agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Cerita Dewasa Umum » Roy, Anak Rantau 01
cerita-sex-ajie-tante-puas-laynanmu-196x300

Roy, Anak Rantau 01

Cerita Dewasa – Cerita ini hanyalah fiktif belaka, dan merupakan wujud dari imajinasi dan khayalan pengarang cerita. Jika ada kesamaan nama dan tempat dalam cerita ini hanyalah suatu kebetulan saja. Sekilas tentang tokoh dalam cerita ini: Roy adalah seorang pemuda dari Semarang yang bersekolah di salah satu SMU terkenal di Jakarta. Dia tinggal di suatu …

Review Overview

User Rating: Be the first one !
0

Cerita Dewasa – Cerita ini hanyalah fiktif belaka, dan merupakan wujud dari imajinasi dan khayalan pengarang cerita. Jika ada kesamaan nama dan tempat dalam cerita ini hanyalah suatu kebetulan saja.

Sekilas tentang tokoh dalam cerita ini:
Roy adalah seorang pemuda dari Semarang yang bersekolah di salah satu SMU terkenal di Jakarta. Dia tinggal di suatu rumah kost di daerah Kota yang dekat dengan sekolahnya. Rumah yang di tinggalinya ada 15 orang yang terdiri dari lelaki dan perempuan, dan kebanyakan dari mereka sudah bekerja. Di rumah itu juga ada 2 orang pembantu wanita yang bernama Bi Ijah dan Bi Ipah, keduanya berumur sekitar 35 tahun, mereka berdua walaupun seorang pembantu tetapi mempunyai tubuh yang sexy yang tidak kalah dengan penghuni kost lainnya. Dan seorang pembantu lelaki yang bernama Udin berumur 26 tahun yang membantu membersihkan rumah.

Roy tergolong anak yang supel dan suka membantu anak-anak kost lainnya, dan juga kepada para pembantu. Dan dalam beberapa hari saja dia sudah dapat bergaul dengan anak-anak kost yang lainnya. Di antara anak kost yang tinggal, ada beberapa orang yang sangat dekat dengan Roy, seperti Cie Leni (26), Cie Mega (27), Cie Lusi (26), Cie Mira (25), dan Mbak Rani (30). Sedangkan lelakinya seperti Ko Rudi (28), Ko Fredi (27), dan Ko Iwan (27).

Cie Leni, Mega, Lusi dan Ko Rudi bekerja di tempat yang sama di suatu bank swasta di daerah kota. Sedangkan Cie Mira seorang pekerja malam yang bekerja menemani tamu di sebuah club malam di daerah kota. Sedangkan Mbak Rani seorang menager di suatu perusahaan properti. Ko Iwan seorang programmer di suatu perusahaan terkenal di Jakarta dan berkantor di daerah Sudirman. Sedangkan Ko Fredi seorang pengangguran yang belakangan saya ketahui ternyata dia seorang gigolo yang sering mangkal di diskotik-diskotik besar di Jakarta. Dan yang lainnya jarang berbincang-bincang dengan Roy.

Di hari pertama sekolah adalah hari yang kurang menyenangkan bagi Roy, karena hari itu adalah hari perploncoan bagi murid baru di sekolah itu. Banyak tugas yang diberikan oleh kakak kelas yang dimintai tanda tangan, dan setelah pulang Roy kebingungan untuk mencari pesanan kakak kelasnya itu. Untung saja ada Bi Ijah yang sudah baik dengan Roy, karena dia yang dititipi pesan oleh orangtua Roy untuk membantu Roy jika dia butuh sesuatu, dan dia juga telah diberi sejumlah uang oleh orangtua Roy yang kaya di daerahnya.

Setelah menitipkan sejumlah nama barang yang dibutuhkan oleh Roy dan uang kepada Bi Ijah, Roy langsung masuk ke kamarnya, ganti baju dan langsung mandi. Siang hari suasana kost sepi, sebagian besar orang kost sedang pergi bekerja, hanya ada beberapa orang saja yang ada di kost itu dan sedang di dalam kamarnya masing-masing, hanya Bi Ipah dan Udin yang sedang santai nonton TV di ruang tengah tempat orang kost ngumpul setiap malam, walaupun mereka masing-masing banyak yang membawa TV sendiri termasuk Roy.

