan liburan semester kemarin aku berkesempatan pulang ke daerah asalku di sebuah kota kecil di Sumatra.
Di rumah hanya tinggal aku, kedua orang tua dan adikku yang masih sekolah si SMU. setiap hari ayahku sibuk usaha. kadang-kadang pergi seminggu dan cuma beberapa hari dirumah, itupun cuma sebentar saja.

Aku tidak pernah menyangka kalau ibuku termasuk perempuan yang libidonya tinggi, hingga dengan seringnya ayahku pergi, jelas nafsunya tak tersalurkan. Aku tahu, ayahku juga punya pacar di kota-kota yang sering disinggahinya, karena aku pernah pergi dengannya beberapa hari dan malamnya aku tahu dikamar sebelahku (yang diinapi ayahku) terdengar suara-suara erangan. Paginya aku masuk ke kamar ayahku dan mendapati mereka tengah mandi sambil bercinta.

Kembali ke masalah Ibuku, sejak seminggu aku tiba dirumah, ayahku sedang pergi ke luar kota. Malamnya aku pergi dengan beberapa temanku, kebetulan malam itu malam minggu. Adikku juga pergi ngapelin pacarnya. Ibuku tinggal sendirian di Rumah.

Belum jam 9 aku memutuskan untuk pulang ke Rumah untuk menemani ibuku. Perlu ku jelaskan rumahku ada disebuah desa yang penduduknya tidak terlalu banyak. Dekat rumahku ada sebuah sungai dan dikelilingi sawah. Rumahku dikelilingi tembok setinggi 2 meter di samping dan belakang.

Setibanya di rumah, aku mendapati pintu depan dikunci. Aku lalu berjalan ke belakang, tapi begitu tiba disamping kamar ibuku kudengar suara-suara orang bercakap-cakap pelan. Ada suara laki-laki. Kupikir ayahku sudah datang. Tapi kudengar suara itu suara laki-laki yang ku kenal dan bukan ayahku. Aku berjalan mendekati jendela kaca lebar yang tertutup gorden putih. Lampu didalam remang-remang. kucoba mencari celah gorden untuk melihat kedalam dan kutemukan di tengah pertemuan antara dua gorden.

Aku lalu jongkok sambil mengintip ke dalam. kulihat ibuku sedang ngobrol mesra dengan laki-laki muda yang sudah sangat ku kenal karena dia temanku. Namanya Akbar. Dia anak tetanggaku yang putus sekolah karena orang tuannya miskin. Aku nggak tahu bagaimana dia bisa menjalin affair dengan Ibuku, tapi yang ku tahu kontolnya besar dan cokelat. Aku pernah beberapakali mandi telanjang di sungai waktu SMU sama dia dan beberapa teman sambil onani dengan sabun mandi. Kami berteman akrab dengan orang lain dan pernah mengurutkan ukuran kontol yang paling besar. Akbar, aku, Iwan dan Adi.

Kulihat mereka berhenti bercakap-cakapa sambil pelan Akbar mencium bibir Ibuku (usia ibuku sekitar 40 tahun). Ibuku membalas pelan dan merek terlihat romantis sekali. Tangan Akbar meremas payudara Ibuku yang masih terbalut daster merah yang bertali. Tangan Ibuku mengelus-elus kontol Akbar yang terbalut celana jeans. Tosisi mereka terbaring berhadap-hadapan. Akbar dan Ibuku saling menjulurkan lidah dan menghisap lidah dan bibir masIng-masing sambil tangan terus bergerilya. Tangan Akbar sudah masuk ke daster Ibuku yang talinya sudah merosot dan menampakkan payudaranya yang dibalut BH. Lalu Akbar pelan menurunkan ciumannya ke leher Ibuku sambil tangannya melepas kait BH. Dengan mulut dia melepas kait BH dari punggu Ibuku hingga menampakkan payudaranya yang mulai kendor.

Ibuku terduduk dengan bersandar di ujung ranjang. Akbar membuka baju kaosnya dan duduk disamping kanan Ibuku sambil terus menciumi payudara dan meremas vaginanya. Baju ibuku sudah turun sampai paha, ternyata dia sudah tidak Pakai CD. Vaginanya terus dielus-elus oleh Akbar. dia menggelinjang dan mengerang-erang pelan sambil tangannya mencari-cari penis Akbar. Tangannya mencoba membuka celana jeans Akbar yang bagian depannya sudah menyesak menggumpal. Akbar menghentikan ciumannya dan turun dari ranjang. Di depan ibuku yang meraba-raba vagian dan payudaranya sendiri, Akbar membuka celana Jeansnya, meninggalkan CD putih yang penisnya sudah menyeruak keluar dan sedikit berlendir.

