agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Cerita Dewasa Umum » Romantika Kamar Kost 02
igo8

Romantika Kamar Kost 02

Cerita Dewasa – Sambungan dari bagian 01 Sarif pun mulai mencoba-coba bermain serius. Terkadang, sambil menggerakkan pantatnya maju mundur, tangan kanannya mulai aktif bermain di payudaraku, sementara tangan kirinya melingkar di punggungku. Sesekali Sarif menciumi dan menjilati buah dadaku yang sudah menegang. “Ugh.. Yeaahh.. Rif.. Enaak.. Kocoknya lebih cepat, Rif..!” pintaku sambil tanganku yang memegang …

Review Overview

User Rating: 3 ( 4 votes)
0

Cerita Dewasa – Sambungan dari bagian 01

Sarif pun mulai mencoba-coba bermain serius. Terkadang, sambil menggerakkan pantatnya maju mundur, tangan kanannya mulai aktif bermain di payudaraku, sementara tangan kirinya melingkar di punggungku. Sesekali Sarif menciumi dan menjilati buah dadaku yang sudah menegang.
“Ugh.. Yeaahh.. Rif.. Enaak.. Kocoknya lebih cepat, Rif..!” pintaku sambil tanganku yang memegang pantatnya membantu dia menekan ke arahku, sehingga kemaluannya yang kekar itu semakin dalam tertanam di kemaluanku.

Cukup lama posisi ini kupertahankan, karena memang dengan posisi ini aku tidak hanya dapat menikmati batang kemaluannya, tetapi juga aku dapat memandangi wajah Primus-nya itu. Aku jadi menghayal kalau saat ini aku memang sedang senggama dengan bintang sinetron tersebut.

Tiba-tiba Sarif mempercepat gerakkannya. Pantatnya menghentak-hentak dengan keras membuat kemaluannya seperti menghujam jantungku. Tentu saja aku jadi kaget dibuatnya. Sampai terengah-engah. Bahkan sesekali aku menjerit perlahan menahan sakit yang disertai denyutan nikmat. Tiba-tiba seluruh tubuhku mengejang. Kutarik tubuh Sarif semakin dalam dan erat. Kakiku yang menggantung di pinggir bak mandi menghentak-hentak. Pandangan mataku sejenak menjadi gelap. Lalu di bagian bawah tubuhku terasa seperti merekah kemudian aku seperti terasa ingin pipis sekali.

Akhirnya.., serr.. serr.. serr.. Vaginaku menyemburkan cairan lendir dengan jumlah sangat mengagumkan. Sampai-sampai keluar dari sela-sela bibir kemaluanku yang masih tersumpal batang kemaluan Sarif. Tubuhku pun serta-merta menjadi lemas. Mendapati tubuhku lemas, Sarif menggendongku dengan batang kemaluan yang masih tertanam di vaginaku. Kemudian dia meletakkanku di tempat tidur dengan keadaan telentang, karena memang batang kemaluannya masih tertancap di kemaluanku.

Pelan-pelan dia mulai menggoyangkan pantatnya lagi, maju mundur. Dan dalam keadaan lemas aku masih merasakan ngilu yang bukan kepalang di bagian bawah tubuhku. Tapi ngilu yang kurasakan ini bukannya ngilu biasa, tetapi ngilu yang nikmat. Hampir setengah jam Sarif bermain di atas tubuhku yang sudah lemas. Bahkan aku sempat dua kali lagi mencapai orgasme. Beberapa kali dia memutar tubuhku. Dihantamnya tubuhku dengan posisi telungkup, menyamping, bahkan setengah nungging. Sampai akhirnya aku mendengar lenguhan keluar dari mulutnya.

Batang kemaluan Sarif menyemburkan airmaninya di dalam kemalauanku. Dan kali ini vaginaku tidak dapat lagi menampung isinya. Cairan-cairan kental keluar dari vaginaku membanjiri kasur di bawahku. Aku merasa pantatku seperti terendam. Lalu Sarif pun menggelosorkan tubuhnya di atas tubuhku dengan peluh yang membanjir, bercampur dengan keringatku. Tidak lama kemudian kami pun tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan.

Aku tidak tahu berapa lama kami tertidur dengan posisi tersebut. Aku terbangun karena merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak di bagian bawah tubuhku. Kubuka mataku. Ternyata Sarif masih berada di atasku. Rupanya dia sudah memulai permainan baru. Dan sesuatu yang bergerak-gerak di bagian bawah tubuhku adalah rudal milik Sarif yang mulai aktif kembali bekerja.

