agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Cerita Dewasa Umum » Sahabat Pacarku

Sahabat Pacarku

Cerita Dewasa – Aku bernama Tommy, seorang Suplier bidang komputer, lulusan sekolah komputer terkenal di kota S**** (edited). Ketika aku masih kuliah dulu, aku berkenalan dengan seorang gadis, namanya Diah. Rupanya Diah saat itu masih sekolah di sebuah akademi perawat. Singkatnya, kami mulai pacaran sejak satu tahun yang lalu. Pacaran kami tergolong seru, dapat dikatakan menjurus nudies alias pornografi, tetapi itu tidak kuceritakan (off the record.. hehehe).

Pacarku itu tinggal di asrama perawat bersama teman satu pendidikannya. Wah.. mulus-mulus tubuh mereka semua, maklum sekolah perawat, jadi body-nya mungkin juga dirawat. Yang jadi pikiranku sekarang ini adalah sahabat dari pacarku itu. Begini ceritanya, pacarku kan punya sahabat, namanya Wulan, orangnya cantik juga sih. Ketika Diah pulang kampung ke Jawa Tengah, si Wulan datang ke tempat kostku. Seperti biasa, Wulan sudah terbiasa dengan keadaan kamarku yang seperti selesai perang, berantakan sekali, hehehehe. Berhubung dia itu sahabat dari pacarku, jadi kusambut dengan ramah.

Kami bercerita panjang lebar sambil duduk di atas kasur. Seperti seorang sahabat, kami saling bercanda. Suatu ketika, Wulan terdiam termenung. Aku heran, kutanyakan mengapa dia tiba-tiba terdiam seperti bersedih. Wulan dengan perlahan sekali bercerita bahwa jika dia selesai dalam pendidikan perawatnya ini, dia akan dinikahkan oleh seorang yang belum sama sekali dikenalnya. Melihat dia mulai menangis, aku berusaha menghiburnya dan berkata bijaksana. Tetapi malah membuat dia lebih keras menangis.

Perlahan dia berkata, “Tom, sebenarnya saya sayang kamu..”
Wulan tertunduk, “Maafkan saya Tom..” lanjutnya.
Aduh, aku bingung harus menjawab bagaimana. Sementara aku terdiam, Wulan memelukku. Tubuhnya yang harum dan kulitnya yang halus menyengat isi kepalaku. Aku berusaha tetap tenang dan mengingat bahwa dia ini sahabat dari pacarku. Tetapi “Mr Happy”, julukan “adik” kecilku ini (kadang-kadang besar juga sih) tidak mau tahu, menggeliat dan mulai mengeras di dalam celanaku. Apalagi benda empuk di dada Wulan menghimpit tubuhku. Bisa gawat nih, “Mr Happy” on line..! Gelisah dan segera ingin keluar dari sarangnya.Wulan semakin erat memelukku. Kucoba mencium dahinya perlahan. Dia diam saja. Cium pipinya, dia masih diam juga. Kucoba meraih bibirnya yang mungil dan mengulumnya, Wulan membalas perlahan. Wah, habis sudah iman yang kumiliki..! Kulumat bibirnya dengan ganas hingga dia gelagapan dan kewalahan. Ketika bibirku meluncur ke lehernya, Wulan merintih tertahan. Tanganku yang sigapdan terlatih tidak tinggal diam, mulai menyusup dari belakang t-shirt-nya, mengusap punggungnya yang halus dan mencari kaitan BH-nya. Lepas..! Mulai perlahan kuangkat t-shirt biru mudanya hinga terlepas berikut BH-nya, dan terlihatlah buah dadanya yang indah itu. Keadaan putingnya masih ranum sekali.

Setelah puas menjelajah daerah leher dengan diiringi rintihan lembut Wulan, mulutku mulai menelusuri gundukan lembut itu. Wulan melenguh lirih, tangannya mencoba menahan kepalaku, namun dia tidak menolaknya. Berputar diantara lereng buah dadanya, mulai mulutku mendaki mencariputingnya. Bersamaan desahan panjangnya, Wulan meremas rambut kepalaku ketika putingnya terkulum oleh bibirku dan mulai kujilati. Dengan nikmat sekali aku berpindah dari puting yang satu ke puting yang lainnya. Mulai mengeras juga ketika jariku turut mengurut-urutnya.