“Ayo, sayang” erang Ibuku pelan. Akbar berjalan dan naik lagi ke kasur, kali ini dia berlutut disamping ibuku dan membiarkan Ibuku mengeluarkan penisnya dan bermain dengannya. Pelan ibuku mengeluarkan penis dari CD dan mengelusnya pelan, lalu Akbar bergeser kedepan, persis di depan Ibuku. Lidah Ibuku pelan menjilati penis Akbar yang tegang, hitam kecoklatan. Lidahnya menjilati ujung penis Akbar seperti makan es krim, lalu pelan-pelan memasukkan penis Akbar ke mulutnya. Akbar mengerang dan meremas rambut Ibuku yang terurai.

Pelan-pelan akbar menggoyangkan pantatnya dan membuat penisnya keluar masuk di mulut Ibuku yang duduk tegak dengan kaki mengangkang diantara tubuh akbar yang berlutut dihadapannya. Kulihat Akbar dan Ibuku begitu menikmati permainan mereka dengan erangan dan sentuhan.
Aku yang sejak tadi ngintip sambil jongkok kini berlutut dan mengeluarkan penisku dari sarangnya sambil mengelus pelan terus melihat adegan didalam kamar.

Kulihat Akbar mengerang sambil melepaskan penisnya dari mulut Ibuku dan mengocoknya hingga sperma muncrat di wajah ibuku yang menjilati penis Akbar.
Akbar lalu berbaring di ranjang, ibuku turun dari ranjang mengambil tissue dan melap penis akbar yang mulai lemas terkulai. Lalu ia beranjak ke kamar mandi dengan telanjang bulat.

Ibuku terbalut handuk waktu keluar dari kamar mandi dengan wajah bersih dari sperma sambil membawa segelas minuman dan mengangsurkannya ke Akbar.
Aku menghentikan kocokan di penisku dengan harapan show akan berlanjut.

Kulihat ibuku beranjak menghidupkan TV, suaranya terdengar sayup-sayup keluar dan kudengar suara rintihan dan erangan, langsung ku tebak itu VCD porno. Lima menit ibuku nonton sambil duduk di bibir ranjang. Akbar juga menonton sambil masih berbaring telentang. Sepuluh menit kemudian kuliahat penisnya mulai membesar lagi sambil tangannya mengelus-elus sampai ukuran maksimal. Lalu dia beranjak kebelakang ibuku dan memeluknya sambil menciumi punggu dan melepas handuk dan meremas payudara ibuku. Ibuku memeluk leher Akbar dari depan sambil berciuman. Akbar sambil terus mencium Ibuku beranjak turun dari ranjang dan menghadap ibuku yang masih duduk di pinggir ranjang, dia berlutut dihadapan ibuku dan mengarahkan wajahnya ke vagina ibuku.

Ibuku langsung mengangkangkan kakinya hingga akbar leluasa mengarahkan lidahnya ke vagina ibuku. Akbar menjilati vagina ibuku yang menggelinjang dan mengerang pelan. Ibuku semakin mengangkangkan kakinya dengan tangan menyangga tubuh di ranjang. Akbar terus menjilati dan mengulum vagina Ibuku sampai dia mau orgasme, terlihat dengan tubuhnya yang menegang dan ia memegang kepala Akbar yang berada diselangkanagnanya. Akbar melepas cumbuannya dan membiarakan Ibuku tenang dulu dengan menciumi bibirnya pelan dan mesra sambil merebahkan tubuh Ibuku di ranjang dengan kaki masih menjulur ke lantai. Penisnya menempel di paha ibuku yang memeluknya sambil mengelus punggung Akbar.
Aku juga diluar yang mengintip sambil onani nyaris orgasme, tapi kutahan untuk adegan selanjutnya yang kutunggu-tunggu.

Akbar masih mencumbu bibir Ibuku dengan mesra dan lembut, tangannya menopang pada kasur hingga tidak menempel di tubuh ibuku, penisnya digesek-gesekkan di sekitar selangkangan Ibuku. Akbar beranjak menuju meja rias dan mengambil sesuatu yang ternyata adalah cairan pelicin. Dia melumuri penisnya dengan pelicin dan juga vagina Ibuku. Lalu akbar berlutut di depan ranjang dan menarik tubuh Ibuku ke depan penisnya. Kaki ibuku mengangkang di bahu Akbar yang tengah memain-mainkan penisnya di liang vagina Ibuku. Setelah siap, Akbar menekan pelan penisnya memasuki vagina Ibuku yang merekah dihadapannya. Lalu setelah masuk semua, ia mulai mengocok penisnya di vagina Ibuku. Tanganya memegangi kedua paha Ibuku yang ada dipunggungnya. Akbar mengocoknya pelan dan romantis sambil tanganya coba meraih payudara ibuku.

