agen sbobet poker online
agen togel togel online
agen togel togel online
pasang iklan pasang iklan
Home » Cerita Sex » Cerita Dewasa Umum » Suntuk Sekali 2

Suntuk Sekali 2

Cerita Dewasa – Dari bagian 1

“Mau ngapain lu,”

Kupikir marah nggak tahunya serentak mereka mendekatkan diri dan memasukkan lengan masing-masing ke lenganku. Anak-anak gaul sejati. Mereka sudah membelitkan diri. Nah, tetek-tetek mereka sudah mulai langsung kontak dengan diriku. Yang terasa emang punya Ruly, lebih gede sih. Kepala mereka disandarkan di pundakku. Aku meregangkan tanganku ke arah paha-paha mereka. Di samping lengkanku dapat menekan-nekan penuh tetek-tetek mereka, aku mencoba lebih intim lagi. Kuusap-usap pelan lalu kubiarkan parkir dulu di sana.

“Hmm, mulai nafsu nih ye,” cekikikan mereka berdua.
Kutoleh ke kiri, Ruly, “Excuse me, your lips”.
Kukecup bibir Ruly. Lalu ke kanan, “Please.” Kukecup juga bibir Winnie.

Kulepas belitan lengan kemudian aku merengkuh melalui belakang punggung mereka. Maksudku agar aku dapat menjamah tetek mereka. Kalau dalam posisi tadi sulit sekali, posisi lenganku di depan tubuh mereka.

Film bagiku sudah menjadi nomor sekian. Aku sedang berkonsentrasi dan menyibukkan diri meraba. Kuusap pelan mulai dari perut. Arah hidung mereka tidak lagi ke depan, lebih dekat ke leherku. Secara perlahan hembusannya semakin dalam dan kuat.

“Ehhm..”.

Kuputari pinggiran tetek mereka dengan telapak tanganku dengan usapan-sapan, ujung jari telunjukku kusentuhkan ke puting. Tidak menekan, hanya menyentuh.

“Ehhm.. Ooh…” lenguhan-lenguhan tipis dan hembusan udara dari hidung mereka menerpa leherku semakin kencang. Kontolku semakin tegang. Sejak masuk ke ruangan sebenarnya sudah, saat ini semakin kencang. Lebih-lebih tangan-tangan mungil mereka mulai mencari-cari selangkanganku, persis di bawah kontol, lalu mengurut masing-masing kanan dan kiri. Ini sebenarnya lebih nikmat sebagai pembukaan ketimbang langsung pegang kontol. Lebih-lebih ketika menyentuh persis di pangkal batang di antara dua bola bakso itu. Wuuihh. Ampun deh. Nampaknya mereka ahli sekali. Jangan-jangan mereka eks tukang pijat, atau nyambil. Hihi.

Setelah agak lama aku mengusap-usap kaum tetek itu, kutingkatkan dengan meremas. Kusorong dari bawah ke atas. Pelan tapi kuat.

“Ohh.. Oohh.. Mas…” berselingan di telinga kanan-kiriku lenguhan-lenguhan yang agak keras suaranya. Aku sadar, lalu kutengok ke sekitar. Untunglah sepi, dan yang ada duduknya berjauhan. Barangkali mereka sedang beradegan sendiri juga. Kalau penontonnya pada begini mending mereka nyewain tempat aja, film nggak usah diputar, asal dikasih suara audio kenceng-kenceng dan lampu dimatikan. Hehehe. Kulanjutkan ya pemirsa.

Rupanya si Winnie sedang mencoba membuka resleting, kubantu mengangkat pantat. Jeans memang sulit dibuka resletingnya. Aku nanti nggak mau kalah juga ah, tapi sementara ini aku masih menikmati aktivitas meremas.

Kutoleh ke kanan, kupagut mulut Winnie. Lidah kami beradu seperti bergulat di dalam mulut dan saling memilin. Berkecap-kecap enak rasanya. Kugilir Ruly kemudian. Dia sudah menengadah siap dilumat. Dengan rakusnya kuhisap dan kutelan bibirnya secara penuh sementara lidahku menjulur ke dalam mencari lidahnya. Diadu dengan sekuat-kuatnya lidah-lidah kami.

Sementara itu Winnie sudah berhasil melolosi burungku dari sangkarnya. Kepalanya turun, dielus terlebih dahulu si my little brother. Lalu mulai dijilati dengan lembut. Ketika dia menunduk tanganku menyusup di balik kaosnya lalu menyusup di dalam kutangnya. Sekarang teteknya telah kujamah secara langsung. Lembut sekali kulitnya. Lumayan sudah keras, kucari putingnya lalu kusentuhi dengan ujung telunjuk jari. Semakin cepat kegiatan Winnie dalam menjilat akibat rangsangan di putingnya. Tangan kiriku tak kalah nggragasnya sudah

Meremasi tetek Ruly langsung di dalam kutangnya. Lidah kami masih beradu dan bertempur. Saking nafsunya aku lupa mengambil nafas sampai tersedak. Kuhisap oksigen sebanyak-banyaknya lalu mulai kuserbu lagi Ruly, kali ini leher dan belakang telinganya. Dia mengelinjang liar. Badannya tertegak-tegak, karena posisinya jadi lebih lurus menjadi terbuka kesempatan bagi tanganku untuk masuk ke dalam celananya. Kutelusuri sampai menemukan gundukan. Kuusap. Semakin liar goyangan kepala Ruly, desahannya sudah mulai tak terkendali. Biarlah, suara sound system sangat kencang, mungkin bisa melindungi erangan-erangan kami.