Perlahan tubuhnya kurebahkan di atas kasur dan tanganku mulai mengusap-usap pahanya yang mulus dan licin ke atas sambil mengangkat rok mininya. Masih dengan mulut di buah dadanya, tanganku telah mencapai pangkal pahanya. Perlahan kucoba merenggangkannya dengan jariku, dan mulai menyusupkan jariku diantara celana dalamnya. Hangat sekali..! Bunyi gemerisik perlahan terdengar ketika jari-jariku menyentuh rambut-rambut lembut di daerah tersebut dan mulai mencari lubang “Miss Pussy” (julukan kemaluannya).

Wulan merintih memelas sekali ketika jariku mengusap-usapnya perlahan dan teratur. Lembab danhangat serta sedikit lekat kurasakan dijariku. Kepalaku menggeser ke arah bawah pusarnya hingga kini berhadapan dengan celana dalamnya. Perlahan kutarik ke bawah dengan sedikit mengangkat pantatnya dan lepas juga. Kurenggangkan pahanya dan kedekatkan kepalaku. Tangan Wulan refleks berusaha menahanku.
“Jangan Tom..!” Wulan berusaha menarik kepalaku, tapi percuma saja sebab lidahku telah menjilati pangkal celah “Miss Pussy”-nya.
Wulan menggeliat-geliat tidak menentu. Namun tangannya tetap memegangi kepalaku yang ada di pangkal pahanya.

Lama-kelamaan, mungkin karena merasa nikmat atau geli atau entah apa, kini malah Wulan sedikit mendesakkan kepalaku di belantara rambut “Miss Pussy”-nya sambil merenggangkan pahanya agak lebar. Jilatanku semakin menjadi-jadi dan rintihan-rintihan Wulan semakin keras. Kini tangannya tidak menahanku lagi, hanya meremas-remas rambut kepalaku saja. Bahkan pinggulnya kini turut bergoyang lembut mengikuti tiap jilatanku pada bibir “Miss Pussy”-nya. Suaranya yang memelas dan tertahan semakin mengeraskan “Mr Happy”-ku, yang dari tadi tidak terurus sama sekali.

Sesaat kulepaskan pakaianku sendiri, “Mr Happy” melompat keluar dengan perkasanya, mengacung dengan urat-uratnya yang dahsyat. Aku merayap diantara tubuh Wulan yang telentang, kuhadapkan “Mr Happy” di wajahnya yang imut. Mata Wulan nanar melihat keperkasaannya. Kutuntuntangannya untuk memegangnya. Matanya terpejam ketika jari lentiknya menggenggam batang leher”Mr Happy”-ku. Kusorongkan perlahan kepala “Mr Happy” pada mulut mungilnya.
“Isap sayang.., coba diisap..!”
Bibir mungilnya terbuka perlahan mencoba mengulum kepala “Mr Happy”. Kewalahan juga Wulan untuk menguasai besarnya kepala “Mr Happy”-ku yang sudah coklat kememerahan itu.
“Isap sekarang..” pintaku lembut.

Dengan mata masih terpejam, Wulan menghisapnya. Setiap hisapannya membuat urat-urat leher kemaluanku itu berdenyut. Kudorong agak dalam batang kemaluanku di dalam mulutnya. Wulan gelagapan hingga air liurnya keluar dan menimbulkan suara berkecipak. Perlahan kumaju-mundurkan batang kemaluanku. Semakin lama semakin dalam. 2/3 dari batang kemaluanku kubenamkan dalam mulut mungilnya.