Beberapa menit kemudian, Akbar mengepitkan kedua paha Ibuku dengan kakinya hingga kaki Ibuku ada di dalam kedua kakinya. Lalu ia bertumpu pada ranjang persis di hadapan ibuku. Penisnya mengarah ke Vagina Ibuku yang tertutup rapat dengan paha. Mungkin vagina Ibuku sudah lebar makanya dia coba dengan merapatkan paha supaya vaginanya merapat lagi. Dengan sebelah tangannya dia mengarahkan penisnya ke vagina Ibuku. Pelan dia menekan dengan kakinya tetap merapatkan paha Ibuku. Ternyata susah. Akbar meraih pelumas di samping ranjang dan melumuri vagina ibuku juga dengan penisnya, lalu kaki ibuku sedikit direnggangakan. Akbar kembali menekan penisnya di vagina Ibuku pelan. Setelah masuk setengahnya dia mengocok pelan-pelan, lalu memasukkannya semua sambil terus mengocok pelan.

Mulailah terdengar erangan dan dengusan nafas dari kedua orang tersebut. Setiap Akbar mengcok penisnya ke bawah Ibuku membalas dengan menggoyangkannya ke atas. Akbar memejamkan matanya sambil terus bertumpu pada kedua tangannya. Keduanya terus saling menggoyangkan pantat. Akbar pertama terlihat mau orgasme dan langsung mencabut penisnya dari vagina Ibuku. Lalu dia duduk di bibir ranjang. Ibuku bangkit dan berdiri dihadapannya. Akbar menarik tubuh ibuku dan menaikkannya ke pahanya dengan posisi berhadapan.

Ibuku mengarahkan vaginanya ke Penis Akbar yang memegangi tubuh ibuku. Setelah masuk, Ibuku kembali menggoyangkan pantatnya diatas tubuh Akbar. Ibuku senagaj mendorong tubuh Akbar hingga terbaring di Ranjang hingga dia bebas memegang kendali diats. Akbra meraih payudara Ibuku dan meresnya perlahan seirama dengan Kocokan pantat ibuku di penisnya.
Aku diluar semakin kencang mengocok penisku sendiri sambil kulihat ibuku mengerang hebat dan semakin mempercepat kocokannya. Lalu semakin melemah dan akhirnya berhenti. Tubuhnya jatuh di tubuh Akbar yang terbaring.

Akbar lalu membalikkan posisi mereka dan membalikkan tubuh Ibuku, lalu mengambil pelumas dan melumuri penis dan pantat Ibuku. Penisnya didorong pelan di lubang pantat ibuku pelan, lalu mengococknya pelan. Ibuku bangkit dengan posisi merangkak. Akbar semakin leluasa mengocok penisnya dengan memegani tubuh ibuku, sesekali dia merunduk dan menciumi punggung Ibuku dan meremas payudaranya.

Aku mencapai orgasme di luar begitu Akbar kocokan penis Akbar semakin kencang dan dia akhirnya sampai klimaks juga. Mereka berdua terbaring di ranjang. Tangan Ibuku mengelus dada Akbar. Lima menit kemudian, Akbar berdiri dan beranjak ke kamara mandi. Keluar dari sana dia sudah bersih dan mengenakan CDnya, lalu buru-buru berpakaian. Ibuku berdiri dan menyelipkan selembar uang seratus ribu di kantongnya.

Besok sorenya aku diajak mandi di sungai sama Akbar. Sambil merokok dan ngobrol kami duduk di pinggi sungai sebelum mandi.
“Gimana cewek-cewek jogja”. Tanya Akbar sambil membuka kaosnya.
“Biasa aja.” Jawabku.
“Udah berapa yang kau perawani?”
“Belum adalah.”
“Kenapa? Kan banyak yang bias dipake disana. Masak kalah sama aku yang disini, udah merawani 3 cewek, belum lagi Ibu-ibu yang gatal memeknya pengen kontol anak muda.”
“Yang bener, kau udah pernah ngentot?” pancingku.
“hahauahaha..” dia tertawa.”Udah biasa itu. Untuk apa punya kontol besar tapi nggak pernah nikam.”
“Siapa aja cewek itu?”
“Rahasialah. Kalau kau mau, nanti aku kenalkan sama temenku yang pernah kuentoti juga. Gratis kok. Lagian kontol kamu kan lumayan gede, dia pasti suka.”
“Kau pernah ngentot sama Ibu-ibu juga? Siapa?”
“Itu lebih rahasia lagi. Kalau cewek-cewek untuk kepuasan, kalau Ibu-ibu untuk uang. Mana enak ngentot sama Ibu-ibu, memeknya udah blong, susunya udah kendor.”
Dia berdiri membuang puntung rokok dan membuka celana jeasnnya menyisakan CD yang membalut penisnya yang menggumpal di selangkangan sambil dielus-elus.
“Ini asset, harus dijaga dan dirawat.” Katanya sambil membuka CD dan beranjak ke sungai mandi.