Setelah mandi, Roy tiduran di kamarnya yang ber-AC itu sambil melihat TV. Tidak lama kemudian Roy ingat VCD porno yang dia beli ketika dia masih di Semarang.
“Ah.., kenapa tidak kusetel saja VCD itu dari pada liat acara TV yang nggak bagus.” pikir Roy dalam hati.
Kemudian Roy mengambil VCD dari tempat persembunyiannya dan menyetelnya. Tidak lama kemudian tampak wanita bule dengan body sexy dan buah dada yang montok sedang mengaraoke kemaluan pria bule yang panjang dan masih lemas.

Roy menonton film tersebut sambil berbugil ria, dan memainkan alat kelaminnya sendiri. Ketika sedang asyik-asyiknya menonton, tiba-tiba pintu dibuka, dan tampak Bi Ijah membawa barang-barang pesanan Roy, karena terkejut Roy menutupi badannya dengan selimut dan pura-pura tidur, tetapi film di TV tetap jalan karena tidak sempat dimatikannya. Bi Ijah langsung masuk ke dalam kamar karena melihat Roy sedang tidur. Dan ketika dia melihat TV yang sedang memutar film BF dengan adegan si pria bule itu sedang menjilati vagina wanita bule tersebut, Bi Ijah langsung kaget dan tertegun sampai-sampai barang bawaannya terjatuh.

Bi Ijah tertegun melihat adegan seru tersebut, dan melihat ke arah Roy yang dikiranya sedang tidur itu. Dan dengan perlahan dia menutup dan mengunci pintu kamar Roy, lalu duduk melihat film tersebut. Roy yang mengintip dari sudut matanya sampai terbingung-bingung, dan tidak tahu harus bagaimana, tapi dia tetap pura-pura tidur sambil melihat tingkah laku Bi Ijah yang semakin salah tingkah dan berganti-ganti posisi duduk.
Dalam hati Roy berkata, “Nah loe.. liat dech sana, ntar gue kerjain baru tau rasa dech..!”

Tapi ketika melihat tingkah laku Bi Ijah yang sedang horny itu sambil meremas-remas payudaranya sendiri dan mendesah-desah, Roy lama kelamaan juga ikut horny, dan adik kecilnya ikut bangun. Dan ketika Bi Ijah menoleh ke arah Roy yang dikiranya sedang tidur itu, dia terperanjat melihat gundukan selimut yang bangun seperti gunung itu.
“Wah.., ini anak tidur apa pura-pura tidur nih..? Kalo tidur kok burungnya bisa bangun..?” pikir Bi Ijah dalam hati.
Dan dengan berani dia mendekati Roy, lalu membuka selimut yang menutupi separuh tubuh Roy yang sedang bugil di baliknya. Roy sampai kaget karena dia tidak menyangka kalau Bi Ijah akan berani berbuat seperti itu, tapi dia tetap diam saja sambil menanti apa yang akan dilakukan Bi Ijah terhadap dirinya.

“Hmm.. boleh juga nich burung, pasti rasanya enak karena punyanya anak muda. Sudah lama aku nggak ngerasain burung seperti ini.” kata Bi Ijah pelan sambil memegang dan mengelus-elus burung milik Roy.
“Aduh.. gawat nich aku ngga bisa tahan kalo diginiin, gimana yach..?” kata Roy dalam hati.
Sedangkan Bi Ijah semakin mendekatkan bibirnya ke arah burung Roy yang semakin keras karena belaian tangan Bi Ijah. Lalu dikecupnya burung Roy, dan dijilat-jilat dari pangkal sampai ujung kepala helm-nya. Dan lidah Bi Ijah dimainkan di lobang kemaluannya membuat Roy merinding dan tidak tahan, akhirnya Roy membuka matanya.