“Ahh.. Esshh.. Oohhss,” terjepit tanganku oleh selangkangan Ruly.

Horni berat nampaknya dia. Kucoba lepaskan dan mulai menyusup ke dalam CD-nya. Jembutnya tebal sekali dan kaku. Kubekap sejenap gundukan itu, gemas aku. Kuremas-remas.

“Masshh.. Ouugh.. Ahhg.. Shh…” dibantu tanganku meremasi gundukannya oleh tangannya dari luar celana.

Jari tengah tanganku tepat berada di belahan veginya. Kuperosokkan untuk mencari itilnya, telah basah sekali suasana internalnya. Ketemu. Kutekan-tekan.

“Aadduuhh.. Masshh.. Ahhgg.. Teruusshh.. Teruusshh…”

Semakin mengejang-ngejang Rulyku. Semakin cepat lalu menegang sampai tanganku terjepit kuat oleh selangkangannya.

“Ahh.. Masshh.. Uudaahh.. Keelluuaarrh.”

Gantian tangan kananku menyusup ke dalam celana Winnie. Dia masih asik mengenyot rudalku yang sudah mulai menetes-menetes.

Kutahan-tahan biar tidak jebol dengan mencoba memperhatikan film. Jembut Winnie tidak setebal Ruly dan lebih halus. Kubekap-bekap, lalu kucari itilnya dengan jari tengah. Banjirnya lebih banyak dari Ruly, tiba-tiba dia menghengtikan kenyotannya akibat tidak kuat menanggung deraan kenikmatan luar biasa atas itilnya yang mulai kutekan dan kujawil-jawil.

“Iigghh.. Eaarrgghh.. Uuhh.. Ehhmm…” erangannya nyaris membikinku menghentikan aksi jariku saking lumayan keras suaranya.
“Teruusshh.. Oohh.. Terrusshh.. Ennakkss.. Sshh.. Sekkallii.. Oohhs.. Shh,” kupercepat genjotan jariku atas itilnya. Nggak mengerang lagi Winnie kecuali hanya menggeleng-nggelengkan kepalanya kanan-kiri dengan liarnya dan meremas erat kontolku. Cairan kewanitaannya semakin luber bersamaan kedutan veginya yang semakin cepat.

“Aagghh…” lalu dia lemas akibat telah mencapai orgasme.

Aku belum keluar. Aku punya agenda berikutnya sehingga aku tahan-tahan. Aku sudah merencanakan akan melanjutkannya dengan Si Bulu Kucing. Aku akan melakukan habis-habisan dengannya. Dia mau ke hotel, berarti siap untuk saling melahap.

Film selesai jam 10 kurang, lampu ruang mulai terang benderang. Untung kami sudah merapikan pakaian agak yang berantakan. Kutawarkan mengantar pulang pada mereka, basa-basi tentu saja sementara kuharap ditolak. Soalnya aku lelaki yang sedang memiliki agenda. He… he…

“Thanks, kami bawa mobil kok.”

Terus kami berpisah setelah saling bertukar no HP.

[Sudah Sampai]

Aku buru-buru memacu mobilku menuju hotel M di daerah M takut Si Bulu Kucing sudah menunggu. Aku tadi nggak berani menawarkan berangkat bareng, siapa tahu kedua bidadari tadi minta diantar. Jadi begitulah skenario yang dapat terpikir olehku saat itu.

Sudah sampai hotel yang kujanjikan tadi. Kumasuki pelataran hotel, nampak tidak terlalu ramai. Aku langsung menuju lobi, ku-SMS terlebih dahulu Si Bulu Kucing sebelum memesan kamar untuk memastikan bahwa dia jadi mau ketemu.

“Jadi ketemuan?” tulisku singkat.
“Lagi nyari taksi, Om. Sabar ya hehe.,” sial sudah dipanggilnya aku Om. Memang sih sudah Om-Om, angka 36 pantaslah menggolongkan diriku ke dalam grup Om-Om. Karena sudah deal mau ketemu aku menuju resepsionis booking kamar. Kupesan kamar standar saja, yang smoking room.

Aku masih belum bisa berhenti merokok meskipun sudah diancam pacarku. Aku bilang sudah berusaha, tapi kalau gagal ya terserah mau diambil keputusan apa saja kataku. Yang penting tidak melukainya. Aku paling pilu kalau melihat wanita dilanda perasaan tak berdaya.