***

Tiga hari setelah malam itu, aku sedang nonton TV waktu kulihat Ibuku memanggil Akbar dengan kedok untuk memperbaiki Saluran kamar mandi yang rusak. Masih jam 4 sore.

Malamnya aku sengaja masuk kamar jam 8 malam dengan alasan capek. Adikku sedang pergi camping. Malam sekitar jam 10, aku yang sejak tadi terjaga mendengar pintu belakang dibuka. 5 menit tanpa ada suara. Aku keluar kamar dan tidak mendapati siapa-siapa di dapur. Waktu pintu belakang kubuka ternyata tidak terkunci. Aku melihat keluar dan melihat nyala senter diantara pohon-pohon yang ada di kebun belakang rumahku.

Aku tahu, Ibu dan Akbar janjian di pondok tempat penyimpanan kapas untuk kasur yang salah satu bisnis ayahku. Aku menunggu sampai nyala senter hilang dan aku keluar dari dapur menuju pondok itu. Kulihat Ibuku masuk ke pondok. Aku segera beranjak ke samping dan mencari lubang untuk mengintip ke dalam. Tak susah karena pondok ini memang dibuat seadanya. Kudengar suara laki-laki didalam. Lalu sebuah lilin menyala menerangi ruangan itu. Kulihat Akbar yang mengenakan jeans dan kaos. Sementara Ibuku Cuma memakai daster yang bertali di pundak.

“Halo sayang.” Kata Akbar sambil duduk diatas kasur yang siap dijual bersandar pada kasur yang ditumpuk dibelakanganya. Ibuku ikut naik ke kasur dan duduk di sampingnya.
“Rindu sama ini?” lanjut Akbar sambil mengelus penisnya. Ibuku tersenyum sambil merebahkan kepalanya di dada Akbar yang langsung memeluk dan mengelus rambut ibuku.
Tanpa banyak bicara Ibuku langsung mengelus penis Akbar. Akbar membiarkan ibuku membuka resliting celananya.
“Sebentar.” Kata Akbar sambil mengambil sebuah buku dari samping kasur. “Ini buku gaya-gaya kamasutra, nanti kita praktekkan.” Katanya sambil membuka halaman pertama. Ibuku ikut melihat sambil telungkup di kasur. Lama mereka membuka-buka buku sambil bercakap-cakap.

Akbar lalu berlutut dan pindah kebelakang ibuku yang telungkup. Kakinya dikangkangkan diantara tubuh Ibuku dan memijat punggungnya pelan. Lalu tangannya naik dan membuka ikatan daster Ibuku yang ternyata sudah tidak pakai BH. Akbar terus memijat punggu dan turun ke pantat sekaligus membuka baju Ibuku yang juga ternayata sudah tidak pakai CD, bokongnya diremas-remas Akbar pelan, bergerak kearah perut untuk menarik Baju. Ibuku menaikkan sedikit badannya untuk mempermudah melepas baju. Akbar langsung menarik daster Ibuku lepas. Sambil berlutut Akbar membuka baju kaosnya. Lalu dia rebah di punggung Ibuku, dadanya yang bidang digesek-gesekkan di punggung Ibuku, pantatnya nungging. Lidahnya menjilati leher belakang Ibuku dan punggungnya. Ibuku menaikkan badannya sedikit keatas sehingga Akbar leluasa meremas payudara ibuku yang menggantung. Ibuku melenguh pelan.
“Sayangg..mhhmmi..oohh”

Akbar menggigit punggung Ibuku yang membuatnya menggelinjang pelan. Lalu Akbar kembali berlutut dan membuka resliting celana jeasnya. Penisnya yang terbalut CD lalu digesek-gesekkan di pantat Ibuku yang kembali telungkup. Lalu Akbar menurunkan sedikit CDnya hingga penisnya muncul keluar. Coklat kehitaman. Tangannya menumpu pada kasur dengan tubuh telungkup membuat penisnya menempel di bokong Ibuku. Lalu penisnya digesek-gesekkan pelan di bokong Ibuku, kepala penisnya mengayun-ayun di tubuh Ibuku. Akbar merangkak naik dengan penis tetap digesekkan ditubuh ibuku yang telungkup, naik ke punggung lalu di leher penisnya digeser ke arah mulut ibuku yang sedikit mendongak. Ibuku langsung berbalik dan meraih penis Akbar yang menggantung tepat diatas mukanya.

Pelan Ibuku mulai menjulurkan lidahnya ke penis Akbar. Akbar memainkan penisnya di mulut Ibuku yang membasahi penis Akbar dengan air liurnya. Lalu Akbar memasukkan penisnya ke mulut Ibuku dan mulai mengocoknya pelan. Pantatnya digoyang-goyangkan pelan. Kulihat penis Akbar keluar masuk mulut Ibuku.