Lama kubiarkan Wulan menghisap-hisapnya. Pemandangan itu membuatku semakin bergairah saja. Bibirnya yang lembut bergesekan dengan kulit kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Ketika kucabut dari mulutnya, terlihat Wulan mencoba mengambil nafas dengan terengah-engah. Kusambar mulutnya yang mungil dengan mulutku. Agak lama kami saling mengulum, namun perlahan kembali kurenggangkan pahanya yang putih hingga terbuka lebar. Terlihat kembali “Miss Pussy”-nya yang kemerahan diantara kilauan rambut-rambut halusnya.

Kini kuarahkan “Mr Happy” di bibir “Miss Pussy” yang lembab berair. Kudesakkan sedikit hingga kepala “Mr Happy” ditelah habis oleh “Miss Pussy”.
“Sakit ngga Tom..?” tanya Wulan disela rintihannya.
“Sedikit sayang.. hanya sedikit..” jawabku menghibur, sebab konsentrasiku berada pada acara utama yang akan kami lakukan.

Dengan satu dorongan mantap dariku dan diiringi rintihan kenikmatan yang keras, Wulan menerima seluruh panjang “Mr Happy”-ku. Wulan meremas rambut kepalaku dengan keras. Kupeluk tubuhnya yang berkeringat dan kurasakan getaran yang hebat padanya. Kubiarkan beberapa saat “Mr Happy” di dalam lumatan “Miss Pussy”-nya. Denyutan lembut namun kuat sangat terasa olehku pada tiap urat kemaluanku.
“Memang masih perawan si Wulan ini,” pikirku.

Perlahan kutarik batang “Mr Happy”-ku. Gesekan nikmat ini membuat Wulan merintih dengan kepala mendongak ke atas. Giginya mengigit bibirnya sendiri, menahan sesuatu. Kubenamkan kembali batang kemaluanku ke dalam kehangatan kemaluannya. Wulan kembali mengeluarkan desisan menggairahkan. Semakin lama gesekan batang kemaluanku kupercepat, mencoba membuat Wulan semakin histeris dan menggumamkan kata-kata yang tidak jelas terdengar. Suara lengguhan Wulan yang menggairahkan dan dengusan nafas membara dariku, menimbulkan suara berkecipak diantara pangkal paha kami berdua. Gesekan Nikmat disertai hisapan berdenyut “Miss Pussy” milik Wulan yang hangat membuat batang “Mr Happy”-ku menggila. Bibirku yang bernafsu sesekali menghisap puting mungil buah dada Wulan yang menegang.

“Tom.. ach.. aku..” desis Wulan.
Aku sadar dia akan mencapai klimaksnya. Kemaluanku semakin ganas kubenamkan di liang kehangatannya. Dan.., pinggangku terasa bergetar keras, ada sesuatu yang hendak terlontar. Entah bagaimana aku semakin menggila, hingga pinggang Wulan terguncang-guncang hebat.

Dengan buah dada Wulan yang terayun-ayun disetiap desakan kemaluanku pada “Miss Pussy”-nya, Wulan memekik dengan mata setengah terbuka. Nafas kami semakin memburu. Dan akhirnya, Wulan memekik panjang sambil memeluk pinggangku, hingga “Mr Happy” amblas sedalam-dalamnya. Disertai muntahan “Lava” dari mulut “Mr Happy”-ku, kami mengejang beberapa saat hingga akhirnya aku mendarat di atas tubuh Wulan yang puting mungilnya masih mengeras.

Permainan kami sungguh pengalaman yang terindah buat kami berdua. Wulan merasakan kepuasan yang belum pernah dirasakannya seumur hidupnya bersamaku, setelah pemainan itu Wulan berkata kalau dia tidak menyesali perbuatannya dan keperawanannya memang pasrah ingin dia serahkan kepadaku. Tetapi akhirnya pengalaman itu hanya menjadi kenangan bagi kami berdua. Wulan menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya di kotanya, sedangkan cintaku bersama Diah hilang karena perbedaan pandangan hidup. Hingga kini aku masih sendiri. Ditelan kesibukan dengan bisnis komputerku yang semakin lama semakin menyita waktuku.

TAMAT

Komentar Anda

comments