Entah kenapa sudah lama aku kehilangan hasrat bercumbu dengan pacarku. Sensasinya sudah hilang lama. Apakah semua ini karena kejadian setahun yang lalu, ketika dia ‘dikerjai’ orang. Padahal sudah berkali-kali kubilang, sebagai makhluk lemah harus antisipatif.

Antisipasi, hanya itu senjatanya bila kita tidak memiliki kekuatan. Hindari keadaan, tempat, atau waktu yang dapat membahayakan keselamatan ataupun kehormatan. Entah karena terlalu polos, entah terlalu berlebihan menganggap baik semua orang, entah karena menyepelekan himbauanku bahwa dipikirnya kejadian yang begitu nggak bakalan terjadi pada dirinya, lalu akhirnya terjadi juga.

Aku rajin menghimbau begitu mungkin pada dasarnya secara bawah sadar aku enggak mau menerima ‘korban’ orang lain. Ada semacam perasaan terhina bahwa aku hanyalah sebagai tempat pembuangan akhir para berandal-berandal itu. Enak di mereka dong. Mending yang ngerjain pacarku melebihi aku, eh ini malah berandal kampung yang enggak jelas KTP-nya. Ini sebenarnya yang pinter penjahatnya atau yang bodoh pacarku. Masak sama berandal udik begitu bisa dikerjain.

Tapi bagaimanapun aku amat sangat tidak prihatin sekali, jadi aku melanjutkan hubungan sebagaimana biasa. Rasa kasihanku tidak terperi sebenarnya, hanya pada saat yang sama secara bawah sadar egoku sulit menerimanya.

Hingga akhirnya aku kehilangan hasrat mencumbunya seperti sedia kala. Sudah terbang ke angkasa nafsuku. Pacarku merasakan perubahan ini, lalu sempat minta putus. Aku tidak mengiyakan atau menolaknya. Aku semacam lelaki yang terbengong di titik persimpangan. Rasa cedera dan prihatin sama kuatnya saling tarik-menarik. Energiku terkuras luar biasa karena jiwaku selalu berputat-putar tidak tahu akan menuju ke mana hubungan ini pada akhirnya. Pada saat itulah aku mulai merasakan gairah terhadap cewek-cewek di bawah strataku yang dulu di luar jangkauan radarku, misal si Penjaga Loket ini.

Aku sering mambayangkan menyetubuhi mereka. Mereka sekarang lebih mampu membangkitkan gairahku. Sudah campur aduk kali antara gairah seksual dengan gairah memainkan kekuasaan. Seolah-olah mereka lemah di hadapanku. Mungkin raja-raja dulu mengkoleksi banyak wanita lebih untuk alasan kekuasaan, lebih menikmati ketakberdayaan wanita di bawah kekuasaannya ketimbang murni urusan seksualitas. Tapi memang keduanya suka bercampur padu dan sulit dikenali mana yang lebih berperan.

“Hai dah lama ya Om, hehe,”

Bulu Kucing mengagetkanku. Om? Waduh aku sudah setara Om-Om. Memang sih, bilangan 37 menyudutkanku ke kategori Om-Om. Lantas aku bangkit dari sofa lobi menuju pintu lift bersama. Kamarku di lantai 7, bernomor 717.

Kami cepat intim. Tanpa canggung dia menggelayut ke lenganku. Lift sepi, hanya kami berdua. Kutekan tombol 7. Pintu menutup. Kupeluk dia dari belakang sambil menelangkupkan tanganku di depan perutnya. Kepalanya menyender ke belakang sehingga tercium bau rambutnya yang tebal dan ikal. Lumayan wangi, gairahku mulai merayap.

Untuk menuju lantai 7 memberikan waktu cukup bagi kami untuk bercumbu. Asik juga juga bercumbu di ruang publik begini. Dia menolehkan kepalanya, kucium pipinya lalu kugeserkan ke arah bibirnya dari pinggiran kanan. Aku ingin menyentuhkan bibirku ke kumis tipisnya. Tanganku mulai merembet ke arah buah dadanya. Dia pakai kaos putih diselimuti jas hijau seragamnya.

Kancing jas tidak dipasangkan, sehingga toketnya yang lumayan super tegak menantang-nantang. Kuremasi. Pantatnya kutekan kuat dengan burungku yang sudah mulai mengeras.

Kepalanya menggeliat-geliat sambil matanya terpejam. Kusapu bibirnya, dia memutarkan kepalanya ke belakang sambil menengadah merekah, bibirku dapat mencapai bibirnya secara penuh kini. Kami berpagut. Lidah saling menyentuh dengan pertukaran hembusan nafas dari hidung yang semakin bertekanan.

“Thing thong,” pintu lift terbuka.

Kami melepaskan pelukan karena di depan pintu berdiri dua orang. Kami belok ke kanan setelah membaca petunjuk nomor kamar di tembok depan pintu lift. Sambil jalan kurangkul pinggangnya. Kubuka pintu kamar dengan menggesekkan kunci kamar berupa kartu berlobang.

Ke bagian 3

Komentar Anda

comments