Tangan Ibuku mencoba membuka celana jeans yang masih membalut kaki Akbar, tapi ia kesusahan karena posisi Akbar yang mengangkangi badannya. Akbar mengerti dan melepaskan penisnya dari mulut Ibuku. Ia beranjak ke samping Ibuku berdiri dan membiarkan Ibuku melucuti celannya. Ibuku pelan menarik celana jeans Akbra ke bawah membiarkan CDnya tinggal dan membalut penis Akbar yang kepalanya sudah menonjol keluar dari CD.

Lalu Ibuku menciumi paha dalam Akbar yang masih berdiri mengarah ke atas ke selangkangan bagian dalam. Akbar mengangkangkan kakinya hingga Ibuku leluasa bergerak dibawahnya. Sedikit Ibuku menggigit buah peler Akbar yang masih terbalut CD, lalu Ibuku sedikit menarik CD hingga buah peler Akbar keluar. Ibuku menjilatinya pelan. Kulihat akbar melenguh pelan sambil memejamkan matanya menikmati jilatan Ibuku. Tangannya meremas rambut Ibuku.

Tanpa sadar tanganku sendiri sudah bergerilya di sekitar selangkangan. Aku Cuma memakai celana pendek hingga penisku yang sudah tegang terasa menempel di dinding pondok. Aku memelorotkan celananku sampai lutut dan membiarkan penisku menikmati udara luar sambil tanganku meremasnya pelan.

Didalam kulihat Ibuku menarik penis Akbar keluar dari CD dan menjilatinya pelan. Lalu memelorotkan CD akbar hingag ia berdiri bugil. Dengan ganas ibuku menjilati dan menghisap penis Akbar. Ia menggelinjang dan melenguh, badannya menggeliat pelan menikmati sensasi isapan Ibuku. Penis Akbar masuk perlahan di mulut Ibuku yang langsung menguncinya dan Ibuku menggerakkan kepalanya pelan mengocok penis Akbar. Akbar membalas dengan menggoyangkan pantatnya maju mundur. Tangannya memegangi pundak Ibuku.

“SSHhh..n ahh.. ohhmm..”
Ibuku semakin mempercepat kocokannya dan Akbar mengimbangi juga. Kulihat tubuhnya menegang, tangannya mencengkeram bahu Ibuku dan tubuhnya sedikit menunduk.
“Ohh..” Goyangan pantat Akbar berhenti begitu juga kocokan mulut Ibuku. Penis Akbar lepas dan sperma langsung muncrat ke sekitar leher Ibuku.

Akbar terbaring di kasur, Ibuku mengambil tissue yang ternyata sudah tersedia disana juga sebotol air mineral. Ia melap sperma yang tumpah di lehernya dan memberikan air kepada Akbar sekaligus membersihkan penis Akbar yang layu penuh dengan sperma.

Mereka bedua masih telanjang dan berbaring bersebelahan. Kontolku yang sejak tadi tegang perlahan-lahan juga mengendur melihat aktivitas mereka yang masih ngobrol. Aku melihat jam tanganku. Pukul 10.30. aku memutuskan pulang sebentar untuk mengambil kameraku yang memang sengaja kusiapkan untuk mengabadikan gambar mereka.
Begitu kembali dari rumah kudengar didalam pondok suara erangan dan lenguhan juga derit papan. Aku buru-buru mengintip kedalam dan melihat Akbar sedang ngentotin Ibuku.

Aku buru-buru memasang tripod kamera dan mencari lubang yang lebih besar. Aku dapat lubang sebesar cangkir dan kameraku langsung mengarah ke dalam. Kulihat Ibuku tidur telentang dengan pantatnya ditumpu bantal, kakinya dipunggung Akbar yang berlutut dihadapan Ibuku. Penisnya menancap di vagina Ibuku dan mengocoknya dengan ganas. Langsung aku menjepret adegan itu. Sesekali Akbar menciumi Bibir Ibuku dan menjilati payudaranya, tangan akbar menumpu pada kasur, pantatnya terus mengenjot penisnya di vagina Ibuku yang menggelinjang dan mengerang-erang. Ibuku lalu merangkul bahu Akbar. Akbar menyesuaikan posisi dengan menjulurkan kakinya hinggak posisi mereka berganti, Akbar dibawah dan Ibuku diatas. Penis Akbar terlihat maksimal penetrasinya hingga bulu jembut mereka bersatu. Lagi-lagi aku mengabadikan posisi mereka. Ibuku langsung mengenjot vaginanya di penis Akbar.

Akbar merebahkan Tubuhnya dan Ibuku dengan leluasa mengatur gerakan diatas. Tangan Akbar meraih payudara Ibuku dan mengelusnya pelan. Sesekali putingnya dicubit membuat Ibuku menggelinjang sambil terus mengenjot. Kulihat genjotan Ibuku semakin kencang sekaligus erangannya semkin keras.