Sarif mengembangkan senyumnya ketika aku membuka mataku.
“Hai, San..” katanya singkat.
“Riiff.. Mmhh..,” lenguhku seraya melingkarkan tanganku di pinggulnya, membantu dia menggerakkan pantatnya maju-mundur.
“Terus.., Riffsshh..!”
Sarif memainkan pinggulnya dengan tenang. Begitu pula mulutnya mulai sibuk menjilati payudaraku. Bergantian kiri dan kanan. Sesekali tangannya meremas. Atau jarinya memuntir-muntir puting payudaraku yang berwarna agak kecoklatan membuatku sesekali meringis keasyikan.

Mengimbangi permainan Sarif, aku membuat gerakan berputar dengan pinggulku. Dan kudengar Sarif melenguh kenikmatan degan permainan itu.
“Uugh.. Yeesshh.. Enak sekali San..” bisiknya sambil menjilati telingaku, “Kamu pinter banget sih..!”
Aku hanya menjawab dengan lenguhan-lenguhan kenikmatanku.

Kurasakan vaginaku mulai mengeluarkan carian pelumasnya. Sarif pun semakin aktif. Tangannya sebentar-sebentar meremas-remas pantatku. Terkadang kedua tangannya dilingkarkan ke tubuhku, kemudian dengan erat dia menekan tubuhnya sehingga tubuh kami seperti menyatu dan batang kemaluannya tertancap amat dalam di kemaluanku. Aku meringis kenikmatan karena ujung kemaluannya membentur dinding rahimku.
“Ugh.. Ugh.. Arghh.. Hueehh.. Akhh.. Mmhh.. Mmmhh.. Mmhh.. Riff.. Asyik, Rif..”

Birahiku makin memuncak. Kudorong tubuh Sarif hingga dia telentang dan posisi berbalik, menjadi aku yang berada di atas. Sarif membiarkan hal itu berlangsung. Kugenggam batang kemaluannya dan langsung kujilati seluruh bagiannya, mulai dari ujung hingga ke bagian pangkal dimana terletak buah kemaluannya. Sarif menggelinjang-gelinjang menikmatinya.

“Saan..! Gila kamu Saan.., ueehh.. uenag betul..!” ceracaunya.
Tangannya meremas-remas rambutku. Dan sesekali tangannya itu menekan kepalaku ketika batang kemaluannya kumasukkan ke dalam mulutku untuk kuhisap-hisap kepalanya dan lubang kemaluannya kucungkil-cungkil dengan ujung lidahku.

Tidak lama kemudian Sarif memerintahkan aku untuk berputar, sehingga kami membentuk posisi 69. Lubang kemaluanku tepat berada di depan wajahnya. Sarif pun mulai memainkan lidahnya di sekitar bibir kemaluanku, membuat seluruh bulu kudukku merinding. Terlebih lagi ketika lidahnya menyentuh klitorisku. Tubuhku bergetar seolah-olah tersengat aliran listrik berkekuatan lembut. Sering pula Sarif memasukkan lidahnya ke bagian dalam vaginaku dan menjilati dindingnya, dan hal ini juga membuatku menggigil kenikmatan.

Sungguh permainan ini sangat mengasyikkan. Sampai akhirnya aku tidak tahan. Karena tidak lama kemudian tubuhku mengejang. Kutekan pinggulku sedalam mungkin. Kuyakin hal ini membuat Sarif jadi sulit bernapas. Tapi aku tidak perduli. Tak lama kemudian vaginaku pun kembali mengeluarkan cairannya, diiringi lenguhan dari mulutku yang masih tersumpal batang kemaluan Sarif yang kusedot dengan kuat.

Mendapati aku telah sampai ke puncak kenikmatanku, Sarif membalikkan tubuhku menjadi telungkup. Kemudian dengan keyakinan yang mantap dia meletakkan ujung batang kemaluannya di gerbang kemaluanku yang sudah basah dan licin. Dan dengan sekali hentakkan.., Bless..! Seluruh batang kemaluannya tertancap dalam liang senggamaku dari belakang.

“Hegh..! Aaw..! Aargh..! Riiff.. Huahduh..! Saakiit..” erangku cukup keras.
Aku tidak perduli lagi kalau suaraku itu akan terdengar ke luar kamar. Aku merasa bagian dalam perutku seperti akan terlonjak keluar dari kerongkonganku. Bahkan lidahku seakan-akan ingin melompat dari tenggorokanku. Perutku seolah-olah terasa penuh. Tapi hal ini justru membuatku semakin merasakan kenikmatan yang teramat sangat.