“Bi Ijah..! Lagi ngapain Bi..?” seru Roy pura-pura kaget.
“Nak Roy.. Nak Roy tenang aja yach..! Pokoknya enak dech.. mm..” kata Bi Ijah dengan cuek dan terus menjilati dan mengulum kepala helm Roy yang seperti topi Hitler itu.
“Tapi bi.. ahh.. nanti kalo ketauan orang bisa berabe i.. aahh.. ss..” kata Roy sambil menahan kenikmatan hisapan Bi Ijah.
“Nggak akan.. pintunya udah saya kunci.. tenang saja Nak Roy.. kamu nikmati saja yach.. mm.. sudah lama Bibi nggak merasakan batang seperti ini.. mm.. nikmat sekali.. mm..” dengan cuek Bi Ijah terus menghisap dan menjilati batang kemaluan Roy yang tegang membesar dan berurat itu.

Lidah Bi Ijah menari-nari ke sana ke sini sambil sesekali dimasukkannya batang kemaluan Roy ke dalam mulutnya, dan disedot-sedot dengan sekuat-kuatnya sampai-sampai pipi Bi Ijah kempot, seperti orang sedang menghisap cerutu.
“Akhh.. Bi.. ahh.. enak sekali Bi.. uhh.. sedot yang kuat Bi.. akhh.. ya gitu Bi.. ss.. enak sekali Bi.. ahh..!”
“Nak Roy jangan panggil Bibi dong.. mm.. panggil saja Ijah.. sruupp.. mm.. kan lebih enak didengarnya.. mm..!”
“Akhh.. iya dech.. okhh.. iya Ijah.. gitu sedotnya.. yang keras lagi.. oukhh.. terus Say.. Ijah juga jangan panggil saya Nak Roy donkk.. hh.. panggil ajahh.. Royyhh.. uhhk..!”
“Mmm.. oke Say.. Roy Sayang.. uumm.. punya kamu enak sekali dech.. mm..!”

Dan tangan Roy pun mulai bergerilya menjelajahi tubuh Ijah. Mulai dari payudaranya yang masih montok itu, karena jarang disentuh sama suaminya kali. Tangan Roy pun meremas-remas payudara Ijah dan memainkan putingnya yang sudah menegang itu dengan jarinya dari luar baju. Dan Bi Ijah yang sudah hilang kesadarannya melepas semua pakaian yang dikenakannya. Kini tampaklah tubuh Bi Ijah yang masih sexy dengan buah dada yang montok dan puting yang berdiri tegang karena nafsu dan hawa dingin dari AC yang menyentuh kulit puting Bi Ijah.

Dan tanpa di suruh, Roy mulai menciumi Bi Ijah, bibir Bi Ijah dicium sampai Bi Ijah susah bernafas, dan tangannya menggerayangi seluruh tubuh Bi Ijah dari punggung sampai pantat Bi Ijah yang besar dan nungging seperti pantat bebek. Pantat Bi Ijah diremas-remas sambil terus menciumi bibir Bi Ijah dan lidah mereka saling melilit satu sama lain. Bosan dengan pantat Bi Ijah, tangan Roy pindah ke gundukan di dada Bi Ijah yang montok dengan ukuran 36B itu. Dan dengan lembut ditidurkannya Bi Ijah di atas tempat tidurnya, lalu dicumbunya Bi Ijah dari lehernya terus turun sampai di gudukan montok di dada Bi Ijah, dan dengan rakusnya Roy menjilati dan menciumi buah dada Bi Ijah tanpa kena putingnya.

Jilatan demi jilatan, ciuman demi ciuman, tidak ada satu pun yang mengenai puting Bi Ijah yang sudah tegang itu.
“Ohh.. Roy.. putingnya donk Say..! Putingnya.. sedot putingnya Sayang.. okhh..!” kata Bi Ijah mendesah.
“Nanti dulu yach.., sabar yach Say.. mm.. toket kamu indah dech.. dan mulus.. mm..!”
“Okhh.. jangan kamu siksa Ijah Sayang.. okhh.. putingnya donkkhh.. sedot.. hisap yang kuat Say..!”
“Mmm.. iya nanti.. mm.. sabar yach..!”
“Mmm.. tega kamu yach.. awas kamu nanti kubalas.. oukhh..!”