“MHhhmm.. oohh..”
Lalu genjotannya semakin pelan.
“Sayang..sayang..sayang..” igau ibuku yang tubuhnya lalu terbaring di atas tubuh Akbar.
Akbar mengelus punggu Ibuku dan pelan membalikkan Tubuh Ibuku lalu melepaskan penisnya yang basah oleh tumpahan air lendir vagina Ibuku. Akbar lalu menciumi payudara Ibuku yang masih terbaring lelah, lalu perlahan Akbar bangkit dan melap penisnya dengan Tissue, lalu berpakaian.

Diluar aku bahkan belum sempat onani. Lalu aku buru-buru beranjak pergi.

Besok sorenya, lagi-lagi aku mandi di sungai bareng Akbar.
“Tadi malam kemana lo?” pancingku.
“Biasalah, tugas.” Jawabnya.
“Tugas apa?”
“Nyari uang-lah. Ada Ibu yang gatal pengen ku entotin, kan lumayan uangnya.”
“Memangnya berapa Ibu sih yang biasa kau entotin?”
“Cuma satu kok.”
“Dimana ngentotnya?”
“Kau ini mau tau aja. Rahasialah.”
“Ya, bagi-bagi pengalaman kenapa sih.”
“Kecuali yang ini, bahaya.”
“Kapan kau ajak aku ketemu sama temanmu yang bias dipake?”
“Malam minggu ini aja, gimana?”
“Malam ini aja.”
“Nggak bisa, aku masih ada tugas.”
“Tugas lagi, sama Ibu itu?”
“Iya, nafsunya gede lo, makanya suka nggak puas, tadi malam aja aku nggak sempat orgasme kok, mau ngelanjutin malas, nggak bawa pelicin sih, aku mau ngentotin pantatnya, kalo memeknya udah blong, nggak enak. Makanya begitu dia kelar, aku selesai juga.”
“Nanti malam dimana?”
“Ya ampun, ya rahasialah, nanti kau ngintip pula.”
“Ya udah.”
Lalu kami mandi berdua, telanjang, kuperhatikan kontolnnya yang sering diisap Ibuku.

***

Malamnya aku udah bersiap-siap dengan kamera. Jam delapan aku udah masuk kamar. Jam sembilan malam kudengar suara telepon, mungkin itu dari Akbar pikirku. Setengah jam kemudian kudengar lagi pintu belakang dibuka. Aku pikir mereka mau melanjutkan yang tadi malam di pondok. 5 menit setelah ibuku keluar, aku langusng keluar dengan menenteng kamera.

Tapi di pondok tidak kudapati suara-suara maupun cahaya lilin. Aku ke belakang pondok dan melihat nyala senter di kejauhan. Aku tahu itu jalan menuju ke sungai yang melewati sawah dan kebun. Aku langsung bearnjak mengikuti cahaya itu. Untung malam purnama, jadi aku masih bisa melihat jalan. Aku semakin dekat dengan cahaya itu, kulihat Ibuku jalan sendiri, mungkin Akbar menunggu di suatu tempat. Tapi dimana, aku juga masih bingung. Mungkin di salah satu pondok di sawah. Semakin dekat ke sungai setelah melewati sebuah kebun membuat aku semakin bingung. Mau apa mereka di sungai?

Jalan itu terus ku lalui, itu jalan ke sungai tempat aku dan Akbar mandi sore. Lalu kulihat Ibuku turun terus ke sungai, aku mengambil jalan lain dan mengintip dari atas. Kulihat ada nyala rokok di bawah, lalu nyala senter. Ibuku dan Akbar. Ternyata di rumput di pinggir sungai sudah ada sebuah tikar dan Akbar tengah duduk disana. Ibuku langsung menghampiri. Aku beranjak lagi sedikit ke timur supaya dapat melihat dengan jelas. Jarakku dengan mereka Cuma sekitar 6 meter. Untung suara air meredam suara derak kayu yang kuinjak.
Akbar memakai celana pendek, sedangkan Ibuku seperti biasa memakai daster.

Bulan diatas membuat segalanya terlihat jelas dan terang. Mereka mengobrol pelan.
“Jangan-jangan anakmu tahu tentang hubungan kita.” Kata Akbar.
“Kok bisa?” Tanya Ibuku.
“Yah siapa tahu aja, dia kan sudah dewasa, mungkin logikannya bisa sampai kesana, apalagi waktu malam di pondok itu aku mendengar langakh-langkah orang.”
“Kalau dia tahu, kenapa dia nggak bilang?”
“Mungkin dia takut, atau malu.”
“Udah ah, nggak usah bahas itu.” Kata Ibuku manja sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Akbar. Akbar mengelus rambut Ibuku sambil membuang rokoknya.