Sarif pun sepertinya tidak perduli dengan eranganku. Dia terus membentur-benturkan ujung kemaluannya ke dinding rahimku dengan frekuensi tekanan yang rapat dan keras. Aku merasa biji mataku terbalik-balik dibuatnya. Aku hanya mendesah dan mengeluarkan kata-kata untuk meminta Sarif mempercepat dan memperkuat gerakannya.

Sarif menuruti permintaanku. Dia memperkeras gerakkannya, sehingga eranganku semakin menjadi-jadi. Aku yakin, kalau saja tempat kost ini tidak jauh dari jalan, pasti sudah banyak orang yang mengintip. Tetapi kalau pun keadaanya seperti itu, aku sudah tidak perduli. Yang ada dibenakku hanyalah menikmati kenikmatan ini sepuas-puasnya. Bahkan kalau sampai ada orang yang mengintip aku akan semakin memperkeras eranganku. Tapi rupanya hal ini mengganggu Sarif.

“San, jangan keras-keras, dong..! Nanti didengar orang. Pelanin sedikit suara kamu..!” pinta Sarif.
Tapi aku tidak perduli, sebab aku yakin tidak akan ada orang lewat di depan kamar kostku. Dan karena aku tidak mengurangi volume suaraku, akhirnya Sarif mengikuti gayaku. Dia pun mulai mengeluarkan lenguhan-lenguhan dengan agak keras.

Bosan dengan posisi telungkup, kuangkat pinggulku tinggi-tinggi, sehingga posisiku menjadi menungging. Dengan posisi seperti ini kemaluanku menjadi semakin terbuka lebar, sementara Sarif mengambil posisi berlutut. Kali ini aku benar-benar merasakan seluruh batang kemaluan Sarif terpendam dalam vaginaku. Eranganku pun semakin menggila.

Tidak lama kemudian aku kembali merasakan seluruh syarafku menegang. Persendianku meregang sejenak.
Akhirnya.., “Riiff.. Aku.. sampai..!” kembali vaginaku membanjir.
“Aaa.. aakhh..!” jeritku melepas kenikmatan.
Bersamaan dengan itu, tubuhku menggelosor di kasur. Sementara Sarif masih meneruskan kegiatannya. Bahkan semangatnya makin menjadi. Kubiarkan saja dia meneruskan permainan. Karena tenagaku serasa habis terkuras.

Tapi tidak lama kemudian gerakan Sarif menjadi lebih gila lagi. Diangkatnya pinggulku hingga aku kembali pada posisi agak tertungging. Kedua tangannya mencengkeram pangkal pinggulku dan dengan kekuatan yang tidak kuperhitungkan dia menarik-narik pinggulku diikuti pinggulnya yang digerakkan berlawanan. Tentu saja hal itu membuat gerakan kami benar-benar bertemu pada satu titik yang menghasilkan benturan yang keras, hingga menimbulkan suara Cplak! Cplak! Cplak!

“Aauw.. Riiff.. Gii.. laa.. kaa.. muu..!” rintihku setengah menjerit.
“Sabaar.. San., Aakuu.. maauu saammpaaii..!”
Lalu.., “Sroot..! Serr.. Serr.. Serr..” keluarlah cairan kental tubuhnya menggenangi liang kemaluanku yang juga basah.

Sarif menekan batang kemaluannya dalam-dalam ke liang senggamaku sambil tangannya menekan pinggulku ke arah kemaluannya kuat-kuat. Aku yakin seluruh batang kemaluannya tertanam dalam vaginaku. Lidahku bahkan sempat terdongkrak keluar dari tempatnya. Mataku terbeliak seakan ingin lepas dari tempatnya.

Tubuh Sarif mengejang sesaat. Lalu menggelosor di sebelahku. Napasnya memburu. Tubuhnya dibasahi keringat. Begitu juga aku. Seluruh persendianku seperti terlepas dari rangkaiannya dan hanya dapat terdiam sambil mengembangkan senyum yang dibalas oleh Sarif. Perlahan kuangkat tanganku dan kurangkul dia.
“Kamu hebat, Rif,” bisikku yang hampir tidak terdengar.
“Kamu juga..,” jawab Sarif.
Lalu kami terdiam dan tertidur.

Apa yang menjadi angan-anganku selama ini sudah terlaksana, aku menjadi pacarnya. Kehidupan kami selanjutnya adalah rutinnya kami menjalani masa pacaran kami dengan kegiatan seks kami. Semoga apa yang kualami ini memberikan gambaran tersendiri bagi anda, wanita yang mendambakan pria idamannya. Kalau anda mau berusaha, pasti ada jalan keluarnya.

TAMAT

Komentar Anda

comments