Setelah merasa Bi Ijah tidak tahan lagi baru Roy menjilat puting Bi Ijah, dijilatnya sedikit-sedikit sehingga membuat Bi Ijah menjadi semakin penasaran dan lebih terangsang. Dan bagaikan singa betina yang lapar, dengan kasar dijambaknya rambut Roy dan di dorongnya payudaranya ke mulut Roy, dan dia dengan geram menyuruh Roy untuk menghisap putingnya yang sudah tegang itu.
“Roy.. ayo kamu sedot puting ini, kalo tidak saya jambak lebih keras lagi.. ayo sedot.. hisap yang kuat..!”
Roy pun menghisap dan menyedot puting Ijah dengan sekuat-kuatnya, sambil menggigit-gigit kecil di puting Ijah, dan memainkan lidahnya di puting Ijah, sampai-sampai Ijah kesetanan dibuatnya.

“Akhh.. gila kamu Say.. enak sekali.. pintar sekali kamu Say.. oukhh.. sedot terus yang kuat Say.. iyah gitu.. akhh..!” cercau Bi Ijah keenakan.
Sambil mempermainkan buah dada Bi Ijah, tangan Roy juga tidak tinggal diam. Tangannya bergerak lincah kesana-sini, meremas-remas payudara yang tidak sedang diserbu oleh mulutnya. Dan tangannya juga sudah mulai berani untuk menjamah dan meraba-raba bulu-bulu yang ada di selangkangan Bi Ijah. Bi Ijah yang sudah kesetanan itu juga sudah tidak malu-malu lagi, dia membimbing tangan Roy untuk menjamah vaginanya yang sudah basah oleh cairan yang keluar dari dalam liang senggamanya. Dan tangan Roy dituntunnya untuk memainkan daging kecil yang ada di situ.

Roy yang sudah diberi lampu hijau langsung memainkan jari-jarinya di klentit Bi Ijah yang sudah keluar dan membesar karena nafsu.
“Oukhh.. Say.. enak Say.. oukhh.. jari kamu lincah sekali Say.. ahh..!”
Jari tengah Roy pun tidak tinggal diam dimasukkannya ke dalam liang surga Bi Ijah yang langsung membuat Bi Ijah blingsatan keenakan.
“Aahh.. hh.. kamu pinter sekali Roy.. ahh..!”
“Ini baru pake jari Say.., belum pake lidah.. apa lagi pake barangku.”
“Ahh.., aku ngga kuat lagi Say.. akhh.. aku mau keluar Say.. ahh.. akhh.. akhh..!” badan Bi Ijah mengejang keras, dan jambakan di rambut Roy semakin kuat, sedangkan Roy semakin gencar memainkan jarinya di lubang vagina Bi Ijah sambil jempolnya ditekan-tekan ke klentit Bi Ijah, sedangkan mulut dan lidahnya semakin ganas menghisap dan menjilat buah dada Ijah.

“Akhh.. aku sampe Say.. aku sampee akhh.. akhh.. ahh..!” seru Bi Ijah.
“Ayo Sayang.., keluarkan semuanya.. keluarkan semuanya, keluarkan semua yang sudah lama kamu simpan..!” seru Roy sambil mempercepat jarinya dan memperkuat sedotannya.
Dan akhirnya Bi Ijah terkulai lemas, dan nafasnya memburu setelah dia menerima kenikmatan yang telah lama tidak dia rasakan, dan dari vaginanya meleleh keluar cairan kenikmatan yang langsung dijilati oleh Roy.
“Mmm.. enak sekali rasanya.. mm.. cairan kamu enak sekali rasanya Say.. mm.. sruupp..”
“Ahh.. hh.. hh udah Sayang, nanti dulu Say.. ahh.. ss.. biar aku istirahat dulu sebentar.. hh.. hh.. nanti kita lanjutkan lagi..!”
“Mmm.. cairan ini sayang sekali kalo dibiarkan.. mm.. aku mau merasakannya lagi.. mm..” kata Roy sambil tetap menjilati dan disedotnya cairan yang keluar itu sampai bersih dan tidak keluar lagi.