Lalu dia membaringkan tubuh Ibuku di tikar, dia terbaring disampingnya. Lalu Akbar mulai mengulum pelan bibir Ibuku yang membalasnya pelan. Tangan akbar bergerilya di payudara dan vagina Ibuku. Dasternya ditarik hingga terlihat CDnya. Tangan Akbar merogoh dan mengelus-elus vagina Ibuku yang masih dibalut CD. Cumbuan akbar turun ke leher dan sekitar kuping dalam Ibuku yang melenguh pelan. Rmabut Akbar diremas-remas.
Cumbuan Akbar turun ke payudara Ibuku yang dilapisi daster, terus turun ke bawah, tangannya menyingkap daster Ibuku dari bawah ke atasa, ibuku sengaja mengangkat badannya hingga Akbar dengan mudah membuka seluruh daster lepas dari Tubuhnya.

Kini Ibuku Cuma memakai CD dan Bra saja. Akbar membuka baju kaos dan celananya sekaligus menyisakan CD yang penisnya seolah sudah mau mneyeruak keluar. Lalu dia mencumbu kaki Ibuku pelan, menciuminya kearah atas dan bagian dalam Paha Ibuku. Semakin kedalam membuat Ibuku menggelinjang pelan. Melenguh pelan. Kaki Ibuku satu diangkat akbar dan diciuminya sampai ke pangkal paha. Sesekali digigitnya paha Ibuku. Lalu Akbar menggigit CD ibuku dan menariknya hingga terbuka lepas dari kaki.

Akbar berlutut dihadapan Ibuku dan menarik kedua kakinya hingga selangkangan Ibuku menempel di selangkangannya yang menggumpal. Akbar mengeluarkan penisnya dari CD dan menggesek-gesekkannya ke vagina Ibuku pelan. Dengan kepala penis dia memainkan klirotis Ibuku. Ibuku mencoba menyodok penis Akbar, namun akbar memang sengaja Cuma menggesek-gesekkan saja.

Aku sudah membuka celana pendekku hingga penisku muncrat keluar. Kamera dan tripod sudah stand by. Sesekali aku memotret pose mereka dan setelah itu sibuk dengan penisku sendiri.

Setelah itu, Akbar menjilati vagina Ibuku yang sudah basah, semakin membuat dia menggelinjang dan mengerang hebat.

“Akbarr.. hhmmhhmm..” erangnya membuat Akbar semakin binal. Lidahnya dijulurkan kedalam vagina Ibuku sementara tangannya meraih payudara. Setelah puas dan Ibuku terlihat hampir orgasme, giliran payudara yang dikulum Akbar. Putting susu ibuku dijilati dan diemut perlahat. Sesekali digigit dan ditarik keatas. Lalu kembali mereka berkuluman mesra. Penis Akbar yang sejak tadi sudah keluar dari CD, menempel di perut Ibuku.
Akbar beranjak dari tikar, berdiri dan membuka CDnya, lalu berjalan ke arah sungai, diikuti Ibuku yang membuka Branya lalu jalan telanjang ke arah sungai.

Akbar menceburkan dirinya di sungai yang dalamnya cuma sebatas lutut itu. Lalu duduk disana menunggu Ibuku yang berjalan kearhanya. Ibuku menceburkan dirinya juga di dekat Akbar. Setelah sama-sama basah, Akbar memeluk Ibuku, mereka saling berhadapan. Ibuku duduk diatas paha Akbar. Aku membayangkan penis Akbar yang menempel di selangkangan Ibuku di dalam air dan membayangkan sensasi badan mereka yang basah dan licin.

Mereka saling berkuluman sambil tangan masing-masing bergerilnya di berbagai tempat. Ibuku mencondongkan tubuhnya ke belakang saat Akbar mencumbui perut dan payudaranya. Lalu akbar membalikkan posisi. Dia berada di belakang Ibuku dan meremas payudaranya dengan mesra sambil mencumbui leher belakang Ibuku. Tangan Akbar meremas-remas payudara Ibuku dengan geraka memutar dan sesekali mencubit pentilnya. Satu tangan memainkan klirotis Ibuku di dalam air.

Mereka berbalik lagi, Akbar berlutut dihadapan Ibuku hingga penisnya terlihat jelas, Ibuku mengerti, lalu meraihnya dan mengelus pelan sambil menjilati bibir Akbar. Lalu cumbuan terus turun ke leher dan dada Akbar yang bidang menuju penisnya yang menantang. Ibuku menunduk dan menjilati kepala penisnya yang merah kecoklatan.

Seperti menjilati es krim, sesekali buah pelir Akbar diisapnya pelan. Akbar mencengkeram rambut Ibuku. Lalu pelan Ibuku memasukkan seluruh penis Akbar kemulutnya dan Akbar mulai mengocoknya pelan. Pinggulnya digoyang-goyangkan. Ibuku memegangi pinggang Akbar. Kupandangi wajah Akbar yang menikmati kuluman.
Lalu dia melepas penisnya dari mulut Ibuku dan menuntun Ibuku berjalan ke pinggir sungai yang agak tinggi. Lalu ibuku dituntun untuk duduk disana, lalu kudua kakinya.

***
3 hari sesudah kejadian di sungai, Ayahku pulang. Karena libur, aku dan adikku biasanya bangun jam 9 atau jam 10 pagi setiap hari. Tapi hari itu aku kudu bangun pagi karena mau pergi jalan-jalan barengan temanku termasuk si Akbar. Makanya jam 5 pagi aku terbangun dan langsung mau mandi. Kamar mandi rumahku dekat dengan dapur.

Waktu aku mau melewati dapur kulihat ibuku sedang masak, sementara ayahku ada dibelakanganya sedang memeluk Ibuku yang menghadap meja, mungkin sedang mengoles roti, mereka membelakangiku. Kulihat ayahku menciumi tengkuk Ibuku dan tangannya memeluk dan sepertinya meremas payudara Ibuku. Aku langsung mengambil posisi yang enak untuk mengintip kelanjutan kegiatan mereka.

Kudengar suara kecupan-kecupan ayahku di leher dan tengkuk ibuku. Lalu Ibuku berbalik dan mereka berciuman dengan liar. Tangan ayahku meremas kedua belah payudara ibuku yang hanya memakai daster. Tangan ibuku masuk ke dalam celana pendek yang dipakai ayahku dan meremas bokongnya.

Mereka terus berciuman, ayahku menciumi leher ibuku sambil tangannya masuk ke selangkangan ibuku yang dasternya diangkat keatas. Lalu ayahku menarik daster ibuku ke bawah hingga nampak payudaranya menggantung dan langsung dilahap ayahku. Putingnya dijilat dan dihisap membuat ibuku menggelinjang kegelian. Mulutnya mendesah-desah sementara tangannya meremas rambut ayahku yang semkain ganas manciumi perut ibuku dan terus turun ke selangkangannya yang juga ternyata nggak pake CD. Ayahku melahap vagina ibuku sambil tangannya meremas payudaranya.

Lalu ayahku berdiri dan mengambil selai kue dari meja dan mengoleskannya di vagina ibuku, kemudian menjilatinya pelan. Ibuku semakin menggelijang hebat.
Ayahku menarik semua daster dari tubuh ibuku dan menaikkan tubuh ibuku ke meja, lalu mengangkangkan kakinya. Ia sendiri membuka celana pendek yang dipakainya, lalu CD putih yang sedikit basah diujung penisnya. Penis ayahku hitam kecoklatan dan nggak terlalu besar, masih besar punya Akbar dan punyaku juga.
Ibuku memegang pundak ayahku waktu ayahku mendekat dan mencoba menusukkan penisnya ke vagina ibuku yang kakinya mengangkang.

Lalu pelan ayahku mulai mengocok penisnya pelan. Tubuh mereka bergoyang-goyang, juga meja. Sambil menggoyang, ayahku memegang paha ibuku dan sambil menjilati payudaranya yang terguncang-guncang. Tangan ibuku menumpu ke belakang. Tubuhnya terguncang-guncang oleh goyangan pantat ayahku di selangkangannya. Ia mendesah-desah.

Lalu tiba-tiba kaki ibuku memeluk tubuh ayahku yang terus menggoyang-goyang, ibuku memeluk ayahku dan ayahku sepertinya tahu kalau ibuku mau orgasme, lalu dia menghentikan kocokannya dan menciumi bibir ibuku pelan. Mereka berciuman, namun kali ini pelan dan penuh perasaan. Lalu ayahku menggendong tubuh ibuku dan membawanya ke ruang tamu, aku cepat-cepat sembunyi di balik tirai supaya tidak ketahuan.

Ayahku lalu duduk di sofa dan membiarkan ibuku naik ke pangkuannya. Aku melihat pemandangan itu dari posisi samping, hingga bias kulihat jelas waktu penis ayahku masuk ke vagina ibuku.

Dengan posisi saling memangku dan berhadap-hadapan, ibuku menggoyangkan pantatnya di atas ayahku yang sibuk menjilati payudaranya. Tangan ibuku menumpu pada pegangan sofa, ayahku memegani punggung ibuku dan mengusap-usapnya. Ibuku terus mengocok vaginanya di penis ayahku sambil melenguh dan mengerang.
Goyangan ibuku semakin kecang dan membuat ayahku melenguh keras dan menggigit payudara ibuku yang tepat dihadapannya.

Lalu tubuh ibuku mengejang dan dia menjerit tertahan, lalu kocokannya berhenti. Ternyata dia sudah orgasme. Tapi ayahku belum. Ibuku bangkit dari tubuh ayahku dan duduk disampingnya. Lalu menunduk dan mengulum penis ayahku yang masih tegak. Ayahku mengangkangkan kakinya, ibu pindah ke bawah kursi persis diantara kedua kaki ayahku.

…bersambung ke bagian 2

Komentar Anda

comments