Setelah puas, Roy bangkit dan memandang Bi Ijah yang sedang memejamkan mata sambil mengatur nafasnya yang tadi memburu sambil tersenyum puas, karena dia dapat memuaskan Bi Ijah. Setelah nafasnya teratur, Bi Ijah membuka matanya dan tersenyum kepada Roy yang ada di hadapannya.
“Terima kasih Say.., aku puass sekali, sudah lama aku nggak merasakan kenikmatan seperti tadi. Okhh.. rasanya aku ingin terus larut dalam kenikmatan yang baru kurasakan. Suamiku tidak pernah bisa dan mau untuk melakukan seperti tadi yang kamu lakukan, sampai-sampai aku sudah keluar dulu sebelum punya kamu masuk ke punyaku. Suamiku hanya seorang pria yang egois, yang hanya mau keinginannya saja yang terpenuhi.” kata Bi Ijah teringat suaminya yang egois dan menjadi sedih.

Lalu Roy memeluk Bi Ijah, “Sudahlah Say, selama ada aku di sini, kamu kan bisa menikmati permainan kita yang indah dan nikmat ini, dan kamu nggak usah mengingat-ingat suami kamu yang egois itu.” hibur Roy.
Dan Bi Ijah pun mengangguk setuju, lalu dengan lembut Roy mencium kening Bi Ijah yang masih basah oleh keringat, dan pipi, lalu ke bibir. Dikecupnya bibir Bi Ijah dengan romantis, lalu mereka pun ciuman lagi dengan dasyatnya.

Begitu pandainya Roy berciuman sampai Bi Ijah bangkit lagi nafsunya, dan dia menjadi lebih bersemangat dan liar. Diciumnya bibir Roy dengan buas dan tangannya menggerayangi seluruh tubuh Roy yang sekarang telentang di hadapannya. Ciumannya terus mengalir bagaikan air, dari bibir turun ke leher dan ke dada Roy yang bidang. Tangan Bi Ijah tidak bosan-bosannya memainkan kemaluan Roy yang masih tegak menantang, dibelai dan dikocok, sedangkan lidahnya memainkan puting Roy yang mengeras karena jilatan dan hisapan Bi Ijah.
“Ahh.. enak Say.. tangan kamu pintar dan lembut sekali memainkan burungku.. ahh.. iya.. hisap yang kuat Say.. ahh..!”

Lalu ciuman Bi Ijah turun lagi ke perut dan pusar Roy yang kini menjadi sasaran lidahnya. Lidah Bi Ijah menari-nari di pusar Roy dan membuat sensasi tersendiri bagi Roy.
“Ukhh.. enak sekali.. ohh Sayy.. ahh..!”
Setelah bermain-main di pusar Roy, ciuman Bi Ijah turun lagi, diciuminya bulu-bulu lebat yang tumbuh di daerah terlarang milik Roy, lalu dikecupnya kepala burung milik Roy.
“Cup.. mm.. punya kamu bentuknya indah dech Say.., bentuknya sangat pas. Dari batang sampai kepala helm-nya semuanya ukurannya pas, dan urat-urat yang menonjol ini makin membuat burung kamu lebih sexy, bikin aku ingin merasakan nikmatnya burung kamu di dalam memekku Say.. mmuach..” kata Bi Ijah sambil terus menciumi burung Roy.
“Akhh.. masa sich Say.. kalo gitu cepet hisap dan sedot seperti tadi donk Say..”
“Mmm.., itu bisa di atur.. sekarang kamu santai dan nikmati saja permainan ini.”

Lalu Bi Ijah dengan lembut memasukkan batang kemaluan Roy ke dalam mulutnya, dan lidahnya digesek-gesekkan ke batangnya.
“Akhh.. punyaku lagi diapain Say.. enak sekali rasanya.. uhh..”
Bi Ijah tidak memperdulikan lagi ucapan Roy, sekarang dia hanya ingin memuaskan Roy yang tadi telah membuat dia melayang-layang kenikmatan. Bi Ijah mengulum batang kemaluan Roy sampai ke pangkalnya, dan menghisap-hisap lembut, lalu disedotnya dengan kuat sampai pipinya kempot dan ditariknya sampai lepas, dan membuat suara “Plop”. Lalu dikulum lagi dan dihisap, lalu disedot dan ditarik sampai berbunyi lagi terus menerus.
“Akhh.. Say.., nikmat sekali.. disedot-sedot seperti itu.. ahh.. lebih kuat lagi Say.. lebih kuat lagi.. ukhh..!” kata Roy keenakan.

Bersambung ke bagian 02

Komentar Anda

comments